Berita

Jakarta International Stadium alias JIS yang berlokasi di Tanjung Priok, Jakarta Utara. (Foto: Dokumentasi Pemprov DKI Jakarta)

Publika

Terbuka Peluang Persija Kelola JIS

OLEH: ERZAN*
JUMAT, 15 AGUSTUS 2025 | 14:36 WIB

JAKARTA International Stadium alias JIS yang berlokasi di Tanjung Priok, Jakarta Utara kembali menjadi sorotan publik menyusul wacana pengelolaannya akan dibuka untuk pihak swasta.

Untuk diketahui, stadion megah berkapasitas 82 ribu penonton ini merupakan aset milik PT Jakarta Propertindo (Jakpro), sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemprov DKI Jakarta.

Terkait banyak pihak swasta yang ingin mengelola JIS ini diperkuat oleh pernyataan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.


Pramono mengaku banyak pihak datang meminta menjadi pengelola manajemen JIS yang juga menjadi ikon sepak bola nasional, serta memiliki standar berskala internasional.

Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pintu kesempatan terbuka lebar bagi mereka yang siap (pihak swasta) dan mampu mengambil peran, termasuk Persija Jakarta.

Apalagi musim ini Persija resmi menjadikan JIS sebagai markas dalam mengarungi BRI Super League 2025-2026.

Peluang Persija Terbuka

Pengelolaaan stadion oleh klub-klub sepak bola di Eropa bukanlah hal baru di dunia.

Misalnya di Eropa, banyak klub mengelola stadionnya sendiri dan memanfaatkannya untuk meningkatkan pemasukan, baik dari tiket pertandingan, sewa fasilitas, maupun kegiatan non-olahraga seperti konser, pameran dan event-event lainnya.

Secara legal, peluang Persija untuk mengelola JIS memang ada. Sebagai klub profesional yang berada di bawah PT Persija Jaya Jakarta, mereka memiliki badan hukum dan struktur organisasi yang memungkinkan untuk menjadi pengelola fasilitas olahraga, seperti JIS.

Persija bisa mengoptimalkan branding klub serta potensi komersial stadion, mulai dari tiket pertandingan, penyewaan untuk event hingga pemanfaatan fasilitas penunjang lainnya.

Namun, di balik peluang itu, realita finansial klub Macan Kemayoran membuat kemungkinan tersebut terlihat tipis.

Berbeda dengan klub-klub di Eropa memiliki pondasi finansial keuangan yang kuat dan sponsor yang besar, Persija saat ini berada dalam kondisi finansial yang tidak baik-baik saja.

Masalah ini bukan sekedar isu internal, melainkan sudah menjadi pembicaraan terbuka di kalangan pemain, suporter, bahkan asosiasi sepakbola profesional.

Kondisi Finansial Persija

Musim lalu menjadi catatan pahit. Klub ini tersandung masalah keterlambatan pembayaran gaji pemain.

Pelatih carateker Ricky Nelson secara terbuka mengakui memang sempat ada masalah internal setelah putaran kedua, gaji pemain terlambat dibayar.

Keluhan juga datang dari Ketua The Jakmania, Dicky Budi Ramadhan, yang mengkritik gaya belanja pemain yang tidak seimbang dengan kemampuan finansial klub.

Bahkan Asosiasi Sepakbola Profesional Indonesia (APPI) memastikan sejumlah pemain mengalami tunggakan gaji hingga dua sampai tiga bulan.

Kondisi ini bukan hanya mempengaruhi hubungan klub dengan pemain, tetapi juga menggerus kepercayaan pemangku kepentingan lainnya.

Dalam industri sepak bola profesional, reputasi finansial yang buruk bisa menjadi hambatan besar dalam mendapatkan investasi dan kerja sama strategis.

Ketidakpastian ini menimbulkan risiko besar jika persija tetap memaksakan ingin memegang kendali penuh terhadap JIS.

Tahun ini, Gubernur DKI bahkan turun tangan membantu Persija dengan menghadirkan BUMD sebagai sponsor, di antaranya PAM Jaya, Bank Jakarta, MRT Jakarta, Transjakarta, termasuk Jakpro selaku pemilik aset JIS yang turut memberikan keringanan biaya sewa stadion dan memprioritaskan Persija untuk menggelar pertandingan kandang.

Langkah ini untuk membantu menutup sebagian kebutuhan operasional, namun bantuan tersebut lebih bersifat penopang sementara.

Sebab, bergantung pada dukungan sponsor dari BUMD saja tentu bukan strategi berkelanjutan dan solusi jangka panjang bagi klub sebesar Persija, terlebih jika ditambah tanggung jawab mengelola aset sekelas JIS.

Mengelola JIS: Tugas Berat yang Butuh Modal Besar

Mengelola stadion sekelas JIS bukanlah pekerjaan ringan. Biaya operasionalnya mencapai puluhan bahkan ratusan miliar rupiah per tahun, mulai dari perawatan rumput standar FIFA, keamanan, kebersihan, listrik, serta fasilitas lainnya hingga promosi acara.

Bagi klub yang masih berjuang membayar gaji tepat waktu, beban ini bukan hanya tantangan, tetapi bisa menjadi risiko besar yang memperburuk krisis finansial.

Pemprov DKI Jakarta tentu tidak ingin aset bernilai triliunan rupiah itu jatuh ke tangan pengelola yang tidak siap.

Jakpro sebagai pemilik aset, akan memilih mitra yang mampu menjaga kualitas stadion, memastikan operasional berjalan lancar, dan memberi pemasukan bagi daerah.

Dengan rekam jejak keuangan Persija saat ini, sulit membayangkan mereka bisa memenuhi semua prasyarat tersebut.

Pada akhirnya, peluang bagi Persija itu ada, tetapi jaraknya dengan kenyataan sangat lebar.

Persija mungkin akan terus menggunakan JIS sebagai markas kebanggaan. Namun menjadi pengelola penuh stadion ini tampaknya masih sebatas mimpi yang menuntut modal besar, manajemen rapi, dan stabilitas finansial -- tiga hal yang hingga kini belum benar-benar mereka miliki.

*Penulis adalah Ketua Pemerhati Jakarta

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya