Berita

Sastrawan Ahmad Gaus AF dan Agus R. Sarjono saat konferensi pers "Lahirnya Angkatan Puisi Esai: Sastra di Era AI & Puisi Esai goes to Germany", Jumat 20 Juni 2025/Ist

Nusantara

Puisi Esai Tumbuh Subur di Tengah Gempuran AI

SABTU, 21 JUNI 2025 | 12:55 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Di tengah gempuran teknologi dan kecerdasan buatan, banyak jenis sastra terpinggirkan. Namun yang mengejutkan, angkatan puisi esai justru tumbuh subur. 

Ini bukan hanya soal bertahan, melainkan puisi esai berkembang menjadi gerakan sastra yang  menguat dan potensial berefek lintas zaman. 

Hal ini dikemukakan oleh dua sastrawan ternama, Agus R. Sarjono & Ahmad Gaus AF dalam konferensi pers yang mengangkat soal "Lahirnya Angkatan Puisi Esai: Sastra di Era AI & Puisi Esai goes to Germany, yang diselenggarakan di Nomu Kafe, Mahakam, Jakarta Selatan pada Jumat 20 Juni 2025.


Pertumbuhan puisi esai itu ditandai oleh jumlah penerbitan buku puisi esai telah mencapai 200 judul sejak dikenalkan ke publik tahun 2012. Pertumbuhan itu juga ditujukan oleh penyelenggara Festival Puisi Esai tingkat internasional sudah empat tahun berturut-turut di Sabah, Malaysia. Sedangkan di Indonesia sudah 3 kali.

Acara tersebut diawali dengan pembacaan puisi esai oleh Monica JR dan sambutan dari penggagas puisi esai, Denny JA. 

Dalam sambutannha, Denny JA menjelaskan bahwa era AI mengubah wajah sastra dunia. Menurut National Endowment for the Arts (NEA) di Amerika Serikat, pembaca novel dan cerpen menurun dari 45,2 persen pada 2012 menjadi 37,6 persen pada 2022. 

Pembaca puisi menyusut dari 11,7 persen (2017) ke 9,2 persen (2022). 

Di Indonesia, data LSI Denny JA (2024) mencatat hanya 16 persen masyarakat membaca satu buku sastra per tahun.

Minat baca makin pendek. Narasi teks panjang tergantikan oleh format cepat dan visual. TikTok, YouTube Shorts, serta klip-klip AI menggeser cerita sastra menjadi potongan yang cepat, ringan, dan instan.

Namun di tengah tsunami digital, puisi esai justru tumbuh bersama zaman. Setiap tahun sejak 2021, terbit 20–25 buku puisi esai. Festival digelar rutin berskala nasional dan ASEAN. 

Dana abadi pun telah disiapkan untuk menopang kesinambungan gerakan ini hingga 50 tahun ke depan. Yang lebih penting: tumbuh penulis-penulis Gen Z, bahkan kolaborasi antara penyair dan AI telah dimulai. Format puisi esai pun menjawab tantangan zaman. Ia menggabungkan puitika, fakta, dan refleksi sosial. 

Bukan puisi konvensional yang murni lirikal. Bukan esai kering yang hanya berbasis logika. Tapi gabungan keduanya yang mampu menyentuh, mencerdaskan, dan menggerakkan.

Ia tidak bersembunyi di menara gading. Ia hadir di tengah peristiwa sosial: konflik, bencana, tragedi, perjuangan, cinta, ketidakadilan. 

Selain itu, puisi esai mempunyai kontibalitas yang tinggi terhadap perkembangan zaman. Orang yang tidak mampu menulis puisi liris akan lebih mudah menuangkan kegelisahannya melalui puisi esai. Karena itu, puisi esai dikenal dengan slogan "yang bukan penyair boleh ambil baigian".

Dengan gaya yang segar dan format yang fleksibel, puisi esai menjawab krisis perhatian dengan kisah nyata.

Sementara itu, sastrawan Ahmad Gaus menjelaskan soal lahirnya Angkatan Sastra Baru dan pengertian  angkatan sastra. H.B. Jassin, Paus Sastra Indonesia, merumuskannya sebagai gelombang yang muncul karena kesamaan visi estetik, momen kolektif dalam karya, dan kesadaran generasional. 

Gaus menjelaskan, kita mengenal Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 66, hingga Angkatan 2000.

Kini, seluruh indikator itu ada pada puisi esai. Ia bukan hanya genre, tapi sudah menjadi angkatan. Hal ini dilandaskan pada beberapa indikator, yaitu: memiliki rumusan estetika sendiri, diikuti oleh ratusan penulis lintas generasi, membangun ekosistem sastra modern: festival, dana abadi, dan jejaring akademik, dan yang paling unik: ia dirumuskan oleh satu tokoh, Denny JA, yang menginisiasi, membina, dan mendorong gerakan ini sejak awal.

Lebih lanjut, sastrawan Agus R. Sarjono menjelaskan lima ciri khas Angkatan Puisi Esai, yakni:

    1.    Dirumuskan sebagai genre – dengan struktur estetika dan partitur yang khas
    2.    Lahir dari satu tokoh tunggal – Denny JA sebagai pencetus dan penggerak utama
    3.    Didukung ekosistem sastrawi – buku, festival tahunan, dana abadi
    4.    Kolaboratif dengan AI – menjawab tantangan dan peluang di era digital
    5.    Dampaknya menasional dan lintas negara – paling heboh dalam dua dekade terakhir

Namun, seperti api yang butuh angin untuk membesar, puisi esai pun harus terus dijaga agar tak terjebak dalam satu menara.

Gerakan ini akan mencapai keabadian justru ketika ia membuka diri: merangkul lebih banyak suara, mengkritik dirinya sendiri, dan berani berevolusi bersama denyut zaman.

Di sini, puisi esai bukan lagi sekadar genre, melainkan pertemuan antara keberanian dan kerendahan hati-seperti sungai yang tak pernah menolak anak-anak sungai baru, namun tetap mengalir menuju samudera kemanusiaan yang sama.

Selain memberikan sumbangsih di dunia sastra tanah dengan lahirnya angkatan baru, puisi esai pun semakin disorot dunia. September 2025, puisi esai akan diperkenalkan secara resmi di hadapan akademisi global pada 5th Conference for Asian Studies di Bonn, Jerman. 

Agus R. Sarjono menjadi pembicara. Makalah akan disebar melalui jurnal Orientierungen, dan kolaborasi internasional tengah dibangun, termasuk ke Tiongkok dan komunitas sastra global lainnya.

Puisi esai membuka peluang baru bagi sastra Indonesia untuk memberi warna dalam khazanah sastra dunia.

Ketika kata-kata dapat diproduksi oleh mesin, justru puisi yang paling manusiawi akan bertahan. Dan puisi esai adalah bentuk paling jujur dari kemanusiaan yang terhubung dengan dunia nyata: penuh luka, cinta, ironi, dan harapan.

Di tengah kebisingan data, puisi esai hadir sebagai suara yang menenangkan. Ia bukan sekadar baris kata, tapi jembatan antara logika dan nurani. Itulah sebabnya, di era AI ini, angkatan puisi esai justru menguat.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

UPDATE

Korea Selatan Diisukan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Selat Hormuz

Jumat, 04 September 2026 | 14:18

Purbaya Pamer Penerimaan Pajak Tumbuh 30 Persen Tanpa Naikkan Tarif

Jumat, 04 September 2026 | 13:59

Target Lifting 2027 Diproyeksi Tercapai, Sumur Rakyat Jadi Penopang

Jumat, 04 September 2026 | 13:33

Prabowo Tawarkan 138 Blok Energi Indonesia kepada Investor Rusia

Jumat, 04 September 2026 | 13:33

Gus Kikin Mulai Susun Kepengurusan PBNU di Hari Perdana Ngantor

Jumat, 04 September 2026 | 13:31

Label “No Pork, No Lard” Tak Otomatis Berarti Halal

Jumat, 04 September 2026 | 13:20

Kenaikan Tarif Masuk Ragunan Masih Ramah di Kantong

Jumat, 04 September 2026 | 13:12

Legislator Soroti Anggaran Pemulihan Kantor DPRD NTB-Sulsel Pasca Demo Agustus 2025

Jumat, 04 September 2026 | 13:08

Pembangunan Dapur MBG Pakai APBN Jangan Jadi Beban Negara

Jumat, 04 September 2026 | 13:06

Pemerintah Diminta Evaluasi Harga Eceran Tertinggi Beras

Jumat, 04 September 2026 | 13:01

Selengkapnya