Berita

Cover buku 'Sang Nakhoda: Ketika Aku Mimpi Menjadi Presiden’. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Resensi

Mimpi Sang Nakhoda Wujudkan Kejayaan Maritim

SENIN, 06 OKTOBER 2025 | 01:45 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

CITA-cita Indonesia sebagai negara maritim tak pernah habis dimakan waktu. Ratusan artikel dan jurnal sudah dihasilkan oleh para pemikir maritim Indonesia. Mimpi mulia yang terus berkelanjutan dari era Ir. Djuanda Kartawidjaja ini terus menggelinding di silih berganti pemerintahan.

Sosok presiden sebagai pimpinan tertinggi di negara dianggap penting dalam membawa hidup dan berkembangnya cita-cita ini. Harapan dan euforia sempat membumbung tinggi di era pemerintahan Joko Widodo dengan visi poros maritim dunia. Namun perjalanan selama 10 tahun membuat para pejuang maritim di negeri ini gigit jari.

Di era pemerintahan Prabowo Subianto saat ini porsi maritim makin mengecil, kendati masih tertuang dalam Asta Cita terkait ekonomi biru, harapan menjadi negara maritim harus tetap menyala.


Terkait itu, Sang Nakhoda (nama samaran) mengeluarkan uneg-unegnya dalam sebuah buku mengenai gagasan menuju negara maritim. Buku berjudul ‘Sang Nakhoda: Ketika Aku Mimpi Menjadi Presiden’ yang diterbitkan Madani Kreatif Publisher mengulas tentang konsepsi maritim dalam bahasa populis dan penuh satire dalam melihat kondisi yang ada.

Mengutip gagasan A.T Mahan, salah satu syarat dalam mencapai negara maritim yakni adanya karakter pemerintah yang bervisi kelautan. Penulis syarat ini menjadi kunci di Indonesia yang memang didukung dengan letak geografis dan kejayaan bahari masa lampau.

Dengan karakter pemerintah, maka dengan segala kebijakannya mampu membentuk karakter rakyat yang bercirikan bahari. Oleh karena itu, buku setebal 157 halaman ini mengupas cita-cita penulis jika dirinya menjadi presiden. Segudang kebijakan maritim yang berlandaskan Pancasila dan Wawasan Nusantara menjadi marwah pemerintahan hingga Indonesia disegani di seantero jagat.

Dengan keyakinan bahwa sejarah akan berulang, buku ini mengajak para pembaca untuk memahami konsep kemaritiman secara hakiki. Berangkat dari irisan kebangsaan, adat istiadat hingga ketuhanan. Semuanya diramu dalam bahasa renyah yang khas untuk menghadapi tantangan zaman.

Buku ini juga mengaitkan kondisi geopolitik global yang seiring berjalannya waktu kian menunjukkan eskalasinya. Perang besar seakan menjadi keniscayaan. Lalu siapkah kita? Dalam menghadapi berbagai ancaman maritim yang ada saat ini, negara seakan ngos-ngosan mencari solving problem. Akhirnya tidak sedikit harus melibatkan kerja sama internasional dengan negara kawasan.

Kompleksitas masalah itu dapat dilihat dari visi, nomenklatur kelembagaan, SDM hingga infrastruktur dan teknologi. Semuanya menjadi makin pelik ketika Indonesia dihadapkan dengan masalah ekonomi dan boncosnya APBN.

Ancaman middle trap income yang terus menghantui hingga kegagalan bonus demografi menjadi persoalan rumit yang juga diulas dalam buku ini. Solusinya bertumpu pada karakter kepemimpinan, mampukah menjalankan Pancasila dan UUD 1945 dengan murni serta konsekuen? Perubahan (amandemen) UUD 1945 juga sedikit disinggung oleh penulis. Dekrit presiden bisa menjadi alternatif dalam menjawab karut marut ketatanegaraan dan kebijakan saat ini.

Setidaknya anak muda sebagai generasi penerus bangsa mampu meresapi nilai tersebut untuk menjadi modal besar dalam menuju Indonesia Emas 2045. Bahkan seperti mimpi Sang Nakhoda, generasi muda saat ini kelak menjadi pucuk pimpinan yang diharapkan mampu membawa kejayaan bangsa.

Pesan Sang Nakhoda, bangunlah dari tidur panjangmu. Dimulai dari memahami satu langkah, maka perlahan-lahan engkau akan memahami seribu langkah. Setelah itu engkau akan memahami seribu langkah. Setelah itu engkau akan melihat jalan yang terang dan diliputi rasa percaya diri. Hal yang lebih menakutkan adalah bila engkau tidak memahami hakikat dirimu, sehingga terjebak dalam kebingungan dan penderitaan. Pilihan ada di tangan anda–bangun dan bangkit untuk mempercepat perubahan dinamis di negeri ini atau tidur dengan pulas setelah itu bablas.


Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Tak Sekadar Acara Formal. Mubes BMK 1957 Hadirkan City Tour di Semarang

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:23

BPS Catat Inflasi 2,88 Persen pada Juli 2026, Ini Biang Keroknya

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:22

Fahira Idris Desak Pemprov DKI Perkuat Antisipasi Puncak Kemarau

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:09

Usulan RUU LGSP MUI Jadi Ujian Keseriusan DPR dan Pemerintah

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:06

Provokasi Bangkrut dari ‘De Volkskrant’

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:02

Dewas Soroti Ratusan Pemberitahuan Pro Justitia KPK Terlambat Disampaikan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:58

Ponpes Tambakberas Libatkan Santri Jadi Relawan Muktamar NU

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:49

Prabowo Akan Terima Kunjungan PM Thailand di Istana Merdeka Sore Ini

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:46

Indonesia Catat Deflasi 0,14 Persen di Juli 2026, Dipicu Harga Pangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:45

Tiga Masalah Utama Pemicu Turunnya Kepuasan terhadap Prabowo

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:21

Selengkapnya