Berita

Bambi vs Godzilla. (Foto: YouTube Kaijutopia)

Publika

Bambi dan Godzilla

MINGGU, 24 AGUSTUS 2025 | 06:59 WIB | OLEH: JIMMY H SIAHAAN

SEBUAH karya film, David Mamet, bercerita tentang seekor Rusa Bambi yang sedang merumput dengan tenang, tiba-tiba setelah itu ia mendongak untuk melihat kaki Godzilla turun, meremukkannya rata (diatur ke akord terakhir dari “A Day in the Life" milik The Beatles).

Cuplikan di atas menggambarkan pertemuan AS dan Rusia di Alaska, belum lama ini. Prof John Mearsheimer, dari Universitas Chicago, menganggap Presiden Trump dalam kesulitan. 

Pertemuan Alaska adalah "game changer". Kali ini Trump balik arah. Dia berkata "Kalau mau damai, Ukraina tak boleh gabung NATO."


Jika sesuatu merupakan pengubah permainan, hal tersebut memiliki efek yang besar dan penting pada sesuatu, biasanya membuat perbedaan antara satu hal yang terjadi dan hal lainnya. 

Motto pertemuan dengan tema "Pursuing Peace", artinya "Mengejar Perdamaian" berarti secara aktif berupaya menciptakan dan memelihara hubungan yang harmonis serta ketenangan dalam hidup seseorang dan dengan orang lain

Hal ini melibatkan lebih dari sekadar ketiadaan konflik;  hal ini membutuhkan upaya yang disengaja, termasuk mengupayakan semangat rekonsiliasi, mempraktekkan pengampunan, dan memilih kebaikan daripada perang. Keinginan Nato dan Ukraina  adalah segera adanya "Gencatan Senjata" kini berubah menjadi "Perdamaian Permanen" sesuai yang diinginkan Rusia. 

Diplomasi Amerika Mengakomodir Keinginan Rusia

Bahwa seruan Eropa untuk gencatan senjata di Ukraina bisa menjadi langkah strategis yang ditujukan kepada Rusia, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi para pembuat kebijakan AS. Komentar tersebut muncul sehari setelah perundingan antara Presiden Rusia dan AS di Alaska mengenai perang Ukraina.

Ekonom Amerika Jeffrey Sachs dari Universitas Columbia, mengecam Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, mempertanyakan otoritasnya setelah Kyiv menolak rencana perdamaian yang diusulkan Donald Trump. Sachs mengatakan perang bisa "segera berakhir" jika negosiasi dilanjutkan, dan menambahkan, "saya tidak melihat alasan bagi AS untuk memveto Zelensky”. 

Siapakah dia? Apa yang diwakilinya? Rakyat Ukraina menginginkan perdamaian, itulah yang ditunjukkan oleh jajak pendapat Gallup terbaru.

Presiden AS Donald Trump menegaskan Ukraina tidak akan bergabung dengan NATO sebagai bagian dari kesepakatan damai dengan Rusia. Hal ini disampaikan menjelang pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih, Senin, 18 Agustus 2025.

"Presiden Zelensky dapat segera mengakhiri perang dengan Rusia jika ia mau. Tidak akan ada masuk ke NATO oleh Ukraina. Beberapa hal tidak pernah berubah," tulis Trump di platform Truth Social, seperti dikutip BBC.

Trump juga menegaskan tidak ada jalan kembali terkait Krimea, wilayah yang dianeksasi Rusia pada 2014. Pernyataan ini muncul usai pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska, yang menghasilkan pembatalan tuntutan gencatan senjata dan dorongan untuk kesepakatan damai permanen.

Sementara itu, Zelensky menegaskan kembali perlunya jaminan keamanan dari sekutu. "Kami semua memiliki keinginan kuat untuk mengakhiri perang ini dengan cepat dan andal," ujarnya di media sosial, seraya menekankan bahwa Ukraina membutuhkan perlindungan yang efektif.

Utusan AS Steve Witkoff menyebut Rusia telah menyetujui kemungkinan pakta keamanan ala NATO bagi Ukraina.

"Kami berhasil memenangkan konsesi berikut: Amerika Serikat dapat menawarkan perlindungan ala Pasal 5," kata Witkoff kepada CNN.

Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio meredam ekspektasi. "Kita masih jauh dari itu," ujarnya kepada CBS. Rubio juga menyebut anggapan bahwa Zelensky ditekan Trump untuk menerima kesepakatan damai adalah "narasi media yang bodoh".

Para pemimpin Eropa juga tiba di Washington untuk membahas masa depan Ukraina bersama Zelensky, termasuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, hingga Kanselir Jerman Friedrich Merz.

"Rencana kami adalah menyajikan front persatuan," kata Macron.

Meski begitu, perundingan berlangsung di tengah kemajuan pasukan Rusia yang kini menduduki hampir 20 persen wilayah Ukraina sejak invasi penuh pada 2022. Zelensky menegaskan konstitusi negaranya tidak memungkinkan penyerahan wilayah.

Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan sekutu-sekutu Eropa untuk tidak begitu saja mempercayai Presiden Rusia Vladimir Putin. Macron menyebut Putin sebagai "predator dan raksasa yang ada di gerbang kita".

Pernyataan Macron ini, seperti dilansir AFP, Selasa, 19 Agustus 2025, disampaikan ketika Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tampaknya akan melakukan pertemuan puncak beberapa waktu ke depan, setelah pembicaraan antara Presiden Trump dan para pemimpin Eropa berlangsung pada Senin, 18 Agustus 2025 waktu setempat.

Pembicaraan yang melibatkan Trump, Zelensky dan tujuh pemimpin Eropa di Gedung Putih itu fokus membahas isu kunci mengenai jaminan keamanan jangka panjang untuk Kyiv. 

Pembicaraan itu dilakukan setelah pertemuan puncak antara sang Presiden AS dan sang pemimpin Kremlin di Alaska pada Jumat, 15 Agustus 2025.

Prof Jeffrey Sachs, melihat Rusia melakukan langkah bak papan catur sebagai sebuah strategi, sementara Amerika digambarkan sedang bermain kartu poker, sebuah permainan jangka pendek. Jika kalah, lanjut, penuh strategi yang ribet, dan suka menggertak. Bahkan jika dibandingkan China dengan play go. Papan strategik abstrak. 

Selanjutnya Sachs, mempunyai pendapat yang hampir sama dengan John Mearsheimer, bahwa perang Ukraina dan Rusia sangat sulit untuk berdamai. 

Bahwa jika perundingan gagal, maka menurut Sachs jam kiamat mendekati '89 detik' ke arah pukul 12 malam. Hal yang sama untuk Mearsheimer mengatakan perang nuklir semakin dekat.

Trump mengungkapkan alasan mau damaikan Rusia-Ukraina karena ingin masuk surga. 

Sebelumnya First Lady, menitipkan surat kepada Putin, isinya untuk menghentikan perang, karena penderitaan anak2 karena dampak pertempuran. Bahwa sudah waktunya untuk memiliki titik temu sebagai 'orangtua'.

Trump resmi diundang ke Moskow dalam dua minggu ke depan. Menlu Rusia Lavrov mengatakan pembicaraan keamanan tanpa Rusia adalah sebuah utopia, “a road to nowhere".

*Penulis adalah Eksponen Gema 77/78

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR Khawatir Pekerjaan Debt Collector jadi Ilegal, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:43

Keripik Pisang Lokal Besutan Rumah BUMN BRI Tembus Malaysia dan Hong Kong

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:19

Menlu China Mesra dengan Luhut, Sejumlah Tawaran Kerja Sama Mengalir

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:54

Program Gerakan “Warga Peduli Warga” Jaringan Aktivis 98 Berlanjut di Lampung

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:28

Sejumlah Elemen Mahasiswa Ogah Ikut Demo AMPB 27 Agustus, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:10

Ribuan Warga Meriahkan Panggung Rakyat Merdeka PANsar Murah di Kendal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:50

BRI Raih Tiga Penghargaan Bergengsi Alpha Southeast Asia 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:28

DPR Tekankan Penguatan Pengendalian Lingkungan untuk Hentikan Karhutla

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:58

YLBHI Dorong Bareskrim Usut Perwira Diduga Terlibat Penipuan Investasi Tambang Emas

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:14

Pikat Pembeli dari Singapura hingga Belanda, Produk UMKM Asal Sumut Berdaya Bersama BRI

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:55

Selengkapnya