Berita

Juru Bicara PBB, Farhan Haq (Foto: PBB)

Dunia

PBB Desak Israel Hormati Hukum Laut usai Serang Global Sumud Flotilla

JUMAT, 03 OKTOBER 2025 | 12:54 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

PBB mendesak Israel menghormati hukum laut internasional dan melindungi warga sipil usai serangan terhadap armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla.
Juru Bicara PBB, Farhan Haq, menegaskan bahwa aturan hukum internasional di laut harus dipatuhi.
 
“Tentu saja, kami percaya bahwa hukum yang berlaku di perairan internasional harus dihormati,” ujarnya dalam konferensi pers, seperti dikutip dari Anadolu News, Jumat, 3 Oktober 2025.

Ia juga menanggapi klaim Israel tentang adanya koridor keamanan, namun menekankan bahwa fokus utama adalah mencegah bahaya terhadap peserta pelayaran kemanusiaan. 

Ia juga menanggapi klaim Israel tentang adanya koridor keamanan, namun menekankan bahwa fokus utama adalah mencegah bahaya terhadap peserta pelayaran kemanusiaan. 

“Bagi kami, prioritasnya adalah memastikan tidak ada seorang pun di kapal-kapal kemanusiaan itu yang mengalami bahaya,” tegasnya.

PBB menolak anggapan bahwa keberangkatan flotilla merupakan bentuk eskalasi. Menurut Haq, aksi tersebut adalah kegiatan damai yang bertujuan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza. 

“Kami tidak menganggap flotilla ini sebagai bentuk eskalasi. Keyakinan kami adalah bahwa orang-orang yang hanya membawa bantuan kemanusiaan seharusnya dibiarkan," tegasnya. 

Serangan terhadap flotilla terjadi Rabu malam, 1 Oktober 2025 saat kapal-kapal tersebut mendekati pantai Gaza. 

Misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang terdiri dari 50 kapal dengan lebih dari 500 aktivis dari 46 negara, sempat dicegat oleh militer Israel pada 1 Oktober di laut internasional, sekitar 120 mil dari Gaza. 

Tiga kapal Alma, Sirius, dan Adara mengalami pemutusan siaran langsung saat pengepungan berlangsung.

Menurut laporan Tim Media Global Peace Convoy Indonesia, 14 kapal mengalami kondisi darurat dan delapan di antaranya diserang, termasuk penyemprotan meriam air dan penabrakan.

Sebanyak 497 aktivis, termasuk aktivis iklim Greta Thunberg dan anggota parlemen Afrika Selatan Mandla Mandela, ditahan oleh otoritas Israel.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Nama Elon Musk hingga Eks Pangeran Inggris Muncul dalam Dokumen Epstein

Minggu, 01 Februari 2026 | 14:00

Said Didu Ungkap Isu Sensitif yang Dibahas Prabowo di K4

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:46

Pengoperasian RDF Plant Rorotan Prioritaskan Keselamatan Warga

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:18

Presiden Harus Pastikan Kader Masuk Pemerintahan untuk Perbaikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:03

Danantara Bantah Isu Rombak Direksi Himbara

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:45

Ada Kecemasan di Balik Pidato Jokowi

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:25

PLN Catat Penjualan Listrik 317,69 TWh, Naik 3,75 Persen Sepanjang 2025

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:07

Proses Hukum Berlanjut Meski Uang Pemerasan Perangkat Desa di Pati Dikembalikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:03

Presiden Sementara Venezuela Janjikan Amnesti untuk Ratusan Tahanan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:27

Kelola 1,7 Juta Hektare, Agrinas Palma Fokus Bangun Fondasi Sawit Berkelanjutan

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:13

Selengkapnya