Berita

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Facebook Prabowo Subianto)

Publika

Prabowo di Tengah Badai Ancaman

OLEH: TONY ROSYID*
JUMAT, 29 AGUSTUS 2025 | 05:43 WIB

SITUASI negara sedang tidak baik-baik saja. Terutama di sektor ekonomi. Daya beli rakyat semakin melemah. Sejumlah perusahaan gulung tikar berimbas pada PHK massal. 

Ketika BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi 5,12 persen, rakyat tak ada yang percaya. Padahal, pertumbuhan ekonomi 5,12 persen itu terbilang kecil. Ini artinya, rakyat merasa situasinya sungguh amat sangat sulit. Ini problem serius dan potensial jadi ancaman buat Presiden Prabowo Subianto. 

Kebijakan efisiensi Presiden Prabowo dianggap tidak tepat waktu dan sasaran. Akibat efisiensi, sejumlah kepala daerah kekurangan anggaran. Ambil jalan pintas: naikin pajak. 


Di sejumlh daerah pajak naik 300 persen hingga ribuan persen. Lagi-lagi, rakyat yang jadi sasaran. Rakyat pun marah. Bupati Pati Sudewo hampir jadi korban. Kebijakan efisiensi dianggap telah mengganggu perputaran dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. 

Kesulitan yang dialami rakyat berbeda dengan kondisi elite politik. Di kelas elite, gaji dan tunjungan terus naik, begitu juga peluang dan tingkat korupsinya. Kenyang! 

Di kelas elite, tak ada situasi yang sulit. Tunjangan rumah bisa 15 kali lipat upah tenaga kerja pada umumnya. Itu baru rumah. Belum gaji, biaya rapat, anggaran perjalanan. Cukup! Jangan ditulis lagi. Butuh puluhan hingga ratusan halaman.

Kebijakan ekonomi yang seringkali kontradiktif, dan struktur birokrasi yang semakin koruptif membuat kekuasaan Presiden Prabowo cukup rentan. Narasi Prabowo selama ini akan melawan korupsi tidak terimplementasi signifikan dalam kerja-kerja birokrasi. Narasi itu harapan, korupsi itu kenyataan. Dua hal yang berbeda.

Korupsi masih begitu terstruktur di hampir semua lembaga pemerintahan. Anda perlu pahami makna dari kata "hampir". Ini penghalusan. Akan jelas kalau anda menggunakan simiotika "paradigmatik" filsuf Swiss: Ferdinand De Saussure". 

Ah nggak perlu mikir yang berat-berat. Hidup rakyat sudah sangat berat. Yang pasti-pasti saja. Di antara yang pasti adalah bahwa korupsi berhasil diwarisi dengan sangat sempurna dari satu rezim ke rezim yang lain. 

Saat ini, publik melihat belum ada yang berubah secara signifikan dari sebelumnya. Terutama soal korupsi. Sama saja! Begitulah teriakan rakyat 

Di tengah situasi ekonomi yang tidak kondusif dan birokrasi yang sangat koruptif, gelombang badai bisa datang dari para teknokrat stok lama. 

Mereka adalah sejumlah menteri atau pejabat setara yang dobel loyalitas. Secara formal, mereka loyal kepada Presiden Prabowo. Secara kultural, mereka lebih dekat dengan Presiden ke-7 Joko Widodo alias Jokowi. 

Kedekatan ini membawa konsekuensi politik yang lebih emosional dan berjangka panjang. Sebab, Jokowi yang memberi jaminan. Bukan Prabowo.

Ketika hubungan Prabowo dengan Jokowi retak, loyalitas kultural akan menguat di tengah kekuasaan Prabowo yang semakin kewalahan menghadapi badai ekonomi dan potensi kehilangan trust publik.

Faktor Sri Mulyani, sebagai penentu nasib moneter dan fiskal Indonesia, terus mendapatkan sorotan. Sri Mulyani bukan sosok yang punya sejarah harmoni dengan Prabowo. Publik menaruh curiga, bukan pada kemampuan orang kepercayaan IMF ini, tapi pada loyalitasnya kepada Presiden Prabowo.

Ketika Prabowo dilantik jadi presiden, para taipan yang selama puluhan tahun sukses merampok uang negara, sebagian besar dipinggirkan. Sebagian lagi disikat. 

Dipinggirkan, disikat atau digantikan? Ini juga menjadi persoalan fundamental. Para pengganti taipan, apakah mereka punya mentalitas berbeda? Ini pertanyaan idologis berbau nasionalis. Dua kata ini yang akan menentukan cara taipan baru mancari kekayaan. Cara ini akan menentukan nasib bangsa dan nasib rakyat kedepan.

Para taipan yang tersingkir, mereka bukan gerombolan saudagar yang baru belajar politik. Mereka bahkan telah sukses mengubah politik menjadi pundi-pundi kekayaan yang berlimpah. Bukan ratusan, tapi ribuan triliun. 

Survei menyebutkan 60 persen kekayaan para taipan didapatkan dari kemampuan mengendalikan penguasa jadi uang. "Ternak babi tak banyak untung. Ternak babe, ini baru untung". 

Terlempar, para taipan stok lama ini tidak diam. Menunggu momentum. Bukan hanya menunggu, mereka juga lihai dalam menciptakan momentum. Jerami kekuasaan Prabowo mulai setengah kering. Para taipan memantau dan sewaktu-waktu bisa siramkan bensin ketika waktunya tiba.

Ahmad Muzani, politisi kalem dan terkenal humanis ini menjadi ketua MPR. Posisinya sedang terlempar dari partai penguasa. Saat menu sedang dihidangkan, ia dipensiunkan dari posisi sekjen Gerindra.

Selama 17 tahun berpuasa dalam perjuangan partai, ketika lebaran tiba, ia diminta lagi untuk berpuasa. Sebagai ketua MPR, posisi Ahmad Muzani cukup menentukan. Suasana kebatinan akan mempengaruhi keputusannya.

Dua hari lalu, Jakarta rusuh demo. Hari ini, buruh demo. Infonya, demo besar-besaran. Besok, BEM juga demo. Jika situasi sulitnya ekonomi terus dibumbui oleh kebijakan yang kontra-populis, ini bisa berubah menjadi panggung yang dapat mendorong teori transformasi politik berpeluang mengambil analisisnya. 

Kursi raja bisa goyang ketika kelompok-kelompok yang menjadi ancaman ini bermain di panggung yang sama.

Waspadalah....waspadalah...!

*Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa





Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya