Berita

Ilustrasi (Foto: RMOL/Reni Eia)

Bisnis

Pasar Eropa Longsor Tertekan Saham Michelin

RABU, 15 OKTOBER 2025 | 08:22 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar saham Eropa berakhir di garis merah karena penurunan tajam saham Michelin. Pedagang juga terus mencermati perkembangan politik di Prancis yang tengah dilanda krisis pemerintahan.

Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu menawarkan untuk menunda reformasi pensiun besar-besaran hingga setelah pemilihan presiden 2027, setelah menghadapi tekanan dari kelompok kiri di parlemen. Langkah ini dinilai sebagai upaya mempertahankan stabilitas politik di tengah krisis pemerintahan minoritas dan defisit fiskal yang membelit negara tersebut. 

Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun menyentuh level terendah dalam lebih dari sebulan, mencerminkan meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian politik.


Dikutip dari Reuters, indeks pan-Eropa STOXX 600 melemah 0,37 persen atau 2,09 poin menjadi 564,54, pada penutupan perdagangan Selasa 14 Oktober 2025 waktu setempat. Bursa regional utama juga berguguran. Indeks DAX Jerman melemah 0,62 persen atau 150,99 poin menjadi 24.236,94. CAC 40 Prancis memangkas penurunan dan ditutup menyusut 0,18 persen atau 14,64 poin ke posisi 7.919,62.  FTSE 100 Inggris naik tipis 0,10 persen atau 9,90 poin menjadi 9.452,77.

Saham penambang yang sensitif terhadap ekonomi turun 1,6 persen, sementara indeks sektor otomotif anjlok 2,5 persen dipimpin kejatuhan Michelin sebesar 8,9 persen setelah memangkas proyeksi kinerja setahun penuh. Saham Continental juga anjlok 4,3 persen. Saham Pirelli juga merugi, turun 1,2 persen.

Saham Ericsson justru melejit 18 persen setelah melaporkan kenaikan laba kuartalan di atas perkiraan dan menepis kekhawatiran dampak tarif Amerika. Saham Siemens turun 3,1 persen setelah Morgan Stanley menurunkan rekomendasi dari "overweight" menjadi "equal-weight".

Sementara itu, easyJet meroket 8% di bursa London setelah laporan media Italia menyebut adanya minat akuisisi dari Mediterranean Shipping Company, meski pihak MSC membantah rumor tersebut.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

AS Gempur ISIS di Suriah

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14

Aksi Kemanusiaan PDIP di Sumatera Turunkan Tim Kesehatan Hingga Ambulans

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10

Statistik Kebahagiaan di Jiwa yang Rapuh

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52

AS Perintahkan Warganya Segera Tinggalkan Venezuela

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01

Iran Ancam Balas Serangan AS di Tengah Gelombang Protes

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37

Turki Siap Dukung Proyek 3 Juta Rumah dan Pengembangan IKN

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53

Rakernas PDIP Harus Berhitung Ancaman Baru di Jawa Tengah

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22

Rossan Roeslani dan Ferry Juliantono Terpilih Jadi Pimpinan MES

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15

Pertamina Pasok BBM dan LPG Gratis untuk Bantu Korban Banjir Sumatera

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50

Pesan Megawati untuk Gen Z Tekankan Jaga Alam

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39

Selengkapnya