Berita

Buku 'My Story' karya Edi Sutrisno. (Foto: RMOL/Abdul Rouf Ade Segun)

Publika

Rudy J. Pesik dan My Story

OLEH: ABDUL ROUF ADE SEGUN*
RABU, 24 SEPTEMBER 2025 | 01:18 WIB

SAYA membaca buku 'My Story' karya Edi Sutrisno tentang Rudy Josep Pesik dengan satu perasaan: kagum. Kagum pada daya tahan seorang anak bangsa yang lahir dari keluarga sederhana, tapi mampu menapaki jalan panjang yang penuh liku: dari dunia teknologi, ke bisnis, ke diplomasi, lalu ke budaya.

Rudy bukan orang biasa. Ia seperti mozaik yang potongan-potongannya sulit ditebak. Kadang ia muncul sebagai teknokrat ulung, kadang sebagai pengusaha kelas dunia, kadang sebagai budayawan yang membela pusaka bangsa, dan tak jarang pula tampil sebagai seorang “negarawan” yang menolak pensiun.

Dari ITB ke Negeri Kincir Angin


Buku ini dibuka dengan kisah masa kecilnya. Ia dibesarkan di tengah keluarga pelaut, tapi memilih jalur berbeda: kuliah teknik di Institut Teknologi Bandung (ITB). Bukan hanya lulus, tapi meraih dua gelar sekaligus. 

Rudy bahkan dipercaya menjadi Direktur Jenderal Industri Maritim di usia muda, di era Presiden Soekarno. Tapi dunia birokrasi sering kali kejam. Kerja kerasnya dianggap sia-sia. 

Ia kecewa, lalu memilih “lari” ke Belanda. Di Delft, ia kuliah sambil bekerja di IBM. Bayangkan: mahasiswa, tapi sudah jadi tenaga kerja di perusahaan teknologi kelas dunia. Itulah Rudy. Gigih, keras kepala, tapi selalu haus tantangan.

Ketika karirnya di IBM sedang naik daun, ia justru dipanggil pulang oleh Ibnu Sutowo, Direktur Pertamina yang legendaris. Rudy pulang, dan sejak itu namanya mulai tercatat sebagai pionir sistem IT di Indonesia. Ia mengawal Pertamina, Garuda, hingga BUMN lain agar tidak ketinggalan teknologi.

Berteman dengan Presiden dan Raja

Buku ini bercerita pula tentang Rudy yang bergaul dengan presiden dan raja. Dari Soeharto yang menugaskannya urusan khusus, Gus Dur yang mengajaknya naik haji, sampai Lech Walesa di Polandia dan Raja Thailand Bhumibol Adulyadej.

Kalau orang lain mungkin berbangga sekadar bisa berfoto dengan tokoh dunia, Rudy justru menjalin persahabatan. Ia punya akses ke lingkaran tertinggi, tapi tetap sederhana. Ini yang membuat banyak orang hormat padanya.

Rumah Pesik: Budaya sebagai Jalan Pulang

Yang paling menarik bagi saya bukan soal bisnisnya, tapi budayanya. Rudy pernah ditegur seorang profesor di Belanda: “Orang Indonesia tidak menghargai barang antik.” Kalimat itu menusuk hati. Sejak saat itu, Rudy berjanji untuk mengoleksi benda budaya dan menjaganya.

Rumah Pesik di Kotagede, Yogyakarta, adalah simbol janji itu. Bangunan bergaya campuran Jawa, Eropa, Yunani, dan Thailand itu bukan hanya rumah tinggal, tapi juga museum kecil. Di dalamnya ada keris, ukiran kayu, patung, arca. Semua ditata bukan untuk pamer, tapi untuk mendidik.

Pesan Rudy jelas: kalau bangsa tidak menghargai pusakanya sendiri, suatu hari kita hanya akan jadi penonton ketika budaya kita diklaim bangsa lain.

Kopi sebagai Identitas

Rudy juga membawa budaya ke bisnis. Ia mendirikan KOPI KAMU, sebuah jaringan gerai kopi yang kini ada di 31 negara. Bedanya dengan bisnis kopi lain, Rudy menekankan kopi sebagai identitas. Ia mendirikan Yayasan Akademi Kopi Indonesia, menggagas Hari Kopi Indonesia, bahkan ikut membangun Asosiasi Kopi Indonesia.

Bagi Rudy, kopi bukan sekadar minuman, tapi narasi tentang tanah, petani, dan budaya. Ia membuktikan, warisan bangsa bisa hidup di pasar global.

Menolak Purna

Buku 'My Story' punya satu bab berjudul “Menolak Purna”. Ini bagian favorit saya. Rudy memang tidak pernah mau pensiun. Usianya sudah lanjut, tapi ia tetap berlari. Membuka usaha baru, mengurus organisasi, sampai harus masuk penjara gara-gara urusan kopi.

Tapi semua itu ia jalani tanpa dendam. Justru makin meneguhkan tekadnya bahwa hidup ini bukan soal berapa banyak uang yang kita kumpulkan, melainkan apa yang kita tinggalkan untuk bangsa.

Inspirasi untuk Generasi Muda

Saya melihat Rudy sebagai teladan bagi generasi muda. Di era digital sekarang, orang mudah lupa pada budaya. Semua serba instan, serba global, serba modern. Rudy mengingatkan: modernisasi boleh, globalisasi perlu, tapi jangan pernah lepaskan akar budaya.

Ia memberi contoh nyata: bagaimana membangun ratusan perusahaan, berteman dengan tokoh dunia, tapi tetap menunduk pada pusaka bangsa.

My Story, Our Story

Judul buku ini memang 'My Story'. Tapi kalau kita cermati, ini sebetulnya bukan hanya cerita tentang Rudy. Ini cerita tentang kita. Tentang bangsa yang ingin maju tanpa kehilangan jati diri. Tentang perjalanan panjang Indonesia yang berusaha menjadi modern, tapi tetap berpijak pada akar tradisi.

Itulah mengapa saya merasa, Rudy tidak sedang menulis 'My Story'. Ia sedang menulis 'Our Story'.

Cerita kita bersama. Cerita bangsa ini.

*Penulis adalah Jurnalis Republik Merdeka Online dan Mahasiswa Magister Hubungan Internasional Universitas Paramadina


Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Tips Aman Belanja Online Ramadan 2026 Bebas Penipuan

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:40

Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:29

Safari Ramadan Nasdem Perkuat Silaturahmi dan Bangun Optimisme Bangsa

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:23

Tips Mudik Mobil Jarak Jauh: Strategi Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:16

Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:33

Pernyataan Jokowi soal Revisi UU KPK Dinilai Problematis

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:26

Tata Kelola Konpres Harus Profesional agar Tak Timbulkan Tafsir Liar

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:11

Bukan Gibran, Parpol Berlomba Bidik Kursi Cawapres Prabowo di 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:32

Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:21

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:04

Selengkapnya