Berita

Rudal balistik diluncurkan dari Iran ke Israel sebagai balasan atas serangan udara terhadap target-target Iran/Net

Publika

Konflik Iran-Israel dan Ancaman Nuklir

Oleh: Dr. Surya Wiranto, SH MH*
KAMIS, 19 JUNI 2025 | 06:05 WIB

KETEGANGAN mematikan antara Israel dan Iran telah meledak menjadi konflik terbuka, mewujudkan skenario perang regional yang telah lama dikhawatirkan analis. Pada Jumat, 13 Juni 2025 dini hari, Israel melancarkan serangan langsung terhadap fasilitas nuklir dan kepemimpinan militer Iran. 

Iran pun membalas dengan meluncurkan misil dan drone ke Israel, menandai dimulainya babak baru berbahaya dalam konflik Timur Tengah yang kini bergulir cepat.

Eskalasi ini bukanlah hal yang tak terduga. Bertahun-tahun sebelumnya, para ahli seperti Ilan Goldenberg (mantan pejabat pemerintahan Obama) telah memperingatkan dalam jurnal Foreign Affairs (2019) bahwa ketegangan AS-Iran yang tidak terkendali bisa memicu perang regional. 


Skenario itu termasuk serangan Iran terhadap infrastruktur minyak Arab, kapal di Teluk Persia, dan pangkalan AS, yang berpotensi memicu invasi AS ke Iran, negara besar berpenduduk 90 juta, dan menjerat AS seperti di Irak era 2000-an.

Pertanyaannya sekarang: Apakah kita berada di tepi jurang seperti itu? Situasi masih berkembang, tetapi serangan balasan Iran telah mengonfirmasi ketakutan terburuk.

Iran Memiliki Banyak Opsi, Perang Darat Konvensional Tidak Mungkin

Seth J. Frantzman dari The Jerusalem Post mencatat bahwa Iran memiliki banyak pilihan balasan, termasuk menargetkan kepentingan AS di kawasan--ancaman yang sering diulangnya. 

Meski Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan AS tidak terlibat dalam serangan Israel, Iran mungkin tetap melancarkan serangan. Sedangkan Presiden Donald Trump mengaku AS "tahu segalanya" tentang serangan Israel. 

Selain serangan misil/drone (yang sudah terjadi), opsi Iran termasuk memanfaatkan pasukan proxy, peretasan komputer, atau menargetkan warga Israel di luar negeri. Namun, Frantzman menilai perang darat konvensional antara Iran dan Israel tidak mungkin terjadi.

Ancaman Proliferasi Nuklir yang Meningkat

Kerusakan pada fasilitas nuklir Iran justru berpotensi mendorong langkah ekstrem. Kenneth M. Pollack (mantan analis CIA) di Foreign Affairs memprediksi respons terburuk sekaligus yang paling mungkin: Iran menarik diri dari komitmen pengendalian senjata dan "secara serius membangun senjata nuklir". 

Daniel B. Shapiro (mantan pejabat pemerintahan Biden) menambahkan bahwa Presiden Trump sebelumnya meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberi waktu untuk negosiasi nuklir AS-Iran, namun Netanyahu menolak. Shapiro memperingatkan, "kemungkinan besar Iran sekarang akan berupaya mati-matian mencapai nuclear breakout". 

Hal ini akan memaksa Trump membuat keputusan sulit: intervensi militer untuk menggagalkan senjata nuklir Iran--keputusan yang akan memecah penasihat dan basis politiknya mengingat janjinya untuk menjauhkan AS dari perang Timur Tengah.

Mati Surinya Diplomasi Nuklir

Kematian negosiator nuklir utama Iran dalam serangan Israel merupakan pukulan telak bagi upaya diplomasi. Meski Trump mendesak Iran untuk membuat kesepakatan sebelum tidak ada yang tersisa, Shapiro menyimpulkan bahwa "mimpi Trump tentang resolusi diplomatik yang mengakhiri pengayaan nuklir Iran tampaknya mati".

Ellie Geranmayeh (pakar Iran dari European Council on Foreign Relations) menegaskan bahwa Iran telah membatalkan perundingan yang dijadwalkan di Oman. Jalur diplomasi resmi kini terhenti, atau bahkan berakhir, seiring konfrontasi militer lebih lanjut. 

Serangan Israel ini, tulis Geranmayeh, "hampir pasti akan memperkuat pihak-pihak di Iran yang menginginkan senjata nuklir", langkah yang sebelumnya dihindari Teheran dan menurut intelijen AS terbaru, belum diputuskan kepemimpinannya.

Jalan Menghindari Perang Lebih Besar

Di tengah situasi genting ini, Geranmayeh mengajukan rekomendasi mendesak bagi Eropa: berkoordinasi dengan pemerintahan Trump dan negara-negara GCC (Dewan Kerjasama Teluk) untuk mencegah konflik regional yang lebih luas. Semua pihak ini ingin mencegah eskalasi lebih lanjut dan harus menekan Israel dan Iran secara intens.

Eropa perlu mendesak negara-negara Teluk, yang memiliki pengaruh lebih besar di Washington, untuk mendorong Trump menjelaskan bahwa AS tidak akan mendukung serangan Israel lebih lanjut. Negara-negara GCC juga harus memanfaatkan hubungan mereka dengan Tehran untuk menyampaikan risiko besar dari eskalasi lebih lanjut.

Perang Timur Tengah baru telah dimulai. Nasib kawasan, dan mungkin dunia, kini bergantung pada apakah kekuatan-kekuatan utama dapat menahan laju menuju jurang dan menemukan jalan kembali ke meja perundingan sebelum bencana yang lebih besar tak terelakkan.


*Penulis adalah Purnawirawan TNI AL, pemerhati maritim dan masalah geopolitik

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

UPDATE

Perlindungan Orang Utan Kalimantan dari Karhutla Terus Diperkuat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 03:43

Benarkah Hari Kliwon Lebih Rawan Kecelakaan?

Rabu, 14 Oktober 2026 | 03:17

Lindungi Kehidupan Nelayan, KKP Segel Tambak Udang Tak Berizin di Karimunjawa

Rabu, 14 Oktober 2026 | 02:46

Pasis Dikreg Seskoad Peroleh Doktrin Kepemimpinan dari Wapang TNI

Rabu, 14 Oktober 2026 | 02:20

Dampak MBG Bikin Konsumsi Protein Anak Naik hingga Hampir 80 Persen

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:57

Ekonomi Biru Dijaga, Nelayan Disejahterakan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:40

Peradi Profesional Dukung Langkah Presiden Bersih-bersih Mafia Tambang

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:16

DPR Minta PLN Percepat Pemulihan Listrik di Batam-Bintan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:59

Staf Ahli Kapolri Pastikan Penanganan Maksimal Kabut Asap di Kalteng

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:43

Kepala BRAN dan Menteri PKP Bidik Percepatan Lahan untuk Rumah Rakyat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:20

Selengkapnya