Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi KNTI)

Nusantara

KNTI: Kebijakan Iklim Jangan Pinggirkan Nelayan Kecil

SENIN, 01 SEPTEMBER 2025 | 02:50 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) turut ambil bagian dalam Climate Justice Summit (CJS) 2025 yang digelar di Jakarta pada 26–28 Agustus 2025.

Dalam forum tersebut, KNTI menegaskan bahwa nelayan kecil dan tradisional merupakan kelompok yang paling rentan terhadap krisis iklim. 

“Kebijakan iklim tidak boleh semakin meminggirkan nelayan kecil. Justru sebaliknya, negara harus menjadikan mereka subjek utama dalam agenda keadilan iklim,” ungkap perwakilan KNTI, Sudarlin dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu malam, 31 Agustus 2025.


“Banjir rob merendam permukiman, tambak, dan infrastruktur pesisir di Pekalongan, Demak, Semarang hingga Indramayu. Abrasi menghilangkan daratan di Sayung, Kendal, hingga Mamuju. Nelayan kehilangan rumah sekaligus sumber penghidupannya,” tambahnya. 

Lanjut dia, kerusakan ekosistem pesisir seperti hilangnya mangrove dan terumbu karang memperburuk krisis sosial-ekonomi nelayan kecil.

"Hasil tangkapan mereka menurun, pendapatan susut, sementara aset nelayan kerap rusak diterjang banjir maupun gelombang,” jelasnya.

Masih kata Sudarlin, kondisi tersebut juga menimbulkan persoalan lanjutan: sanitasi air bersih yang tercemar intrusi air laut, memburuknya kesehatan lingkungan, hingga migrasi paksa warga pesisir yang kehilangan tempat tinggal.

Dalam deklarasinya di CJS 2025, nelayan menuntut pengakuan dan perlindungan hak masyarakat pesisir terdampak krisis iklim, termasuk penghormatan terhadap pengetahuan tradisional, kearifan lokal, serta wilayah kelola mereka. Nelayan juga menekankan perlunya jaminan perlindungan sosial, mencakup kecelakaan, kesehatan, dan risiko lain di laut.

Lebih jauh, KNTI mendesak agar implementasi UU No. 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan Nelayan serta Putusan MK No. 3 Tahun 2010 benar-benar ditegakkan. 

“Aturan tersebut menjamin hak nelayan untuk melintas, mengakses laut, serta mendapatkan perairan yang bersih dan sehat,” tegasnya.

CJS 2025 sendiri menghadirkan ratusan peserta dari berbagai komunitas terdampak iklim mulai dari petani, buruh, masyarakat adat, hingga nelayan untuk menyatukan tuntutan bersama agar transisi menuju energi dan pembangunan hijau berjalan adil dan tidak meninggalkan kelompok rentan.

Forum yang merupakan agenda temu rakyat untuk keadilan iklim ini diinisiasi oleh Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (ARUKI).

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

KPK Panggil Bos Rokok HS di Kasus Suap Cukai

Kamis, 02 April 2026 | 10:39

UPDATE

SBY Desak PBB Investigasi Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 12:15

Bansos Kunci Redam Gejolak Jika BBM Naik

Minggu, 05 April 2026 | 11:34

Episode Ijazah Jokowi Tak Kunjung Usai

Minggu, 05 April 2026 | 11:20

Indonesia Jangan Diam Atas Kebijakan Kejam Israel

Minggu, 05 April 2026 | 11:08

KPK Buka Peluang Panggil Forkopimda di Skandal THR Cilacap

Minggu, 05 April 2026 | 10:31

Drone Iran Hantam Kompleks Pemerintahan dan Energi Kuwait

Minggu, 05 April 2026 | 10:20

Krisis Global Momentum Perkuat Kemandirian Pangan Nasional

Minggu, 05 April 2026 | 10:14

UU Hukuman Mati Israel untuk Tahanan Palestina Mengarah ke Genosida

Minggu, 05 April 2026 | 09:43

Trump Ancam Iran Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam atau Hadapi Konsekuensi

Minggu, 05 April 2026 | 09:33

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Selengkapnya