Berita

Arief Poyuono. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Publika

Injeksi Rp200 Triliun Langkah Berani

SENIN, 13 OKTOBER 2025 | 04:36 WIB | OLEH: ARIEF POYUONO

SEBAGAI orang yang selalu mengikuti dinamika ekonomi nasional, saya melihat kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyuntikkan dana sebesar Rp200 triliun ke perbankan Himpunan Bank-Bank Milik Negara alias Himbara sebagai sebuah inisiatif berani yang patut diapresiasi. 

Langkah ini, yang pada dasarnya bertujuan untuk memperbesar jumlah uang beredar di pasar, bisa menjadi katalisator utama bagi pemulihan ekonomi kita yang masih rapuh pasca-pandemi. 

Bayangkan saja: dengan likuiditas yang lebih melimpah, suku bunga diprediksi akan merosot, membuka pintu lebar bagi konsumen untuk meminjam dana guna membeli rumah impian atau mobil keluarga, sekaligus memudahkan pelaku usaha mengakses kredit untuk meluncurkan proyek-proyek inovatif. 


Akibatnya, roda konsumsi masyarakat akan berputar lebih kencang, sementara bisnis-bisnis kita semakin termotivasi untuk berinvestasi, yang pada gilirannya mendorong permintaan barang dan jasa melonjak tinggi.

Dari situ, efek domino yang positif akan mengalir deras dan sektor bisnis yang melihat lonjakan permintaan tak akan tinggal diam; mereka akan memperluas produksi, menimbun bahan baku lebih banyak, dan yang terpenting, membuka lowongan pekerjaan baru untuk menyerap tenaga kerja yang selama ini menganggur.

Ini bukan sekadar teori; ini adalah resep klasik untuk pertumbuhan ekonomi yang holistik, di mana Produk Domestik Bruto (PDB) kita bisa kembali melambung, menciptakan lingkaran keutamaan yang memberi manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. 

Saya yakin, jika dikelola dengan baik, kebijakan moneter seperti ini bisa menjadi tonggak sejarah bagi pemerintahan saat ini dalam membangun fondasi kemakmuran jangka panjang.

Namun, seperti pisau bermata dua, euforia ini tak boleh membuat kita lalai terhadap bayang-bayang risikonya. Yang paling mengkhawatirkan adalah potensi inflasi yang membengkak, di mana uang beredar yang bertambah cepat melebihi kemampuan ekonomi kita untuk menghasilkan barang dan jasa secara proporsional, sehingga harga-harga merangkak naik tanpa kendali. 

Inflasi bukan musuh yang asing; ia akan menggerus daya beli rakyat kita, membuat setiap rupiah yang kita pegang terasa semakin ringkih, di mana belanja bulanan untuk kebutuhan pokok pun jadi beban berat. 

Lebih dari itu, tanpa pengawasan ketat, peningkatan likuiditas ini berisiko memicu gejolak ekonomi yang tak terduga -- bukan pertumbuhan stabil, melainkan fluktuasi liar yang bisa menjerumuskan kita ke jurang resesi baru. Pengalaman global, dari krisis 2008 hingga gejolak pasca-stimulus pandemi, mengajarkan kita bahwa kebijakan ekspansif tanpa rem bisa berujung bencana.

Karena itu, menurut saya, keberhasilan injeksi dana ini bergantung pada sinergi llyang kuat antara kebijakan moneter dan pemerintah tak boleh hanya mengandalkan Bank Indonesia; ia harus turun tangan langsung dengan mendorong investasi di sektor-sektor krusial seperti infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan, yang tak hanya menciptakan lapangan kerja instan tapi juga memperkuat daya saing jangka panjang.

Saya merekomendasikan pemotongan pajak yang strategis baik untuk individu agar pendapatan disposable mereka melonjak dan konsumsi pun ikut naik, maupun untuk perusahaan agar laba bersih mereka bisa dialokasikan ke investasi modal, riset, dan pengembangan. Saat resesi mengintai, defisit anggaran yang terkendali justru bisa menjadi senjata ampuh untuk merangsang aktivitas ekonomi, asal dikelola dengan transparan.

Lebih lanjut, efisiensi belanja negara harus menjadi prioritas utama; proyek-proyek raksasa seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan infrastruktur nasional perlu diawasi ketat agar setiap rupiah benar-benar menghasilkan multiplier effect yang maksimal. 

Saya juga percaya bahwa pemberdayaan rakyat melalui Pendidikan -- mulai dari sekolah rakyat hingga program vokasi yang inklusif -- adalah kunci untuk memastikan pertumbuhan ini merata, bukan hanya menguntungkan segelintir elite. 

Bayangkan jika setiap pemuda kita dilatih keterampilan yang relevan; itu akan mengubah wajah ketenagakerjaan kita. Dan jangan lupakan peran sektor swasta: kolaborasi pemerintah-swasta dalam proyek strategis bisa mempercepat realisasi ide-ide brilian.

Yang lebih memberi harapan terhadap pertumbuhan ekonomi dengan adanya  Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta sudah dilakukan dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang  meluncurkan surat utang bernama Patriot Bond.

Di mana hasil dana dari obligasi tersebut akan diinvestasikan untuk sektor energi, transisi, dan lainnya yang merupakan bagian dari kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto dan surat utang itu diterbitkan untuk memperkuat kemandirian pembiayaan nasional yang tidak lagi bertumpu pada utang G to G atau pada IMF dan lainnya. Hal ini agar mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional hingga mencapai target pemerintahan Prabowo.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

Perempuan Tani HKTI Terapkan Teknologi IoT, Pangkas Penggunaan Pupuk hingga 50 Persen

Minggu, 01 November 2026 | 12:32

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

PTKIN Siapkan Langkah agar Inovasi Mahasiswa Tak Berhenti di Ajang Lomba

Minggu, 01 November 2026 | 11:56

Kloter Pertama Haji 2027 Terbang 11 April, Ini Jadwal Lengkapnya

Minggu, 01 November 2026 | 11:50

Imigrasi Sudah Cegah Ahmad Dedi ke Luar Negeri Atas Permintaan KPK

Minggu, 01 November 2026 | 11:36

Puluhan Orang Diamankan Polisi saat Gerebek Kampung Bahari

Minggu, 01 November 2026 | 11:30

Maroko Sambut Keputusan PBB Akhiri Misi MINURSO di Sahara Barat

Minggu, 01 November 2026 | 11:17

Citra Polri Bisa Rusak Akibat Dua Kejadian Ini

Minggu, 01 November 2026 | 11:05

Ombudsman Ingatkan Polri Jaga Etika dan Hormati HAM saat Penggeledahan

Minggu, 01 November 2026 | 10:48

PPK Ajak Masyarakat Berperan bersama Presiden Prabowo Wujudkan Kedaulatan

Minggu, 01 November 2026 | 10:42

Selengkapnya