Berita

Ilustrasi/Bloomberg

Bisnis

Produksi Baja Tiongkok Merosot, Harga Bijih Besi Terdampak

SELASA, 17 JUNI 2025 | 14:17 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga bijih besi turun pada perdagangan awal Asia. 

Sentimen kemungkinan terbebani oleh data yang menunjukkan produksi baja Tiongkok turun 6,9 persen pada Mei tahun ini dibandingkan dengan Mei tahun lalu, kontraksi pertamanya sejak Beijing berjanji untuk mengatasi kelebihan pasokan pada bulan Maret, menurut tim Riset ANZ, dikutip dari Dow Jones Newswires.

Perlambatan ekonomi di Tiongkok, terutama di sektor manufaktur dan properti, berdampak pada permintaan bijih besi. 


Krisis properti yang sedang berlangsung di Tiongkok menyebabkan penurunan permintaan baja, yang pada gilirannya memengaruhi harga bijih besi.

Biro Statistik Nasional Tiongkok melaporkan bahwa produksi baja mencapai 86,55 juta ton. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk pembatasan pemerintah, permintaan yang melemah, dan penurunan aktivitas konstruksi

Pemerintah China mengumumkan rencana untuk merestrukturisasi sektor baja pada bulan Maret. 

Dalam lima bulan pertama tahun 2025, produksi baja di negara tersebut menurun sebesar 1,7 persen tahun-ke-tahun – menjadi 431,63 juta ton. Penurunan kinerja tersebut terjadi di tengah dinamika keuangan yang relatif positif di industri tersebut. 

Lebih dari 50 persen produsen baja Tiongkok memperoleh laba pada bulan Januari-Mei, dibandingkan dengan 35 persen pada periode yang sama tahun 2024. 

Perusahaan baja Tiongkok mengurangi produksi baja sebesar 1,7 persen tahun-ke-tahun.

Analis di Nanhua Futures mengatakan, harga kemungkinan akan diperdagangkan dalam kisaran sempit dalam jangka pendek. 

Kontrak bijih besi yang paling banyak diperdagangkan di Dalian Commodity Exchange turun 0,2 persen pada CNY698,0 per ton. 

Penurunan harga bijih besi ini menjadi perhatian global, terutama karena Tiongkok adalah importir utama bijih besi dunia.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya