Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

BRICS Desak Reformasi IMF, Serukan Distribusi Hak Suara Lebih Adil

MINGGU, 06 JULI 2025 | 09:28 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Menteri-menteri keuangan dari kelompok negara-negara berkembang BRICS secara tegas menyerukan reformasi Dana Moneter Internasional (IMF), dengan fokus pada redistribusi hak suara yang lebih mencerminkan realitas ekonomi global saat ini. 

Seruan tersebut disampaikan dalam pernyataan bersama usai pertemuan di Rio de Janeiro, Brasil pada Sabtu waktu setempat, 5 Juli 2025.

"Penataan ulang kuota harus mencerminkan posisi relatif para anggota dalam ekonomi global, sambil melindungi bagian kuota dari anggota termiskin," tulis para menteri dalam pernyataan bersama, yang untuk pertama kalinya menyatukan sikap negara-negara BRICS terkait reformasi IMF, seperti dimuat Telegraph.


Reformasi yang diusulkan termasuk perubahan pada sistem kuota IMF yang selama ini menentukan besaran kontribusi dan hak suara suatu negara, serta mengakhiri tradisi pimpinan IMF yang selalu berasal dari Eropa. 

Para menteri menekankan perlunya formula baru dalam distribusi kuota yang mempertimbangkan hasil ekonomi dan daya beli riil masing-masing negara.

Mereka juga menegaskan pentingnya mereformasi manajemen IMF yang selama ini didominasi oleh negara-negara Barat.

"Dengan penuh rasa hormat terhadap proses seleksi berdasarkan prestasi, representasi regional harus ditingkatkan untuk manajemen IMF, mengatasi kesepakatan para pejabat pasca-Perang Dunia II yang kuno dan tidak sesuai dengan tatanan dunia saat ini," tegas mereka.

Selain reformasi IMF, pernyataan tersebut juga mengonfirmasi bahwa BRICS sedang membahas pembentukan mekanisme jaminan baru yang akan didukung oleh New Development Bank (NDB), lembaga keuangan multilateral yang didirikan oleh BRICS. 

Mekanisme ini bertujuan untuk menurunkan biaya pembiayaan dan memperkuat investasi di negara-negara berkembang.

Seruan datang menjelang pertemuan puncak para pemimpin BRICS di Rio de Janeiro, yang akan menjadi yang pertama setelah kelompok tersebut diperluas tahun lalu. 

Kini, BRICS tidak hanya beranggotakan Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, tetapi juga mencakup Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Perluasan tersebut telah memperkuat pengaruh diplomatik BRICS sebagai suara utama negara-negara berkembang di belahan bumi selatan.

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

UPDATE

H+3 Lebaran Emas Antam Stagnan, Buyback Merosot Rp80 Ribu

Selasa, 24 Maret 2026 | 10:01

NTT Butuh Alat Berat dan Logistik Mendesak Pasca Banjir dan Longsor

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:47

Rahasia AC Mobil Tetap Beku di Tengah Kemacetan Arus Balik Lebaran 2026

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:40

Prabowo Telepon Presiden Palestina, Tegaskan Solidaritas dari Indonesia

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:34

Harga Minyak Anjlok 11 Persen

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:22

Menanti Pembukaan Bursa Usai Libur Lebaran: Peluang dan Risiko di Pasar Saham RI

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:01

Saham-saham Asia Terbang Usai Keputusan Trump

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:44

Iran: Tidak Ada Negosiasi dengan AS, Itu Berita Bohong untuk Manipulasi Pasar

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:33

Pasar Saham AS Melonjak Setelah Trump Tunda Serangan ke Iran

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:18

Leonid Radvinsky Wafat: Jejak Sang Raja Platform OnlyFans yang Fenomenal

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:07

Selengkapnya