Berita

Putri Ariani/Ist

Publika

‘Berdaya Diri’ Gaya Putri Ariani

MINGGU, 29 JUNI 2025 | 07:00 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

DI tengah hiruk-pikuk bazar perbankan syariah dan hingar-bingar industri modest fashion -- yang biasanya sibuk menjual gamis bordir dengan bonus tote bag -- tiba-tiba suasana hening. Hadirin menatap ke arah Putri Ariani yang duduk di kursi, di atas panggung.

“Malam ini, teman-teman, saya ingin menyanyikan lagu baru,” katanya, dengan suara tegar. “Pernahkah kita sadari hebatnya diri kita yang selalu tangguh?” Ia mengaku, lagu “Berdaya Diri” ditulisnya untuk kita —mereka yang mesti terus melangkah, meski dunia tak selalu ramah.

“Ada kalanya hidup memang tidak berpihak pada kita. Tapi yakini, segala proses yang telah kita lewati atau yang akan kita jalani adalah bentuk dari bagaimana diri kita berdaya,” lanjutnya, dalam kalimat-kalimat yang sekaligus menjadi tafsir dari lirik lagunya.


Putri membuka suara -- secara harfiah dan simbolis -- di panggung acara BSI International Expo 2025, di Jakarta tadi malam. Bukan untuk menjual saham syariah atau diskon skincare halal, melainkan untuk menyanyikan lagu-lagu, termasuk yang baru ciptaannya.

Tapi sungguh, ini bukan sekadar lagu. Ini karya yang lahir dari pendalaman diri Putri, yang bukan hanya layak masuk playlist harian, tapi juga pantas dikutip dalam khutbah Jumat dan caption Instagram bertagar #inspirasi.

Suaranya menggetarkan. Bahkan mungkin sempat membuat para pejabat yang duduk tegak dengan wajah kaku di kursi VIP merasa seperti mereka juga ingin bangkit dan berdaya diri --walau hanya untuk berdiri dan ikut tepuk tangan.

Tapi yang lebih menggetarkan lagi adalah barisan kursi roda di deretan depan, diisi para penyandang disabilitas. Mereka tak sekadar menjadi “hiasan belas kasih”, melainkan subjek kekuatan itu sendiri. Dalam lagunya, Putri bernyanyi seolah mengisahkan perjalanan hidupnya:

Kelak perjuanganmu kan temukan jalannya,
Langkah kecilmu membawa harapan…


Tunggu. Ini bukan lirik biasa. Ini kisah tentang perjuangan Putri hingga tiba di puncak. Ini semacam kitab saku harian bagi siapa pun yang pernah jatuh, tersesat, atau tersandung selimut sendiri di pagi hari lalu memutuskan menyerah pada hidup. Dan lagu ini berkata: jangan!

Karena kamu -- iya, kamu yang sedang lelah dan lupa password hidup -- sungguh begitu bermakna.

Dan tentu, tak lengkap rasanya jika peluncuran lagu ini tak dikaitkan dengan kolaborasi. Zaman sekarang, bahkan lagu harapan pun perlu berjejaring.

Maka datanglah Klamby, jenama modest fashion nasional yang berhasil memadukan kain, kampanye, dan kekuatan afirmasi dalam satu gerakan bernama #LangkahBerdayaDiri.

Sambil menjual kebaya, mereka juga menjual ide: bahwa mencintai diri sendiri bukanlah dosa, apalagi bentuk narsisme -- melainkan strategi bertahan hidup.

Putri menyebut, “Perempuan hebat adalah yang tahu cara merangkul kelemahan menjadi kekuatan.” Sebuah kalimat yang seharusnya ditulis di kaca kamar mandi, agar setiap pagi kita tahu bahwa bedak luntur dan jerawat hormonal bukanlah musuh besar hidup ini.

Namun di balik keindahan melodi dan kampanye ini, mari kita jujur. Masyarakat kita masih sering gagap ketika bicara soal disabilitas. Kita membungkusnya dengan istilah “berkebutuhan khusus”, seolah hendak menyamarkan fakta bahwa dunia ini belum cukup ramah.

Kita bertepuk tangan panjang untuk Putri Ariani, tapi cobalah renungkan: masih banyak gedung tanpa akses kursi roda, masih banyak sekolah yang ragu menerima murid tunanetra karena “kurikulum belum siap”, masih banyak dari kita yang tak mau memahami mereka yang berbeda.

Lagu “Berdaya Diri” ini seperti cermin —memperlihatkan bahwa suara penyandang disabilitas bukan untuk dikasihani, melainkan untuk dipahami dan diangkat. Bukan sekadar objek program CSR, tapi subjek perubahan sosial.

Dan akan sangat ironis jika lagu ini hanya berhenti di panggung, tidak menular ke kebijakan. Karena sehebat apa pun nada tinggi Putri Ariani, dunia tak akan berubah hanya dengan tangis haru dan standing ovation. Dunia berubah ketika keadilan menjadi kebiasaan, dan kesetaraan menjadi refleks sosial.

Maka mari kita beri tepuk tangan -- sekali lagi, bukan hanya untuk lagu, tapi untuk pesan di balik lagu. Lagu yang menampar kita dengan kelembutan, menggedor kesadaran dengan ketenangan, dan menyanyikan perlawanan dengan senyuman.

Putri Ariani memang tidak melihat. Tapi ia membuat kita melihat lebih jauh. Melihat bahwa berdaya diri bukan sekadar lirik indah, tapi kerja keras yang tak boleh berhenti. Dan tentu saja, seperti ia nyanyikan:

Berani melangkah hadapi dunia,
Yakini untuk kita percaya —karena kita bermakna.

Walau kadang dunia ini terasa seperti bazar fashion yang terlalu ramai dan penuh diskon palsu, tetaplah percaya bahwa kamu bermakna. Bahkan saat semua orang tampak sibuk membeli baju baru untuk menutupi luka lama.

Akhirul kalam: Jika Putri Ariani bisa menyanyi dengan segenap jiwa, kita pun bisa hidup dengan segenap keberanian.

Kalau tidak percaya, ulangi lagu ini. Tapi jangan salahkan tetangga kalau kamu ikut menangis sambil pakai sheet mask.


Penulis adalah Wartawan Senior 

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya