Berita

orang tua pasien J sekaligus Co-Founder Gem Research International Laboratory, Adam Harits (tengah)/Ist

Kesehatan

Nyawa Balita Hampir Melayang Diduga Akibat Endoskopi Oknum Dokter RSCM

RABU, 25 JUNI 2025 | 20:29 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Seorang anak balita berinisial J diduga menjadi korban malapraktik oleh oknum dokter di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

Balita yang diketahui anak Co-Founder Gem Research International Laboratory, Adam Harits itu sempat mengalami kebocoran pada usus dan harus dirawat intensif selama lebih dari sebulan.

Dugaan malapraktik tersebut bermula ketika Adam membawa anaknya ke RSCM pada 28 Agustus 2024 untuk pemeriksaan rehab medik. Pemeriksaan dilakukan seiring kondisi J yang tidak mau mengonsumsi makanan pendamping air susu ibu (MPASI).


”Ada keluhan muntah, gumoh juga,” kata Adam dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 25 Juni 2025.

Hasil konsultasi awal, J disarankan dibawa ke dokter spesialis rehabilitasi medik. Saran tersebut kemudian diikuti Adam dengan membawanya ke dokter rehab medik pada 11 Oktober 2024.

”Dari sana (rehabilitasi medik), kami dirujuk ke spesialis THT (telinga, hidung, tenggorokan) yang didampingi langsung oleh dokter rehab medik,” kata Adam.
 
Hasil pemeriksaan THT, ada bulir-bulir di tenggorokan J atau cobblestone appearance. J kemudian disarankan dibawa ke dokter senior di RSCM berinisial P.

Adam menjabarkan, pemeriksaan lanjutan dilakukan dokter tersebut pada 23 Oktober 2024. Pada pemeriksaan pertama, dokter yang menyandang gelar profesor tersebut langsung menyarankan prosedur endoskopi tanpa memeriksa tubuh J.

Bahkan menurut Adam, dokter tersebut menyarankan prosedur endoskopi tanpa menyentuh tubuh anaknya.

”Hanya duduk di meja sambil mengetik dan melihat hasil dari THT,” ungkap Adam.

Adam sempat mempertanyakan alasan anaknya harus diendoskopi meski usianya belum genap satu tahun. Ia lebih menyarankan agar anaknya dilakukan pengobatan GERD sebagaimana hasil pemeriksaan THT.

Alih-alih mendapat jawaban secara medis, dokter tersebut justru memberi jawaban lain.

”Bapak lihat saja sendiri se-urgent apa ini. Ini pertanggungjawaban bapak di akhirat. Kenapa? Bapak enggak punya uang? Pinjam saja sama engkongnya. Pinjaman lunak,” kata Adam menirukan jawaban dokter.

Merasa tidak ada masalah dengan biaya, Adam pun balik bertanya soal jadwal endoskopi. Endoskopi pertama kemudian dilakukan pada 1 November 2024. Hasilnya menunjukkan adanya GERD yang cukup parah.

Usai endoskopi pertama, J melakukan rawat jalan dengan dokter tersebut. Kondisi J yang masih baik di awal kontrol berubah di pekan kedua dan ketiga setelah endoskopi. J kembali menunjukkan gejala awal seperti sebelum dilakukan endoskopi, yakni sering muntah.

”Bahkan frekuensi muntahnya menjadi lebih sering,” paparnya.

Kondisi tersebut menuntun Adam untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Dia membawa J ke dokter rehab medik, dan disarankan pemasangan selang untuk mendukung kebutuhan nutrisi J.

Di hari yang sama, Adam bertemu dengan dokter P untuk menyampaikan saran dokter rehab. Namun Adam kembali mendapat jawaban yang menurutnya mengagetkan.

“Kan selama ini Bapak yang enggak mau diselang. Waktu itu Bapak habis endoskopi buru-buru pulang. Takut asuransi enggak cover?” kata Adam menirukan jawaban dokter P bergelar profesor.

”Prof, yang mengizinkan pulang itu kan Anda sendiri? Mana mungkin saya tolak kalau Anda menyarankan pasang selang?” terang Adam kembali mengurai jawabannya kepada dokter P.

Alih-alih memasang selang, dokter P kemudian menyarankan endoskopi kedua. Di sini Adam merasa kaget karena menurutnya pemasangan selang bisa dilakukan dokter di Poli tanpa harus diendoskopi. Namun Adam akhirnya mengikuti saran untuk endoskopi kedua.

Endoskopi kedua dilakukan 13 Desember 2024. Namun setelah itu kondisi anaknya memburuk akibat peradangan pada usus. Adam pun berinisiatif menanyakan perkembangan buruk itu ke dokter P.

”Ini saya curiga karena orang tuanya ada yang kena bakteri H Pylori. Coba periksa, nanti saya buatin rujukannya," kata Adam mengurai kembali jawaban dokter P.

Dokter P juga menjelaskan bahwa ia melakukan tindakan dilatasi usus karena usus J mengalami penyempitan sehingga harus dibuka atau dilebarkan. Proses yang sama juga dilakukan saat endoskopi pertama.

Hasil biopsi endoskopi pertama, J dinyatakan negatif H Pylori, meski dokter tetap bersikukuh bahwa biopsi tidak bisa dijadikan acuan untuk pemeriksaan H Pylori.

Kondisi J terus memburuk pasca endoskopi kedua. J sering muntah setiap kali diberikan susu. Puncaknya, kondisi J semakin memburuk dengan intensitas muntah lebih tinggi dan terus menangis dan merintih kesakitan.

Karena dokter P berhalangan hadir dengan alasan menghadiri acara Kemenkes, J kemudian dibawa ke PICU di RSCM menggunakan ambulans karena kondisinya sudah gawat dan kritis.

Jadi, dari endoskopi di Hari Jumat, dokter P tidak datang visit pada hari Sabtu serta hari Minggu, dan baru datang saat J sudah berada di PICU.

Setelah dilakukan serangkaian tes medis, tim dokter yang menangani J menduga adanya kebocoran usus, jelas Adam, perlu dilakukan tindakan darurat sebelum terlambat.

”Operasi kemudian dilakukan dan terkonfirmasi memang terjadi kebocoran pada usus,” ujar Adam. 

Sehari setelah operasi, Adam mendapat kabar bahwa J mengalami sepsis berat dengan indikasi gagal jantung, gagal paru, dan gagal ginjal. Kondisi tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan tindakan terakhir, yakni cuci darah nonstop selama 72 jam guna membantu ginjal dan membersihkan darah dari racun. 

J menjalani perawatan total selama kurang lebih 40 hari di RSCM.

”Total ada 3 kali operasi, lalu bulan April kemarin operasi ke 4 untuk penutupan Stoma," ungkapnya.

Adam menganggap dokter P lalai dalam mendeteksi dini kebocoran usus anaknya hingga harus mengalami kegagalan organ dan menjalani beberapa kali operasi.

Ia kemudian mengadukan kasus anaknya ke Majelis Disiplin Profesi (MDP).

"Saya berharap MDP membuat keputusan yang adil bagi dokter senior yang telah membuat J hampir kehilangan nyawa," pungkasnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya