Berita

Ilustrasi/RMOL

Publika

Tambang Emas dan Oligarki

Oleh: Muh Idil*
KAMIS, 03 JULI 2025 | 21:25 WIB

KAWASAN pegunungan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, kian menjadi medan kontestasi kepentingan segelintir elite ekonomi. Di balik tambang emas yang menjanjikan kemakmuran itu, tersingkap praktik lama kapitalisme ekstraktif yang bertahan dalam rupa baru: kemitraan antarperusahaan tambang yang disokong oligarki, difasilitasi negara, dan dibungkam melalui bahasa pembangunan.

PT Masmindo Dwi Area, perusahaan pemegang konsesi tambang emas di Latimojong, dalam rilis resminya menyebutkan dua mitra kontraktor besar: PT Petrosea Tbk dan PT Macmahon Indonesia. Namun, di balik nama-nama ini, berdiri gurita kuasa modal yang sudah lama mengukir jejak dalam eksploitasi sumber daya alam Indonesia.

Laporan Keuangan Konsolidasian PT Petrosea Tbk tertanggal 27 Maret 2024 yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Imelda & Rekan, dan ditandatangani oleh Presiden Direktur Michael, mengungkap benang merah lama antara korporasi tambang dan konglomerasi.


Hingga 2022, PT Indika Energy Tbk milik Arsjad Rasjid dan Agus Lasmono pernah menjadi pemegang saham Petrosea. Dalam periode inilah Petrosea dan PT Masmindo meneken kontrak jumbo, termasuk proyek FEED senilai lebih dari Rp185 miliar dan Notice to Proceed sebesar Rp58 miliar. Bahkan, kontrak perpanjangan senilai Rp95 miliar diteken pada 2022, dengan masa berlaku hingga Agustus 2025.

Walau Indika kini resmi lepas dari Petrosea, tidak berarti gurita kuasa telah putus. Justru, relasi bisnis tambang tetap berlangsung di antara mereka yang sejak awal sudah menguasai denyut ekonomi ekstraktif di republik ini.

Oligarki di Ruang Kendali

Siapa sebenarnya pemilik dari perusahaan-perusahaan ini? Petrosea kini berada dalam kendali PT Kreasi Jaya Persada milik Prajogo Pangestu, orang terkaya Indonesia versi Forbes 2024. Sementara PT Macmahon Indonesia, meski berbendera Australia, sepenuhnya dikuasai pihak Indonesia melalui PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Di dalamnya, terbenam kepemilikan Salim Group melalui PT Sumber Gemilang Persada (45,18 persen), PT Medco milik Agoes Projosasmito, dan AP Investment yang juga terhubung dengan elite tambang nasional.

Jaringan saham berlapis itu tidak berhenti pada nama-nama besar tersebut. Happy Hapsoro, suami Ketua DPR Puan Maharani, juga disebut memiliki saham di Petrosea. Demikian pula Romo Nitiyudo, pemilik Indotan Group yang sebelumnya terlibat dalam sengketa tambang di Blok Wabu, Papua.

Apa yang terjadi di Latimojong bukan hanya cerita tentang kontrak, melainkan tentang bagaimana oligarki menyamarkan kuasa melalui skema proxy business. Skema ini melibatkan perusahaan cangkang, perantara kepemilikan, hingga rekayasa struktur saham untuk menyamarkan pengaruh nyata. Hasilnya: penguasaan tambang berlangsung tanpa jejak langsung, sementara tanggung jawab sosial dan ekologis dilemparkan ke pihak-pihak ketiga.

Praktik ini melanggengkan apa yang disebut David Harvey sebagai accumulation by dispossession, akumulasi modal melalui perampasan. Tanah dan hutan disulap menjadi “aset” tambang; rakyat kehilangan ruang hidup, sementara perusahaan panen dividen.

Tambang Murah, Bencana Mahal

Masyarakat Luwu telah lama memendam keresahan. Model tambang terbuka (open pit mining) yang direncanakan Masmindo merupakan metode murah bagi korporasi, tapi mahal bagi lingkungan dan masyarakat. Risiko longsor, banjir, dan rusaknya sumber mata air kini menjadi harga yang tak dibayar dalam neraca laba rugi perusahaan.

Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, sempat meminta agar metode ini dikaji ulang. Namun, tanpa tindak lanjut konkret, pernyataan itu hanya menjadi kosmetik populis di tengah derasnya tekanan modal.

Jika pemerintah benar berpihak pada rakyat, seharusnya dibentuk tim evaluasi independen yang melibatkan akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas adat. Namun, hingga kini, suara-suara dari bawah seolah dikubur bersama tanah-tanah yang digali.

Pertanyaannya sederhana: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari tambang emas Latimojong? Jawabannya, lagi-lagi: segelintir elit ekonomi-politik yang menguasai tambang di berbagai pelosok negeri. Dari Papua hingga Sulawesi, dari Wabu hingga Latimojong, pola relasi kuasa tetap sama: rakyat dijanjikan kesejahteraan, tapi hanya diberi upah murah, polusi, dan konflik agraria.

Di tengah hiruk-pikuk narasi "hilirisasi" dan "investasi hijau", tambang Latimojong menunjukkan bahwa model ekonomi ekstraktif belum berubah. Ini bukan tentang emas, tapi tentang bagaimana negara terus gagal menjadi pelindung rakyat dari kuasa kapital.

Negara, Untuk Siapa?

Negara seharusnya berdiri sebagai penyeimbang antara kepentingan rakyat dan kekuatan modal. Namun ketika negara justru menjadi fasilitator akumulasi, maka pertanyaan dasarnya bukan lagi soal tambang melainkan soal legitimasi: negara ini milik siapa?

Latimojong bukan sekadar lanskap geografis. Ia adalah cermin telanjang dari politik sumber daya di Indonesia: rakyat menunggu keadilan, sementara oligarki terus menambang, menambang, dan menambang.


*Penulis adalah Ketua Bidang ESDM DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya