Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Thailand-Kamboja Sepakat Tarik Pasukan Usai Bentrokan Mematikan

SENIN, 09 JUNI 2025 | 13:29 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Pemerintah Thailand dan Kamboja telah sepakat untuk menarik mundur pasukan mereka ke posisi perbatasan yang telah disepakati sebelumnya, menyusul bentrokan fatal yang menewaskan satu tentara Kamboja di wilayah perbatasan yang belum dibatasi pada 28 Mei lalu.

Kementerian Pertahanan Kamboja mengonfirmasi bahwa kedua negara menyetujui langkah deeskalasi tersebut sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan militer yang meningkat sejak insiden tersebut. 

"Kedua belah pihak berkomitmen untuk kembali ke posisi yang disepakati pada tahun 2024 guna mencegah konfrontasi lebih lanjut," demikian pernyataan kementerian, seperti dikutip dari Associated Press pada Senin, 9 Juni 2025.


Langkah itu datang setelah Menteri Pertahanan Thailand, Phumtham Wechayachai, menyatakan bahwa pembicaraan bilateral sedang berlangsung.

“Kami sedang dalam proses mengembalikan kondisi ke status quo. Kedua negara berharap persoalan ini dapat diselesaikan sepenuhnya melalui dialog damai,” ujarnya dalam konferensi pers.

Ketegangan antara kedua negara memuncak setelah bentrokan di daerah yang tidak dibatasi secara resmi di sepanjang perbatasan sepanjang 817 kilometer. 

Thailand dan Kamboja telah bersengketa soal garis perbatasan selama lebih dari satu abad, sejak wilayah itu dipetakan oleh kolonial Prancis pada 1907.

Menteri Luar Negeri Kamboja, Prak Sokhonn, menyatakan keprihatinannya atas ketegangan yang berulang dan menyarankan agar sengketa dibawa ke Mahkamah Internasional (ICJ). 

“Mengingat kompleksitas, sifat historis, dan sensitivitas sengketa ini, semakin jelas bahwa dialog bilateral saja mungkin tidak lagi cukup untuk menghasilkan solusi yang komprehensif dan langgeng,” ujarnya dalam catatan resmi kepada Thailand tertanggal 6 Juni.

Namun, pemerintah Thailand menolak usulan tersebut dan tetap bersikeras bahwa penyelesaian harus dilakukan melalui jalur negosiasi bilateral. 

“Kami tidak mengakui yurisdiksi pengadilan internasional dalam masalah ini,” kata juru bicara kementerian luar negeri Thailand, Nikorndej Balankura.

Sebagai imbas dari meningkatnya ketegangan, Thailand telah memangkas jam operasional di 10 pos perbatasan, termasuk pos tersibuk di provinsi Sa Kaeo, dari pukul 6 pagi-10 malam menjadi pukul 8 pagi-4 sore, sebagai tindakan pengamanan.

Perselisihan wilayah ini mengingatkan pada konflik mematikan yang terjadi pada 2008 dan 2011 terkait kuil Hindu abad ke-11, yang menyebabkan korban jiwa di kedua pihak.

Hubungan antara kedua negara sebelumnya lebih hangat, terutama di masa pemerintahan Thaksin Shinawatra di Thailand dan Hun Sen di Kamboja. Kini, dengan anak-anak mereka yakni Paetongtarn Shinawatra dan Hun Manet memimpin masing-masing negara, ketegangan terbaru menimbulkan pertanyaan tentang arah hubungan diplomatik ke depan.

Pertemuan Komite Perbatasan Bersama yang dijadwalkan pada 14 Juni mendatang diharapkan dapat menghasilkan langkah-langkah lanjutan untuk penyelesaian damai dan mencegah konflik serupa di masa depan.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Kepala BRAN Dorong 3,1 Juta Hektare Lahan Transmigrasi jadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:32

KPK Pastikan Video Penjemputan Paksa Nusron Hoax!

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:24

Quo Vadis 2 tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:23

Prabowo Setujui Kajian DEN soal Definisi Korupsi Berstandar Internasional

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:17

Penindakan 1.000 Tambang Ilegal: Kalau Tidak Sekarang, Kapan Lagi?

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:13

DPR Dorong Penguatan Koordinasi Penyaluran BBM

Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:01

Gibran Terima Perwakilan WALUBI Bahas Karhutla hingga Bakti Sosial

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:50

KPK Perlu Periksa Hercules soal Uang Rp800 Juta Terkait Summarecon

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:46

Menteri Agama Optimistis Akan Ada Kebangkitan Syarikat Islam Jilid Baru

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:43

Pertamina Diusulkan Peroleh Insentif Sewa Kapal Tanker Lokal

Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:41

Selengkapnya