Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Dari Dua Revolusi Hingga Imperialisme

SENIN, 14 JULI 2025 | 02:21 WIB | OLEH: JIMMY H SIAHAAN

SEBUAH pertanyaan mengapa sejarah dunia seperti bawang? Sejarah dunia  menyerupai bawang! Tetapi pengulapasan lapis demi lapis harus dikupas dalam rangka pemahaman sejarah.

Padi dan Gandum bertumbuh karena adanya revolusi. Dalam ilmu pertanian, zaman neolitikum ini sering dianggap sebagai revolusi pertanian pertama, atau revolusi neolitikum dimana pertanian dan peternakan mulai menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Semua membuat kita sadar bahwa baru sebentar hadir di bumi ini, bahwa pertanian dan sains baru ada, dan sebaiknya kita jangan menganggap enteng semua ini, Barack Obama, mengomentari buku berjudul: Sapiens, dikarang oleh Harari.


Ahli Sejarah ketenagakerjaan Eric Hobsbawn menulis, "Siapa pun yang menyebut Revolusi Industri, berarti menyebut Kapas. " Hari ini, barangkali dia menggantinya dengan " bahan bakar fosil". 

Nama Padi dan Kapas, dikenal lahir setelah melewati "Dua Revolusi" Pertanian & Industri. Dalam, Sapiens, kebangkitan peradaban manusia, dari sudut pandang alien, ahli sejarah Yuval Noah Harari berpendapat, dalam  apa yang disebut Revolusi Neolitik, adalah kemajuan "Kita tak mendomestikasi gandum. Namun Gandum mendomestikasi kita".

Dalam ilmu politik dan antropologi anarki James C Scott mengajukan kritik tajam terhadap periode yang sama, budidaya gandum, bertanggung jawab atas kehadiran sebagai kekuasaan negara, berikut birokrasi dan penindasan dan kesenjangan.

Jared Diamond dalam bukunya, Guns, Germ, Steel yang membahas ekologi dan geografis mengenai kebangkitan dunia Barat industrial. Istilah "Neoliberalisme" telah menjadi kata makian yang digunakan kelompok kiri sejak Resesi Besar. 

Sebelumnya istilah sebagai penjabaran akan bertambahnya kekuatan pasar, terutama pasar uang. Mengerasnya konsesus di negara-negara dalam bentuk privatisasi, deregulasi, kebijakan pajak ramah korporat, promisi perdagangan bebas.

Selanjutnya dalam buku berjudul Collapse, bahkan menyebut Revolusi Neolitik sebagai  "kesalahan terburuk dalam sejarah umat manusia". Kupasan sejarah selanjutnya tentang gula, karet, cengkeh, timah dalam sejarah imperialisme dan kolonialisme. 

Imperialisme dan Kolonialisme

"Kisah yang telah menguasai dunia dalam beberapa dasawarsa, yang kita sebut Kisah Liberal". Sejarah  imperialisme pertama kali muncul di Inggris pada akhir abad XIX. Disraeli, perdana menteri Inggris, ketika itu menjelmakan politik yang ditujukan pada perluasan kerajaan Inggris hingga suatu "impire" yang meliputi seluruh dunia. 

Politik Disraeli ini mendapat oposisi yang kuat. Golongan oposisi takut kalau politik Disraeli itu akan menimbulkan krisis-krisis internasional. Karena itu mereka menghendaki pemusatan perhatian pemerintah pada pembangunan dalam negeri daripada berkecipuhan dalam soal-soal luar negeri. 

Golongan oposisi ini disebut golongan Disraeli (Joseph Chamberlain, Cecil Rhodes) disebut golongan "Empire" atau golongan "Imperialisme". Timbulnya perkataan imperialis atau imperialisme, mula-mula hanya untuk membeda-bedakan golongan Disraeli dari golongan oposisinya, kemudian mendapat isi lain hingga mengandung arti seperti yang kita kenal sekarang.

"Kuingin mencaplok planet-planet itu, kalau saya mampu." Sabda Cecil Rhodes. Rhodes ingin memperluas Kekaisaran Inggris karena ia percaya bahwa ras Anglo-Saxon ditakdirkan untuk menjadi bangsa yang hebat.  

Dalam apa yang ia gambarkan sebagai "draft beberapa ide saya" yang ditulis pada tahun 1877 saat menjadi mahasiswa di Oxford, Rhodes berkata tentang bangsa Inggris, "Saya berpendapat bahwa kita adalah ras pertama di dunia, dan semakin banyak dunia yang kita huni, semakin baik bagi umat manusia". 

Saya berpendapat bahwa setiap hektar yang ditambahkan ke wilayah kita berarti kelahiran lebih banyak ras Inggris yang jika tidak, tidak akan ada". Rhodes meratapi bahwa hanya ada sedikit tanah yang tersisa untuk ditaklukkan dan berkata; "bayangkan bintang-bintang yang anda lihat di atas kepala pada malam hari, dunia-dunia luas yang tidak akan pernah dapat kita jangkau".

"Saya akan mencaplok planet-planet jika saya bisa; Saya sering memikirkan itu. Itu membuat saya sedih melihat mereka begitu jelas namun begitu jauh". Kekaisaran, seperti yang selalu saya katakan, adalah masalah roti dan mentega. "Jika Anda ingin menghindari perang saudara, Anda harus menjadi imperialis".

Rhodes ingin mengembangkan Persemakmuran di mana semua negara yang didominasi Inggris di kekaisaran akan diwakili di Parlemen Inggris. Dikatakan bahwa ia ingin mengembangkan elit Amerika dari raja-raja filsuf yang akan membuat Amerika Serikat bergabung kembali dengan Kekaisaran Inggris. 

Ia percaya bahwa pada akhirnya Inggris (termasuk Irlandia), AS, dan Jerman bersama-sama akan mendominasi dunia dan memastikan perdamaian abadi. Menurut Magubane, Rhodes "tidak senang bahwa di banyak Daerah Pemilihan Cape, orang Afrika dapat menentukan jika lebih banyak dari mereka yang menggunakan hak pilih ini berdasarkan hukum saat ini merujuk pada Hak Pilih Berkualitas Cape," dengan Rhodes berpendapat bahwa "penduduk asli harus diperlakukan seperti anak kecil dan ditolak hak pilihnya". 

Kita harus mengadopsi sistem despotisme, seperti yang berlaku di India, dalam hubungan kita dengan barbarisme Afrika Selatan". Rhodes menganjurkan pemerintahan penduduk asli Afrika yang tinggal di Cape Colony "dalam keadaan barbarisme dan kepemilikan komunal" sebagai ras subjek. 

Saya tidak sampai pada anggota untuk Victoria Barat, yang tidak akan memberikan suara kepada orang kulit hitam. ... Jika orang kulit putih mempertahankan posisi mereka sebagai ras tertinggi, suatu hari nanti kita akan bersyukur bahwa kita memiliki penduduk asli bersama kita di posisi yang tepat".

Dia pernah menyatakan "Saya lebih suka tanah daripada orang Negro" dan menyebut 'ras Anglo-Saxon' sebagai "ras terbaik, paling manusiawi, paling terhormat di dunia". Dia berpikir bahwa tanah yang ditempati oleh "spesimen manusia paling hina" harus dihuni oleh orang Anglo-Saxon (Rhodes karya Mortimer Menpes ,1901).

Namun, pandangan ini dibantah oleh pihak lain. Misalnya, sejarawan Raymond C. Mensing mencatat bahwa Rhodes memiliki reputasi sebagai contoh paling flamboyan dari semangat imperialis Inggris, dan selalu percaya bahwa institusi Inggris adalah yang terbaik. 

Mensing berpendapat bahwa Rhodes diam-diam mengembangkan konsep federasi imperialis di Afrika yang lebih bernuansa, dan bahwa pandangannya yang matang lebih seimbang dan realistis. Menurut Mensing, "Rhodes bukanlah seorang rasis biologis atau maksimal". 

Terlepas dari dukungannya terhadap apa yang menjadi dasar sistem apartheid, ia paling baik dilihat sebagai seorang rasis kultural atau minimal". Dalam sebuah opini tahun 2016 untuk The Times, profesor Universitas Oxford Nigel Biggar berpendapat bahwa meskipun Rhodes adalah seorang imperialis yang berkomitmen, tuduhan rasisme terhadapnya tidak berdasar.  

Dalam sebuah artikel tahun 2021, Biggar lebih lanjut berpendapat bahwa: Jika Rhodes seorang rasis, ia tidak akan menjalin hubungan baik dengan orang-orang Afrika, ia tidak akan menganggap mereka mampu beradab, dan ia tidak akan mendukung hak pilih mereka sama sekali. Ia juga tidak akan menetapkan dalam surat wasiat terakhirnya pada Juli 1899 bahwa beasiswa yang akan menyandang namanya harus diberikan tanpa memandang "ras". Namun, ia tetap melakukan semua itu.

Dalam politik dalam negeri di Inggris, Rhodes adalah pendukung Partai Liberal . Satu-satunya dampak besar Rhodes adalah dukungannya yang besar terhadap partai nasionalis Irlandia, yang dipimpin oleh Charles Stewart Parnell.
 
Dan dalam beberapa hal lebih baik, mengingat genosida penduduk asli di Afrika tidak sepenuhnya tuntas. Karena semua bekas koloni Afrika kini diperintah oleh masyarakat adat, tidak seperti Amerika dan Antipoda, yang sebagian besar penduduk asli pribuminya hampir punah".

Kini kisah imperialisme, terus melangkah berekspansi berlanjut dari zaman "kapitalis fosil saat kekinian sebagai kapitalis digital".

Sejarah di mana segala sesuatunya menjadi sangat gelap juga, akhir abad ke-XIX di Inggris, akhir abad ke-XX di Amerika Serikat, era-era yang sangat tidak bermoral, tidak setara, dan di mana kita memiliki selalu elite yang tidak bertanggung jawab.

*Penulis adalah eksponen Gema 77/78

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kemendag: Wajib Halal Bukan Pelarangan Impor

Sabtu, 26 September 2026 | 06:30

Baznas dan Komite Bantuan Kepresidenan Palestina Perkuat Kerja Sama Kemanusiaan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:12

Instruksi Prabowo soal Kuliah Gratis PTN Harus Diprioritaskan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:00

Serba ‘Tidak’ di Sidang Gibran

Sabtu, 26 September 2026 | 05:41

Cuma Tambah Dua Perunggu, Peringkat Indonesia Merosot

Sabtu, 26 September 2026 | 05:17

Jalur Sepeda Jangan cuma Jadi Pajangan

Sabtu, 26 September 2026 | 05:00

Benarkah Pengganti Gibran Sudah Ada?

Sabtu, 26 September 2026 | 04:29

Korlantas Polri Luncurkan Empat Inovasi Digital

Sabtu, 26 September 2026 | 04:18

Jangan Istimewakan Oknum DPRD Diduga Bakar Lahan

Sabtu, 26 September 2026 | 04:00

Kepala BNPB Minta Maaf soal Karhutla: Klarifikasi Istilah 'Normal'

Sabtu, 26 September 2026 | 03:46

Selengkapnya