Berita

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning/Net

Dunia

Tiongkok Kritik Ancaman Tarif 10 Persen Trump untuk BRICS

SENIN, 07 JULI 2025 | 17:19 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Pemerintah Tiongkok akhirnya merespons ancaman tarif baru yang dikenakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap negara-negara BRICS. 

Dalam unggahan di platform Truth Social pada Minggu, 6 Juli 2025, Trump menyatakan akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 10 persen terhadap negara-negara yang mendukung kebijakan anti-Amerika BRICS tanpa memberikan pengecualian.

Ia juga menyebut akan mulai mengirim surat pemberitahuan tarif atau mengumumkan kesepakatan dagang mulai Senin, 7 Juli 2025, menyusul berakhirnya jeda 90 hari tarif timbal baliknya.


Merespons hal tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, menekankan bahwa BRICS adalah forum kerja sama ekonomi yang bersifat inklusif, bukan alat konfrontasi geopolitik.

"BRICS merupakan platform penting untuk kerja sama di antara pasar-pasar baru di negara-negara berkembang. BRICS menganjurkan keterbukaan, inklusivitas, dan kerja sama yang sukarela. BRICS bukanlah blok untuk konfrontasi, dan tidak menargetkan negara mana pun," tegas ujar Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing pada Senin.

Lebih lanjut, Mao juga mengkritik kebijakan proteksionis yang kembali digaungkan oleh Trump, memperingatkan bahwa langkah tersebut akan menimbulkan kerugian besar.

"Terkait kenaikan tarif AS, Tiongkok telah memperjelas posisinya lebih dari sekali. Perang dagang dan perang tarif tidak memiliki pemenang, dan proteksionisme tidak akan membawa hasil," ujarnya seperti dimuat News Week. 

Ancaman tarif dari Trump muncul bersamaan dengan pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-17 yang digelar di Rio de Janeiro, Brasil, pada Minggu, 6 Juli 2025. 

Dalam deklarasi bersama, kelompok negara berkembang yang terdiri dari 11 negara itu mengecam keras peningkatan tarif dan tindakan sepihak lainnya yang dianggap merusak perdagangan global.

Meskipun tidak menyebut nama Trump secara eksplisit, BRICS menyatakan keprihatinan serius terhadap peningkatan tarif sepihak yang tidak konsisten dengan aturan WTO. 

Langkah-langkah seperti itu dinilai mengancam akan mengurangi perdagangan global, mengganggu rantai pasokan global, dan menimbulkan ketidakpastian yang luas.

Selain isu perdagangan, deklarasi KTT juga menyoroti serangan militer terhadap Iran dan operasi militer Israel di Timur Tengah, namun menghindari kritik langsung terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina.

KTT BRICS kali ini juga menandai absennya dua tokoh paling berpengaruh dalam kelompok tersebut. 

Presiden Tiongkok Xi Jinping tidak hadir untuk pertama kalinya sejak menjabat pada 2012. Sementara Presiden Rusia Vladimir Putin mengikuti jalannya pertemuan secara daring, karena masih terhalang oleh surat perintah penangkapan internasional terkait invasi ke Ukraina.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

UPDATE

Perlindungan Orang Utan Kalimantan dari Karhutla Terus Diperkuat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 03:43

Benarkah Hari Kliwon Lebih Rawan Kecelakaan?

Rabu, 14 Oktober 2026 | 03:17

Lindungi Kehidupan Nelayan, KKP Segel Tambak Udang Tak Berizin di Karimunjawa

Rabu, 14 Oktober 2026 | 02:46

Pasis Dikreg Seskoad Peroleh Doktrin Kepemimpinan dari Wapang TNI

Rabu, 14 Oktober 2026 | 02:20

Dampak MBG Bikin Konsumsi Protein Anak Naik hingga Hampir 80 Persen

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:57

Ekonomi Biru Dijaga, Nelayan Disejahterakan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:40

Peradi Profesional Dukung Langkah Presiden Bersih-bersih Mafia Tambang

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:16

DPR Minta PLN Percepat Pemulihan Listrik di Batam-Bintan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:59

Staf Ahli Kapolri Pastikan Penanganan Maksimal Kabut Asap di Kalteng

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:43

Kepala BRAN dan Menteri PKP Bidik Percepatan Lahan untuk Rumah Rakyat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:20

Selengkapnya