Berita

Ilustrasi (Foot: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Wall Street Variatif: S&P 500 Turun - Dow Jones Menguat

RABU, 15 OKTOBER 2025 | 08:52 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Bursa saham Amerika Serikat (AS) berakhir variative usai laporan kinerja kuartalan dari sejumlah bank kakap. 

Dikutip dari Reuters, indeks berbasis luas S&P 500 melemah 0,16 persen atau 10,41 poin ke posisi 6.644,31 pada penutupan perdagangan Selasa 14 Oktober 2025 waktu setempat. Nasdaq Composite Index juga turun 0,76 persen atau 172,90 poin menjadi 22.521,70.  Dow Jones Industrial Average justru menguat 0,44 persen atau 202,88 poin ke level 46.270,46. 

Pergerakan indeks S&P 500 berbalik melemah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington sedang mempertimbangkan untuk memutus sebagian hubungan dagang dengan China, termasuk perdagangan minyak goreng.


Dari 11 sektor utama S&P 500, sepuluh di antaranya mencatatkan kenaikan, dipimpin sektor kebutuhan pokok yang melejit 1,72 persen, disusul industri yang melonjak 1,17 persen.

Saham Wells Fargo melambung 7,15 perseb, mencatatkan kenaikan harian terbesar sejak November 2024.  Saham Walmart melonjak 5 persen setelah mengumumkan kerja sama dengan OpenAI untuk memungkinkan pelanggan dan anggota Sam's Club berbelanja langsung melalui platform ChatGPT. Hal menyedihkan dialami Nvidia yang sahamnya anjlok hingga 4,41 persen. 

Sementara itu, Chairman Fed Jerome Powell menyampaikan bahwa pasar tenaga kerja Amerika masih stagnan dengan tingkat perekrutan dan pemutusan kerja yang rendah sepanjang September. Namun, dia menambahkan bahwa ekonomi AS mungkin berada pada lintasan yang lebih kuat dari perkiraan sebelumnya.

Volume transaksi di bursa Wall Street mencapai 20,1 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20,2 miliar saham dalam 20 sesi terakhir.

Dana Moneter Internasional (IMF) sedikit merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2025, seiring kondisi keuangan global yang lebih stabil dan dampak tarif yang lebih ringan dari perkiraan. Namun, IMF memperingatkan bahwa kebangkitan kembali perang dagang AS-China dapat menekan laju pertumbuhan secara signifikan.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya