Berita

Ilustrasi Foto: Kaum intelektual era pergerakan nasional - Perhimpunan Indonesia di Belanda/Ist

Publika

Renew Kaum Intelektual

SELASA, 05 AGUSTUS 2025 | 06:09 WIB | OLEH: JIMMY H SIAHAAN

INTELEKTUAL berasal dari Chanakya, seorang politikus dalam pemerintahan Kekaisaran Maurya di bawah pemerintahan Chandragupta.

Secara umum, terdapat tiga pengertian modern untuk istilah "intelektual", yaitu: Pertama, mereka yang amat terlibat dalam ide-ide dan ruang diskusi.
 
Kedua, mereka yang mempunyai keahlian dalam budaya dan seni yang memberikan kewibawaan kebudayaan, yang kemudian mempergunakan kewibawaan itu untuk mendiskusikan perkara-perkara lain di khalayak ramai. Golongan ini dipanggil sebagai "intelektual budaya".


Ketiga, dari segi Marxisme, mereka yang tergolong dalam kelas dosen, guru, pengacara, wartawan, dan sebagainya. Oleh karena itu, intelektual sering kali dikaitkan dengan individu yang telah lulus dari perguruan tinggi atau universitas. 

Namun, Sharif Shaary, seorang dramawan terkenal dari Malaysia, menekankan bahwa hakikatnya tidaklah sesederhana itu. Ia berpendapat bahwa: "Belajar di universitas bukan jaminan seseorang dapat menjadi intelektual". Seorang intelektual adalah pemikir yang sentiasa berpikir dan mengembangkan (serta) menyumbangkan gagasannya untuk kesejahteraan masyarakat.

Menurut August Comte ada dua tahap perkembangan intelektual, yang masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumnya.

Pertama, tahap teologis, yakni tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di atas manusia.

Kedua, tahap metafisis, yakni tahap manusia menganggap bahwa di dalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. 

Oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam.

Ketiga, tahap positif, yakni tahap di mana manusia mulai berpikir secara ilmiah. Seorang intelektual tidak boleh menjadi intelektual bisu, kecuali dia benar-benar bisu atau dibisukan.

Jika betul-betul bisu, seorang intelektual masih dapat bertindak dengan menyatakan pikiran melalui penulisan yang akhirnya akan sampai juga kepada khalayak ramai. Inilah yang dikatakan intelektual bisu yang tidak bisu

Sebaliknya, terdapat intelektual yang tidak bisu tetapi bisu. Dia menjadi bisu mungkin karena "dia takut atau berkepentingan."

Prof Dr Juwono Sudarsono, menyatakan bahwa "20 tahun di bawah Soekarno dan 30 tahun di bawah Soeharto" sebagai masa serba hitam, kelam, dan suram sesungguhnya mengingkari kaidah pendidikan dan kebudayaan yang menuntut kita bersikap seimbang sebagaimana layaknya cendikiawan memandang sejarah bangsanya.

Kebisuan kaum intelektual nampaknya berkepanjangan. Kita kehilangan momentum selama setengah abad. Hal yang sangat kontras dengan setengah abad sebelumnya. Jauh berbeda ketika para pemuda bersemangat untuk berjuang untuk membuat Revolusi Kemerdekaan.

Hampir tiga dasawarsa kemudian, yang tersisa adalah langkah pencerahan yang mandek disebut "reformasi". Dalam perjalanan langkah ini akhirnya tersendat, tertatih, keluar dari jalur rel perubahan.

Dari masa serba hitam "selama setengah abad", kita masuk "hampir tiga dasawarsa" berjalan kembali ke masa cemas. Semangat pemuda dan Kaum Intelektual seolah kembali membisu.

Dalam keadaan masa cemas, saat ini republik sedang dihinggapi kembali dengan sebuah "kemarahan sakral" akibat "korupsi tsunami" yang semakin membuat frustasi puncak gunung rakyat.

Demikian juga tentang kisah penantian sang pemimpin sebagai Satria Piningit yang ternyata hanyalah impian di siang hari, ataupun seorang "Meister von Himmel gefallen," seorang jagoan yang turun dari langit.

Hamengku Buwono X mengutip, antara lain dari KH Agus Salim, "leiden is lijden" memimpin adalah menderita, ini serupa dengan ucapan Jenderal Soedirman "Jangan biarkan rakyat menderita, biarlah kita prajurit (baca: pemimpin) yang menderita". Demikian juga Mohammad Roem berkata yang sama.

Memasuki delapan dasawarsa, kini kita menanti  adanya semangat "Renew" tenaga dan gerakan baru kaum intelektual yang bergerak membuat sebuah langkah raksasa (Giant Step).

*Penulis adalah Eksponen Gema 77/78

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

UPDATE

Kejagung Periksa PNS Pemprov Banten terkait Korupsi MBG

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:17

Ahli dari Polri Untungkan Febri Adriansyah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 06:03

Kinerja BUMD DKI Dituntut Lebih Terukur

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:53

Bayar Rp650 Juta tapi Gagal Lolos Kedokteran Unsoed

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:41

KPK Bongkar Mahar Rp1,12 Miliar di Jalur Mandiri Unsoed

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:29

Kiai Marsudi Dinilai Mampu Membangun Kemajuan NU Tanpa Kehilangan Jati Diri

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 05:17

Rektor Unsoed Diduga Terima Gratifikasi Rp680 Juta Lewat Mulyono

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:46

Ahli Praperadilan Febrie Sebut TPPU Perlu Tindak Pidana Asal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:29

Sjafrie Terima Menhan China: Perkuat Kerja Sama Militer

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:16

Mantan Dirdik Jampidsus Jasman Panjaitan Beberkan Kesaksian terkait Febrie

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 04:05

Selengkapnya