Berita

Kolase Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Abdullah Rasyid, Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto. (Foto: Dok Pribadi)

Publika

80 Tahun Indonesia: Kerja Senyap Menjaga Kedaulatan, Keadilan, dan Kemanusiaan

MINGGU, 17 AGUSTUS 2025 | 16:33 WIB | OLEH: ABDULLAH RASYID

DI TENGAH peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia ini, saya ingin mengajak membicarakan dua hal yang jarang dibicarakan orang: yaitu imigrasi dan pemasyarakatan.

Tentu kita sudah tahu institusi ini. Dan umumnya kita menganggap bahwa ini adalah unit teknis, yang tak terlalu menarik untuk diperhatikan. Padahal, imigrasi dan pemasyarakatan adalah pilar senyap yang menjaga kedaulatan, keadilan, dan kemanusiaan negeri kita. 

Imigrasi lebih dari sekadar urusan stempel paspor di bandara. Ia adalah benteng kedaulatan yang terus beradaptasi. Jika dulu kita harus mengantre panjang untuk mengurus paspor, kini ada e-paspor dan aplikasi m-paspor yang membuat prosesnya secepat kilat.


Penerapan e-visa juga berhasil mendongkrak jumlah wisatawan asing, menunjukkan bahwa Indonesia tak hanya berdaulat, tapi juga ramah terhadap dunia.

Gerbang-gerbang nusantara kini dilengkapi dengan teknologi biometrik yang berfungsi layaknya "mata elang" untuk mengawasi setiap orang yang masuk. Di tingkat global, Indonesia aktif bekerja sama memerangi perdagangan manusia, menegaskan keseriusan kita dalam menjaga martabat bangsa.

Kebijakan bebas visa yang selektif juga menjadi bukti bahwa kita bisa membuka pintu tanpa mengorbankan keamanan.

Namun, perjuangan Imigrasi belum usai. Tantangan masih membayangi, terutama di perbatasan-perbatasan terpencil yang kekurangan infrastruktur. Sinyal yang lemah dan teknologi yang terbatas membuat pengawasan menjadi sulit.

Masih banyak kasus penyalahgunaan visa yang membuat para petugas pontang-panting, serta koordinasi antar-instansi yang belum optimal. Di era digital ini, ancaman siber menjadi tantangan baru yang menuntut investasi lebih besar pada teknologi dan sumber daya manusia.

Jika Imigrasi menjaga gerbang negara, maka Pemasyarakatan bertugas membenahi jiwa anak bangsa. Pemasyarakatan telah bergeser dari pemenjaraan menjadi panggung kedua bagi mereka yang ingin memulai hidup baru. Berbagai program pelatihan keterampilan, mulai dari membatik hingga kursus IT, telah membuktikan bahwa kesempatan kedua itu nyata.

Digitalisasi data narapidana dan pendekatan restorative justice untuk kasus ringan telah membantu mengurangi kepadatan lapas. Remisi dan program reintegrasi sosial menjadi simbol kemerdekaan yang memberikan harapan baru bagi para warga binaan untuk kembali ke masyarakat.

Namun, kisah inspiratif ini juga diwarnai tantangan berat. Masalah overcrowding masih menjadi momok menakutkan, di mana beberapa lapas penuh hingga 200% dari kapasitasnya.

Kondisi ini membuat proses pembinaan menjadi tidak maksimal. Stigma negatif dari masyarakat juga menjadi tembok tak kasat mata yang menghambat mereka untuk bangkit. Belum lagi tantangan literasi digital yang membuat pembinaan berbasis teknologi terkendala.

Imigrasi dan pemasyarakatan adalah dua sisi mata uang kemerdekaan. Pencapaian mereka, dari digitalisasi hingga rehabilitasi, adalah kisah epik yang patut dirayakan. Namun, cerita ini belum tamat.

Tantangan seperti infrastruktur yang lemah, masalah integritas, dan stigma sosial masih menjadi babak yang harus segera diselesaikan.

Dengan semangat "Bersatu Berdaulat", Indonesia harus terus berinvestasi pada teknologi, memperkuat integritas para petugas, dan membuka hati masyarakat untuk menerima mereka yang ingin berubah. Karena kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajah, tetapi juga bebas dari ketidakadilan dan prasangka.

Mari jadikan gerbang imigrasi dan tembok berjeruji lapas sebagai simbol perjuangan menuju Indonesia Emas 2045, tempat di mana kedaulatan dan keadilan berjalan harmonis, demi rakyat yang benar-benar sejahtera.

Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Gibran Mundur Saja

Selasa, 03 November 2026 | 04:20

Investasi Jakarta Tembus Rp249,3 Triliun

Selasa, 03 November 2026 | 04:08

MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo

Selasa, 03 November 2026 | 03:17

DJP Buka-bukaan soal Pajak Digital yang Disebut Hashim

Selasa, 03 November 2026 | 03:05

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Putusan MA soal Suket Gibran Jadi Momentum Akhiri Bayang-Bayang Jokowi

Selasa, 03 November 2026 | 02:13

Sikap Responsif Kapolri Pulihkan Kepercayaan Masyarakat

Selasa, 03 November 2026 | 02:05

RI Pamer Latihan Militer Gabungan Tiga Bidang di Forum Pertahanan ASEAN

Selasa, 03 November 2026 | 01:40

Anies Temui Seniman Iman Soleh di Bandung, Ini Kisahnya

Selasa, 03 November 2026 | 01:29

PAM Jaya Sumbang Dividen Rp257 Miliar

Selasa, 03 November 2026 | 01:07

Selengkapnya