Berita

Universitas Haluoleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara/Ist

Nusantara

Catatan Pilrek UHO, Dugaan Suap Sampai Cawe-cawe Rektor dan Gubernur Sultra

SABTU, 21 JUNI 2025 | 16:04 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Hajatan Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Haluoleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara, menyisakan catatan.

Pemilihan yang digelar Senin 16 Juni 2025 itu menghasilkan Prof. Armid sebagai pemenang dengan 31 suara mengalahkan dua kompetitornya Prof. Ruslin 13 suara, dan Prof. Takdir Saili yang meraup 30 suara.

Catatan pada Pilrek UHO tersebut adalah kekalahan calon rektor yang mendapatkan suara penuh dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto. 


Di mana pada Pilrek UHO tersebut suara menteri sebesar 35 persen atau setara 26 suara diberikan secara penuh kepada Prof. Takdir Saili.

Keheranan dan pertanyaan besar tersebut didasarkan pada hasil pemilihan putaran pertama atau pemilihan tahap satu yang dilakukan sebanyak 49 anggota Senat UHO, di mana Prof. Takdir Saili hanya meraup 4 suara dari total 49 anggota senat UHO yang menyalurkan hak suaranya. Sedangkan Prof. Armid meraup 32 suara, dan Prof. Ruslin mendapatkan 11 suara.

Pasalnya, secara matematis bila 4 suara basis yang diraup Prof. Takdir Saili ditambahkan dengan suara menteri yang setara 26 suara maka total suara yang akan dikantongi hanya maksimal di angka 30 suara. 

Angka 30 suara ini tentu saja masih kalah bila dibandingkan dengan suara basis yang dimiliki Prof. Armid sebesar 32 suara. 

Peta matematis inilah yang memantik keheranan dan pertanyaan besar sebagian publik Sulawesi Tenggara, khususnya para civitas akademika UHO. Pasalnya, keberpihakan Mendiktisaintek kepada calon yang kalah ini dinilai aneh dan janggal. 

"Kok, Mendiktisaintek memberikan suara secara penuh kepada calon Rektor UHO yang secara matematis jelas-jelas kalah," kata Dosen FISIP UNO Salahuddin kepada wartawan, Sabtu 21 Juni 2025.

Menurutnya, keberpihakan atau dukungan Mendiktisaintek kepada calon rektor yang secara matematis jelas-jelas kalah patut dipertanyakan, sebab hal tersebut tidak logis dan tidak rasional. 

"Masak ada menteri yang mau kasih kalah dirinya. Ini aneh kan?," tukas Salahuddin lagi.

Karena itu, kata Salahuddin, patut diduga ada hal besar sehingga Mendiktisaintek rela memberikan suaranya secara penuh kepada calon yang secara matematis jelas-jelas kalah. 

"Dugaannya bisa saja karena adanya suap. Hanya suap yang bisa membuat seseorang atau pejabat tertentu mengambil tindakan dan sikap di luar nalar," katanya.

Selain dugaan suap, kata dia, hasil Pilrek UHO kali ini sarat dengan intervensi atau cawe-cawe dari Rektor UHO, Prof. Muhammad Zamrun Firihu dan juga intervensi atau cawe-cawe dari Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka. 

Menutnya, intervensi dan cawe-cawe Rektor UHO, Prof. Muhammad Zamrun Firihu dia lakukan sejak lama dengan cara menekan dan mengintimidasi sesering mungkin anggota Senat UHO agar memilih Prof. Armid. 

"Ada sejumlah anggota senat yang bercerita bahwa mereka ditelepon dan diarahkan Prof. Zamrun untuk memilih Prof. Armid. Soal ini ada bukti rekaman yang kita dapatkan dari sejumlah anggota senat yang pernah ditelepon oleh Pak Rektor," tuturnya.

Dia menambahkan, Gubernur Sultra terlibat juga dalam Pilrek UHO kali ini. Katanya, keterlibatan Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka diungkap langsung oleh Prof. Takdir Saili. 

"Dalam rekaman suara yang saya dapatkan, Prof. Takdir Saili mengaku dibantu full oleh ASR (Andi Sumangerukka, red) sehingga dia mendapatkan suara menteri," tuturnya. 

Salahuddin melanjutkan, timbulnya hal-hal aneh dan janggal pada Pilrek UHO kali ini maka hasil Pilrek UHO kali ini layak dan patut ditolak atau dibatalkan.

Menurutnya, ada beberapa alasan kenapa hasil Pilrek UHO kali ini harus ditolak atau dibatalkan. Pertama, Prof. Armid selaku calon yang mengalahkan calon dukungan menteri merupakan produk dari anggota senat hasil rekayasa Rektor UHO, Prof. Muhammad Zamrun Firihu dan juga calon yang diduga cacat moral.

Alasan kedua, lanjut dia, karena ada dugaan intervensi dan cawe-cawe dari Gubernur Sultra. 

"Dugaanku, ada kompromi dan persekongkolan antara ASR (Andi Sumangerukka, red), MZF (Muhammad Zamrun Firihu, red), dan ARM (Armid)," katanya.

Alasan ketiga, sambungnya, adanya dugaan suap kepada menteri melalui wakil menteri selaku utusannya sehingga menumpahkan suaranya secara full kepada calon yang secara rasional dan matematis kalah.

"Menurutku, hal ini patut diduga terjadi karena hasil persekongkolan dan akal-akalan ASR, MZF, dan ARM. Mereka berhasil membohongi atau menipu pak Menteri," tutupnya.

Untuk diketahui, Pilrek UHO kali ini pada putaran pertama atau Pilrek tahap satu diikuti oleh 6  calon yakni Prof. Armid, Prof. Edy Karno, DR. Zein Abdullah, Prof. Ruslin, Prof. Takdir Saili, dan Prof. Yusuf Sabilu.

Hasilnya, Prof. Armid meraup 32 suara, Prof. Edy Karno 1 suara, Dr. Zein Abdullah tidak mendapatkan suara atau 0 suara, Prof. Ruslin 11 suara, Prof. Takdir Saili 4 suara, dan Prof. Yusuf Sabilu memperoleh 1 suara.

Karena pemilihan putaran pertama atau tahap satu ini bertujuan untuk penentuan 3 calon peraih suara terbanyak yang akan dipilih pada pemilihan putaran ke 2 atau pemilihan tahap dua, maka 3 tiga calon yang berhasil ke tahap dua adalah Prof. Armid dengan 32 suara, Prof. Ruslin dengan 11 suara, dan Prof. Takdir Saili dengan 4 suara.

Anehnya, pada pemilihan putaran kedua yang mengikutkan Mendiktisaintek yang digelar pada Senin 16 Juni 2025, Mendiktisaintek melalui utusannya menjatuhkan suaranya secara penuh kepada Prof. Takdir Saili yang secara logis dan matematis kalah. 

Faktanya, calon yang dipilih Mendiktisaintek melalui utusannya mengalami kekalahan dalam pemilihan tersebut.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Menhub Perketat Izin Berlayar di Labuan Bajo demi Keamanan Wisata Nataru

Kamis, 01 Januari 2026 | 08:15

Nasib Kenaikan Gaji PNS 2026 Ditentukan Hasil Evaluasi Ekonomi Kuartal I

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:58

Cahaya Solidaritas di Langit Sydney: Menyongsong 2026 dalam Dekapan Duka dan Harapan

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:40

Refleksi Pasar Ekuitas Eropa 2025: Tahun Kebangkitan Menuju Rekor

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:13

Bursa Taiwan Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Berkat Lonjakan AI

Kamis, 01 Januari 2026 | 07:02

3.846 Petugas Bersihkan Sampah Tahun Baru

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:58

Mustahil KPK Berani Sentuh Jokowi dan Keluarganya

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:22

Rakyat Sulit Maafkan Kebohongan Jokowi selama 10 Tahun

Kamis, 01 Januari 2026 | 06:03

Pilkada Lewat DPRD Abaikan Nyawa Demokrasi

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:45

Korupsi Era Jokowi Berlangsung Terang Benderang

Kamis, 01 Januari 2026 | 05:21

Selengkapnya