Berita

Moh Hasan. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Publika

Ketika Madura Jadi Hama, Akal Sehat Jadi Langka

KAMIS, 09 OKTOBER 2025 | 15:38 WIB

BEBERAPA hari terakhir, jagat maya seperti dapur gosip yang sedang mendidih. Gara-gara konflik dua warga di Malang, antara Yai Mim dan Sahara. Tapi, mendadak suku Madura ikut diseret, ditarik, lalu ditendang ke jurang stereotip.

Lucunya, yang bertengkar cuma dua orang, tapi yang dihukum seluruh satu pulau: Madura.

Logika macam apa ini? Mungkin hanya logika makhluk hidup yang saat penciptaan dahulu tak kebagian jatah otak dan hati, sehingga tak punya kemampuan empati dan prasangka baik.


Belakangan, muncul slogan satire yang keren: “Kalau mau hidup bahagia, hindari bertetangga dengan klan M.”

Huruf ‘M’ di sini bukan “Malaikat”, tapi merujuk pada plat nomor kendaraan Madura.

Wah, luar biasa! Ternyata untuk menjadi bangsa bijak di negeri ini cukup dengan membaca plat nomor. Tak perlu baca sejarah, tak perlu kenal orangnya, cukup lihat huruf M, selesai!

Tapi lucunya, ketika koruptor tertangkap, tidak ada seekor makhluk yang bilang: “Kalau mau hidup bahagia, hindari bertetangga dengan klan si anu.”

Cara pandang yang juling, seringkali menimbulkan penilaian yang absurd. Lho, kok bisa? Karena rupanya, menurut mereka (makhluk yang masih berproses sebagai manusia), mengatakan setiap perbuatan jahat dari Madura disebut “budaya”, namun yang kejahat dari suku lain disebut “oknum”.

Seorang konten kreator asal Madura, Afta Nasarulloh, sudah menampar kesadaran publik lewat videonya. Ia membaca komentar-komentar yang menyebut Madura sebagai hama, perusuh, suka menyerobot tanah, dan pemarah.

Bayangkan, hama!

Faktanya, sejarah berkata lain. Suku Madura itu keras kepala. Iya memang. Tapi keras kepala untuk bertahan hidup. Ketika tanah tandus, mereka merantau. Ketika dihina, mereka bekerja.

Ketika dikatakan “hama”, mereka malah buka Warung Madura 24 jam, bisa saja tempat para penghina belanja tengah malam dengan muka ngantuk. Ironis, bukan? Dihina di siang hari, tapi diberi rezeki sekaligus menjadi penolong kebutuhan di malam hari bagi orang yang sama.

Prasangka etnis adalah kebodohan yang diwariskan turun-temurun, dan setiap kali viral, kita wariskan lagi lewat comment section.

Tak heran kalau Indonesia makin banyak warganet, tapi makin sedikit warga negara. Warganet suka menghakimi, sedangkan warga negara mau mengerti dan menerima falasafah "Bhineka Tunggal Ika."

Di bagian masyarakat mana pun sama-sama punya “oknum” di suku masing-masing. Tapi tidak semua oknum bisa dijadikan cermin untuk menilai seluruh masyarakat.

Apabila orang-orang mulai menormalisasi cara pandang "satu berarti semua," bisa saja Jawa harus disangka koruptor, setiap orang Batak pemarah, setiap orang Bugis perompak, setiap orang Sunda licin, setiap orang Betawi cerewet. Kalau logika itu diadopsi, maka selesai sudah republik ini jadi katalog prasangka, bukan persaudaraan.

Jadi, untuk orang-orang yang mengatakan “Madura itu hama,” perlu diakui juga dengan jujur dan adil. Berapa banyak makhluk manusia yang sudah terbantu dengan keberadaan “hama” itu, tertolong dari kelaparan tengah malam, karena hanya Warung Madura yang mau buka saat warung lain sudah tutup.

Ada oknum dari makhluk manusia membuat kalimat satire seperti ini, “hindari klan M agar hidup bahagia." Sekadar untuk diketahui, huruf M itu juga ada di kata “Manusia”. Jadi, jka ada seseorang menghindari atau bahkan menghapus M, yang tersisa cuma “anusia”, dan itu memang cocok untuk makhluk yang kehilangan rasa.

Penting untuk disadari, Indonesia tidak akan bubar karena perbedaan suku, tapi akan hancur karena kehilangan logika dan empati. Kalau ada sekelompok orang masih menilai manusia dari plat nomor, alamat, atau logat, itu berarti mereka sedang memarkir akal sehat di tempat yang salah.

Moh Hasan
Reporter RMOLJatim

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Tips Aman Belanja Online Ramadan 2026 Bebas Penipuan

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:40

Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:29

Safari Ramadan Nasdem Perkuat Silaturahmi dan Bangun Optimisme Bangsa

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:23

Tips Mudik Mobil Jarak Jauh: Strategi Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:16

Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:33

Pernyataan Jokowi soal Revisi UU KPK Dinilai Problematis

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:26

Tata Kelola Konpres Harus Profesional agar Tak Timbulkan Tafsir Liar

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:11

Bukan Gibran, Parpol Berlomba Bidik Kursi Cawapres Prabowo di 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:32

Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:21

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:04

Selengkapnya