Berita

Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Publika

Bahasa, Persatuan dan Kedaulatan

SELASA, 30 SEPTEMBER 2025 | 06:18 WIB

BAHASA sering kita sebut sebagai jantung kebudayaan. Tetapi jarang kita menyadari betapa dalam pengaruhnya terhadap cara berpikir, pola ilmu, bahkan nasib sebuah bangsa. Bahasa ibu-bahasa pertama yang kita pelajari sejak kecil adalah pusaka yang tak ternilai. Dari sanalah terbentuk kesadaran, logika, dan imajinasi. Maka wajar bila bahasa ibu selalu layak dilestarikan, di manapun dan kapanpun.

Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, pernah menegaskan: “Bahasa adalah pendorong tumbuhnya jiwa kebangsaan.” Inilah fondasi awal: tanpa bahasa, kesadaran nasional sulit terbentuk.
 
Jangan Sibuk Mengklaim Bahasa Terbaik
 

 
Mari jujur: terlalu sering kita mendengar klaim seolah ada bahasa yang lebih unggul dibanding lainnya. Padahal, bahasa apa pun yang mengiringi manusia dari lahir hingga wafat, itulah bahasa yang paling mulia baginya. Tidak perlu membandingkan. Setiap bahasa yang mampu melahirkan peradaban adalah bukti keunggulannya sendiri.
 
Bahasa adalah Modal, Bukan Sekadar Alat
 
Di era global, bahasa tidak lagi berhenti pada ranah identitas. Ia kini menjadi instrumen keilmuan, perdagangan, bahkan mesin ekonomi.
 
Ilmu pengetahuan tersimpan dalam berbagai bahasa, maka menguasainya berarti membuka pintu pengetahuan. Perdagangan lintas negara tidak mungkin berjalan tanpa bahasa bersama.
 
Bahkan, bahasa kini jadi strategi bisnis. Seorang kreator Korea bisa sukses besar di Indonesia hanya dengan berbahasa Indonesia. Begitu pula musisi yang menerjemahkan lagunya ke bahasa Jepang lalu diterima luas di pasar Jepang. Bahasa adalah modal. Yang pandai menggunakannya, akan menang.
 
Belajar Bahasa adalah Pilihan, Bukan Paksaan
 
Menguasai banyak bahasa jelas nilai tambah. Tapi tidak mempelajarinya juga sah, asalkan orang sadar konsekuensinya. Ada yang belajar bahasa untuk ilmu, ada yang demi uang, ada pula yang sekadar ikut tren. Semua sah. Yang salah adalah jika kebebasan memilih ini dilarang atau diremehkan.
 
Bahasa Menyatukan Bangsa
 
Dalam sejarah Indonesia, bahasa terbukti menjadi perekat utama. Bahasa Indonesia diwajibkan di sekolah, digunakan di televisi, radio, hingga ruang publik. Hasilnya? Anak Papua bisa berbincang dengan orang Aceh tanpa hambatan. Inilah kekuatan sesungguhnya: bahasa yang menyatukan ratusan etnis dalam satu bangsa.
 
Bung Karno pernah berujar: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai bahasanya sendiri.” Kalimat ini bukan sekadar retorika, melainkan pengingat bahwa bahasa adalah senjata persatuan, bukan hanya simbol komunikasi.
 
Kedaulatan Lebih dari Sekadar Bahasa
 
Namun, mari jangan terkecoh. Kedaulatan sejati sebuah negara tidak ditentukan hanya oleh bahasa. Bahasa memang lambang persatuan, tetapi urusan kedaulatan ada pada fiskal, moneter, pajak, dan kebijakan ekonomi. Apa gunanya kita berbahasa Indonesia, kalau produk asing bisa masuk bebas tanpa memberi nilai tambah bagi negeri ini?
 
Contoh konkret: bila ada produsen asing menjual produk di Indonesia, maka syarat kedaulatan seharusnya jelas--bangun pabrik di sini, serap tenaga kerja kita, dan bayar pajak untuk rakyat kita. Itu baru kedaulatan.
 
Penutup
 
Bahasa adalah fondasi, tetapi jangan berhenti di sana. Ia membentuk pikiran, menyatukan bangsa, dan membuka pintu dunia. Tapi kedaulatan sejati hanya terjamin bila bahasa bersanding dengan keberanian ekonomi: fiskal yang kuat, pajak yang adil, dan industri yang berdiri di tanah air sendiri.
 
Bahasa memang persatuan, tapi ekonomi adalah kedaulatan. Dan bangsa ini harus berani menjaga keduanya.

Muchamad Andi Sofiyan
Penggiat literasi dari Republikein StudieClub


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Nama Elon Musk hingga Eks Pangeran Inggris Muncul dalam Dokumen Epstein

Minggu, 01 Februari 2026 | 14:00

Said Didu Ungkap Isu Sensitif yang Dibahas Prabowo di K4

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:46

Pengoperasian RDF Plant Rorotan Prioritaskan Keselamatan Warga

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:18

Presiden Harus Pastikan Kader Masuk Pemerintahan untuk Perbaikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:03

Danantara Bantah Isu Rombak Direksi Himbara

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:45

Ada Kecemasan di Balik Pidato Jokowi

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:25

PLN Catat Penjualan Listrik 317,69 TWh, Naik 3,75 Persen Sepanjang 2025

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:07

Proses Hukum Berlanjut Meski Uang Pemerasan Perangkat Desa di Pati Dikembalikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:03

Presiden Sementara Venezuela Janjikan Amnesti untuk Ratusan Tahanan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:27

Kelola 1,7 Juta Hektare, Agrinas Palma Fokus Bangun Fondasi Sawit Berkelanjutan

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:13

Selengkapnya