Berita

Presiden Prabowo Subianti di Smelter PT. Tinindo Internusa, Kecamatan Bukitintan, Kota Pangkal Pinang, Senin, 6 Oktober 2025 (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Politik

Jangan Ganggu Jika Tak Bisa Dukung Prabowo Lawan Korupsi

SENIN, 06 OKTOBER 2025 | 17:55 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Presiden Prabowo Subianto dinilai tengah memimpin perang besar melawan korupsi dan penjarahan sumber daya alam bangsa. 

Pandangan itu disampaikan Ketua Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, menyusul langkah tegas Prabowo menyita enam smelter ilegal di kawasan tambang PT Timah Tbk, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

Menurut Budiman, tindakan Presiden turun langsung ke lapangan meninjau penyitaan smelter merupakan sinyal kuat bahwa negara tidak lagi mentolerir praktik korupsi di sektor pertambangan.


“Presiden Prabowo sedang mengajak kita ‘berperang’. Perang melawan korupsi dengan terjun langsung ke lapangan. Enam smelter ilegal yang sudah merugikan negara sekitar Rp300 triliun disita,” tegas Budiman lewat akun X miliknya, Senin, 6 Oktober 2025.

Presiden Prabowo menyoroti besarnya potensi kerugian negara akibat tambang ilegal di kawasan PT Timah Tbk. Dalam peninjauan di Smelter PT Tinindo Internusa, Bangka Belitung, Prabowo menyebut nilai kerugian negara akibat praktik tersebut mencapai Rp300 triliun.

“Kita bisa bayangkan kerugian negara dari enam perusahaan ini saja, kerugian negara total potensi bisa mencapai Rp300 triliun. Kerugian negara sudah berjalan Rp300 triliun. Ini kita hentikan,” ujar Prabowo.

Selain itu, Prabowo juga mengungkap penemuan sekitar 4.000 ton monasit, salah satu jenis tanah jarang bernilai tinggi, di enam smelter hasil sitaan. Temuan ini menunjukkan potensi luar biasa yang selama ini justru dinikmati para pelaku tambang ilegal.

Bagi Budiman, langkah Presiden tersebut bukan sekadar penegakan hukum, melainkan upaya membangun kedaulatan ekonomi nasional dari sektor yang selama ini menjadi sumber kebocoran besar.

Budiman menegaskan, perang melawan korupsi tidak cukup dilakukan dari balik meja atau sekadar wacana. Ia menilai, tindakan Presiden Prabowo yang memilih terjun langsung ke lapangan adalah bentuk kepemimpinan yang tegas dan patut diteladani.

“Dukung jika bisa, jangan ganggu jika tidak bisa dukung,” tandas Budiman.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya