Berita

SSekSekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres/Net

Global

Sekjen PBB Bersama Pemimpin Dunia Kecam Serangan AS ke Iran

MINGGU, 22 JUNI 2025 | 16:05 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Serangan militer Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran menuai kecaman luas dari komunitas internasional. 

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres menyuarakan keprihatinan mendalam atas eskalasi militer yang disebutnya sebagai ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional.

“Saya sangat khawatir dengan penggunaan kekuatan oleh Amerika Serikat terhadap Iran saat ini. Ini adalah eskalasi yang berbahaya di kawasan yang sudah berada di ujung tanduk dan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional,” tegas Guterres dalam pernyataan resminya, seperti dimuat Reuters pada Minggu, 22 Juni 2025.


Pernyataan Guterres datang menyusul serangan udara besar-besaran yang diklaim Washington sebagai bagian dari respons terhadap dugaan ancaman nuklir dari Teheran. 

Serangan ini memicu reaksi keras dari negara-negara Timur Tengah dan kawasan lain yang khawatir akan dampak geopolitik yang lebih luas.

Arab Saudi mengungkapkan kekhawatiran yang mendalam dan menyerukan de-eskalasi segera. 

“Kami memantau dengan saksama perkembangan di Republik Islam Iran,” demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Saudi di akun X (dulu Twitter) resminya.

Irak mengecam serangan gabungan AS-Israel sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Iran dan memperingatkan bahwa serangan tersebut dapat mengganggu keseimbangan keamanan yang sudah rapuh di kawasan.

Qatar mengutuk keras penargetan situs nuklir dan mendesak penghentian segera operasi militer. Negara Teluk itu memperingatkan akan adanya konsekuensi bencana jika ketegangan dibiarkan meningkat lebih lanjut.

Oman, dalam pernyataannya, menyebut serangan itu sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional dan Piagam PBB, serta menekankan bahwa Iran memiliki hak sah untuk menjalankan program nuklir damai di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Dari kawasan Asia-Pasifik, Australia menyuarakan kekhawatiran atas program rudal dan nuklir Iran. 

"Kami mencatat pernyataan Presiden AS bahwa sekarang adalah saatnya untuk perdamaian. Situasi keamanan di kawasan tersebut sangat tidak stabil. Kami terus menyerukan de-eskalasi, dialog, dan diplomasi," ungkap otoritas Australia.

Reaksi keras juga datang dari Amerika Latin. Meksiko menyerukan dialog diplomatik segera, menyatakan bahwa penyelesaian damai adalah fondasi konstitusional kami. 

“Berdasarkan prinsip-prinsip konstitusional kebijakan luar negeri Meksiko dan keyakinan pasifis bangsa kami, kami menegaskan kembali seruan kami untuk meredakan ketegangan di kawasan tersebut. Memulihkan koeksistensi damai di antara negara-negara di kawasan tersebut tetap menjadi prioritas tertinggi," kata Kementerian Luar Negeri Meksiko. 

Menteri Luar Negeri Venezuela, Yvan Gil menyebut serangan itu sebagai agresi militer AS untuk kepentingan Israel dan memperingatkan dampak geopolitik yang luas.

"Venezuela mengecam agresi militer AS terhadap Iran dan menuntut penghentian permusuhan segera. Republik Bolivarian Venezuela dengan tegas dan tegas mengutuk pengeboman yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat, atas permintaan Negara Israel, terhadap fasilitas nuklir di Republik Islam Iran, termasuk kompleks Fordow, Natanz, dan Isfahan," tegasnya.

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan menyebutnya berisiko menimbulkan konsekuensi yang tidak dapat diubah.

“Kami mengutuk keras pemboman AS terhadap fasilitas nuklir Iran, yang merupakan eskalasi berbahaya dari konflik di Timur Tengah. Agresi tersebut secara serius melanggar Piagam PBB dan hukum internasional serta menjerumuskan manusia ke dalam krisis dengan konsekuensi yang tidak dapat diubah," cuitnya di X.

Sementara Chile mengecam pemboman sebagai tindakan ilegal dan Bolivia menyebut serangan itu ceroboh serta berpotensi membahayakan keselamatan global.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

DPR Minta Pemerintah Perkuat Insfrastruktur Kesehatan

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:28

Obligasi Global Perdana Danantara Laris

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:13

Legislator PDIP Ini Janji Perjuangkan Alsintan

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:57

Pengurangan Angka Pelanggaran Jadi Indikator Keberhasilan Operasi Patuh Jaya 2026

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:44

KNMP Potensi Menjawab Kebutuhan Nelayan Kecil

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:30

Sinopsis dan Kisah Kelam Clayface, Musuh Ikonik Batman

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:19

Pemakzulan Gibran Harus Lewat Jalur Konstitusi, Bukan cuma Tekanan Politik

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:15

Jelang Pemilu, Oposisi Israel Klaim Netanyahu Tak Layak Pimpin Negara

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:58

Pemerintah Siapkan Skema Baru Pengadaan Energi, Negara Bakal Deal Langsung dengan Pemasok

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:57

KPU Perlu Fokus Benahi Pemilu 2029

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:53

Selengkapnya