Berita

Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), bersama Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Lembaga verifikasi KSO SCISI melakukan kunjungan ke industri daur ulang plastik di Jawa Timu/Ist

Politik

Kick-Off Penguatan Daur Ulang Plastik Nasional, ADUPI Dukung Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

RABU, 18 JUNI 2025 | 13:26 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), bersama Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Lembaga verifikasi KSO SCISI melakukan kunjungan ke industri daur ulang plastik di Jawa Timur.

Rangkaian kunjungan ini dalam rangka Kick Off Kajian Supply-Demand dan Tata Kelola Bahan Baku Industri Daur Ulang Plastik di Indonesia.

Kunjungan dan kick-off kajian ini dilakukan mengingat kondisi persampahan di Indonesia yang darurat dan membutuhkan kolaborasi semua pihak dalam menyelesaikannya, khususnya Industri daur ulang yang selama ini berkontribusi besar dalam mengolah timbulan sampah plastik domestik.


Ketua Umum ADUPI, Christine Halim, menegaskan bahwa industri daur ulang plastik tidak mengimpor sampah seperti yang selama ini dipersepsikan keliru oleh sebagian pihak. 

“Yang kami impor adalah bahan baku daur ulang yang telah melewati proses verifikasi ketat dan sesuai standar internasional. Terminologi ‘sampah’ yang disematkan justru menyulitkan kami,” ujar Christine dalam keterangan tertulis, Rabu 18 Juni 2025.

Menurutnya, pelarangan impor tanpa ada solusi untuk peningkatan kualitas dan kuantitas bahan baku domestik menyebabkan penurunan kapasitas produksi, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), serta terganggunya keberlangsungan usaha industri daur ulang. 

Kondisi ini, sambungnya, berdampak pada menurunnya kemampuan industri daur ulang nasional dalam mengelola timbulan sampah plastik domestik yang terus meningkat setiap tahunnya. 

“Selama kajian berlangsung, kami harap pemerintah bisa memberikan relaksasi izin impor agar industri tetap berproduksi,” kata dia.

Ditambahkan Christine, ADUPI mempercayakan KIBUMI sebagai konsultan pelaksana Kajian Supply–Demand dan Tata Kelola Bahan Baku Industri Daur Ulang Plastik Nasional.

Kegiatan ini berlangsung di fasilitas PT Pelita Mekar Semesta yang dimulai dari melihat proses daur ulang kemasan plastik pasca konsumsi menjadi biji plastik berkualitas dan juga beberapa produk akhir/jadi untuk keperluan pertanian dan keperluan lainnya. 

Kegiatan ini bertujuan membangun sinergi kebijakan antar-kementerian/lembaga dan pelaku industri dalam mendukung tata kelola pemenuhan kebutuhan bahan baku industri daur ulang plastik nasional dan memperkuat rantai pasok yang berbasis pada prinsip keberlanjutan serta perlindungan lingkungan.

Adapun Indonesia saat ini berdasarkan data Sistem Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menghasilkan timbulan sampah sebanyak 34,2 juta ton per tahun atau sekitar 93,7 ribu ton/hari yang mana mayoritas hanya dikelola dengan pembuangan di TPA open dump, dikarenakan keterbatasan sarana prasarana dan infrastruktur persampahan nasional. 

Kondisi TPA open dumping yang telah overkapasitas menyebabkan banyak masalah Lingkungan, yang jika tidak ditanggulangi akan menyebabkan banyak masalah lingkungan, kesehatan, sosial dan ekonomi.

Target 8 persen pertumbuhan Ekonomi Nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, berdampak secara linear dan signifikan terhadap penambahan timbulan sampah, dengan kondisi infrastruktur penanganan sampah yang terbatas, pemerintah membutuhkan peran strategis industri daur ulang, di mana saat ini industri daur ulang nasional merupakan sektor industri yang telah berkontribusi dalam mengurangi sampah plastik di Indonesia. 

Data dari Kementerian Perindustrian, sepanjang tahun 2024, sebanyak 1,2 juta ton sampah plastik dalam negeri telah diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah dengan kapasitas produksi mencapai 3,163 juta ton per tahun dan total produksi mencapai 1,276 juta ton dengan konversi bahan baku 80 persen dan persentase penyerapan bahan baku lokal mencapai 81 persen. 

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya