Berita

Ilustrasi (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Wall Street Berakhir Merah Usai Trump Serang China dengan Tarif Baru

SABTU, 11 OKTOBER 2025 | 09:20 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street merosot tajam setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan konflik perdagangannya dengan China, menyusul langkah Beijing yang memperketat pembatasan ekspor logam tanah jarang.

Menjelang akhir perdagangan resmi Wall Street pada Jumat  10 Oktober 2025 waktu setempat. , Trump mengumumkan bahwa ia akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 100 persen terhadap impor dari China, serta memberlakukan pengendalian ekspor untuk perangkat lunak penting buatan AS. 

Sejauh ini, China memproduksi lebih dari 90 persen logam tanah jarang dan magnet logam tanah jarang dunia, yang penting bagi berbagai produk mulai dari kendaraan listrik dan mesin pesawat hingga radar militer.


Pengumuman tersebut langsung mengguncang saham-saham teknologi besar. Saham Nvidia, misalnya, turun lebih dari 2 persen setelah jam perdagangan berakhir. Begitu juga dengan saham Tesla, Amazon, dan Advanced Micro Devices. 

Dow Jones Industrial Average ditutup turun 878,82 poin atau 1,90 persen menjadi 45.479. Indeks S&P 500 kehilangan 182,60 poin atau 2,71 persen menjadi 6.552. Nasdaq Composite merosot 820,20 poin atau 3,56 persen menjadi 22.204.

Indeks sektor Semikonduktor Philadelphia merosot 6,3 persen setelah pengumuman Trump. 

Saham perusahaan China yang terdaftar di AS langsung anjlok tajam, dengan Alibaba Group Holding, JD.com Inc, dan PDD Holdings masing-masing turun antara 5,3 persen hingga 8,5 persen. 

Saham Qualcomm juga merosot 7,3 persen setelah otoritas pasar China menyatakan bahwa negara tersebut telah membuka penyelidikan antimonopoli terhadap akuisisi perusahaan semikonduktor Israel, Autotalks, oleh Qualcomm.

Jumlah saham yang turun melampaui saham yang naik dengan rasio 4,36 banding 1 di Bursa Efek New York ( NYSE ). Terdapat 215 saham mencetak harga tertinggi baru dan 167 saham mencapai level terendah baru di NYSE.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya