Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Sengketa Empat Pulau Aceh-Sumut dalam Tinjauan Hukum Laut Internasional

Oleh: Dr. Surya Wiranto, SH MH*
SENIN, 16 JUNI 2025 | 00:40 WIB

DARI perspektif Hukum Laut Internasional, khususnya United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982, sengketa status empat pulau; Panjang, Mangkir Besar, Mangkir Kecil, dan Lipan, antara Pemerintah Provinsi Aceh dan Sumatera Utara (Sumut) sejak 2008, serta penetapan terbaru pemerintah pusat (Kepmendagri No. 300.2.2-2138 Tahun 2025) yang memindahkan keempat pulau tersebut ke Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut, menimbulkan beberapa pertanyaan krusial:

Status Pulau dan Kriteria UNCLOS

UNCLOS Pasal 121 mendefinisikan pulau sebagai "daratan yang terbentuk secara alamiah, dikelilingi oleh air, dan tetap berada di atas permukaan air pada saat pasang naik". Keempat pulau memenuhi definisi ini kecuali Pulau Lipan yang dilaporkan tenggelam saat air pasang tinggi. Berdasarkan UNCLOS Pasal 121(1), Pulau Lipan tidak lagi memenuhi syarat sebagai "pulau" dan berpotensi diklasifikasikan sebagai "low-tide elevation" (fitur yang muncul saat surut). 


Hal ini memiliki implikasi signifikan terhadap penetapan batas maritim jika fitur tersebut berada di luar 12 mil laut dari daratan terdekat. Tiga pulau lainnya (Panjang, Mangkir Besar, Mangkir Kecil) tetap berstatus pulau berdasarkan definisi UNCLOS.
 
Pengaruh Status Pulau terhadap Klaim Maritim

Pulau sejati berhak memiliki laut teritorial (12 mil), zona tambahan (24 mil), Zona Ekonomi Eksklusif - ZEE (200 mil), dan landas kontinen (Pasal 121 UNCLOS). Kepemilikan atas pulau-pulau ini akan memengaruhi klaim maritim Indonesia di wilayah tersebut, termasuk hak berdaulat untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumber daya alam.

Pulau Lipan, jika statusnya berubah menjadi low-tide elevation, tidak berhak memiliki laut teritorial, ZEE, atau landas kontinen sendiri. Keberadaannya hanya dapat digunakan sebagai titik dasar pengukuran jika berada dalam jarak 12 mil laut dari pulau terdekat atau daratan utama.
 
Kedekatan dengan Blok Migas dan Nilai Strategis

Lokasi keempat pulau yang berdekatan dengan Wilayah Kerja Migas Offshore West Aceh (OSWA/Blok Singkil) dan Offshore North West Aceh (ONWA/Blok Meulaboh) yang memiliki potensi hidrokarbon signifikan (gas hingga 296 BCF dan 1.1 TCF, minyak ~192 MMBO) menyoroti nilai ekonomi dan strategis pulau-pulau tersebut. 

Kepemilikan pulau dapat memengaruhi persepsi atau klaim terkait dengan wilayah kerja migas di sekitarnya, meskipun Kemendagri menegaskan penetapan batas administratif tidak mempertimbangkan potensi migas dan merupakan kewenangan Kementerian ESDM.
 
Klaim Historis Vs Penetapan Administratif

Klaim Gubernur Aceh berdasarkan bukti historis, perbatasan, dan iklim merupakan argumen politik-administratif dalam konteks hukum nasional. UNCLOS tidak secara langsung mengatur resolusi sengketa batas administratif internal suatu negara. Namun, klaim sejarah sering kali menjadi dasar bagi entitas sub-nasional dalam memperjuangkan hak pengelolaan wilayah dan sumber dayanya.

Keputusan Kemendagri 2025 merupakan tindakan penetapan batas administratif internal oleh pemerintah pusat. Meski Aceh menolak berdasarkan sejarah, secara hukum internasional, Indonesia sebagai negara berdaulat berhak menentukan pembagian administratif internalnya, selama tidak melanggar kewajiban internasional atau hak otonomi khusus (seperti yang dimiliki Aceh).
 
Status Pulau dan Pendudukan

Keempat pulau dilaporkan tidak berpenduduk tetap. UNCLOS tidak mensyaratkan penghunian untuk status suatu pulau atau hak maritimnya. Namun, keberadaan bukti fisik seperti dermaga, tugu batas, rumah singgah, mushola, dan makam yang dibangun oleh Pemerintah Aceh di beberapa pulau (terutama Panjang) dapat digunakan sebagai bukti pengelolaan dan klaim administratif historis oleh Aceh dalam konteks sengketa internal ini.
 
Imbas Perubahan Fisik (Pulau Lipan)

Hilangnya daratan Pulau Lipan akibat kenaikan muka air laut merupakan contoh nyata dampak perubahan iklim terhadap klaim maritim. Perubahan fisik ini secara langsung mempengaruhi status hukum pulau tersebut menurut UNCLOS dan berpotensi mengubah konfigurasi garis pangkal untuk pengukuran batas maritim di area tersebut.

Sengketa empat pulau antara Aceh dan Sumut, meskipun pada dasarnya adalah masalah penetapan batas administratif internal Indonesia, memiliki dimensi penting dalam kerangka Hukum Laut Internasional (UNCLOS). Status keempat pulau, terutama kriteria "tetap di atas air saat pasang" (Pasal 121), menjadi fondasi bagi hak maritim yang melekat. 

Perubahan fisik Pulau Lipan yang menyebabkan tenggelam saat pasang tinggi secara tegas mengubah status hukumnya menurut UNCLOS, berpotensi mengurangi klaim maritim yang berasal darinya.

Kedekatan pulau-pulau dengan blok migas potensial (OSWA dan ONWA) menambah kompleksitas dan nilai strategis sengketa ini. Klaim historis dan bukti pengelolaan oleh Aceh berhadapan dengan kewenangan penetapan batas administratif pemerintah pusat melalui Kepmendagri 2025.

Penyelesaiannya memerlukan pendekatan hukum nasional yang komprehensif, mempertimbangkan otonomi khusus Aceh, bukti historis dan geografis, serta implikasi prinsip-prinsip UNCLOS, terutama terkait status pulau dan dampak perubahan iklim terhadap fitur geografis.


*Penulis adalah Kadep Kejuangan PEPABRI,  Kabid Jianstra Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut (PPAL), dan  Anggota Forum Komunikasi Purnawirawan TNI-Polri (FOKO). 

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya