Berita

Ilustrasi mata uang Dolar dan Rupiah/Net

Bisnis

Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.294 Dibayangi Sentimen Ini

RABU, 04 JUNI 2025 | 17:07 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Nilai tukar (kurs) Rupiah ditutup Rp16.294 per Dolar AS atau menguat 14,2 poin pada perdagangan Rabu, 4 Juni 2025 sore.

Penguatan Rupiah ini tidak lepas dari ketidakpastian kebijakan ekonomi AS yang dipicu langkah Presiden Donald Trump menaikkan tarif impor baja dan aluminium.

"Para pedagang mempertanyakan dampak ekonomi dari kebijakan Trump setelah menggandakan tarif baja dan aluminium. Data penggajian nonpertanian yang akan dirilis Jumat ini juga akan memberikan lebih banyak petunjuk," kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi kepada RMOL.


Ibrahim mencermati, kondisi pasar saat ini masih memantau kemungkinan pembicaraan dagang lanjutan antara AS dan China.

Ditambah, sejumlah pejabat AS mengisyaratkan Trump dan Presiden Xi Jinping akan berkomunikasi setelah negosiasi sempat mandek.

Ketegangan geopolitik turut menambah kecemasan pelaku pasar. Aksi militer Ukraina terhadap Rusia, termasuk serangan bawah laut yang menyasar jembatan penghubung ke Krimea menambah ketidakpastian dan bisa memicu pelarian modal negara berkembang seperti Indonesia.

“(Situasi ini ditambah) sikap beberapa pejabat The Fed yang menegaskan suku bunga acuan belum akan diturunkan dalam waktu dekat,” lanjut Ibrahim.

Sementara dari dalam negeri, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali dipangkas oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). 

Dalam laporan OECD Economic Outlook June 2025, lembaga tersebut memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun depan menjadi 4,7 persen. Ini merupakan revisi kedua setelah sebelumnya dipangkas dari 5,2 persen menjadi 4,9 persen.

OECD memperingatkan bahwa konsumsi dan investasi swasta akan terbebani oleh ketidakpastian kebijakan fiskal dan tingginya biaya pinjaman di semester pertama 2025. 

Di sisi eksternal, penurunan harga komoditas serta meningkatnya ketegangan perdagangan global juga dinilai dapat menggerus pendapatan ekspor Indonesia.

“Ekonomi Indonesia berisiko tumbuh lebih rendah dari harapan pemerintah karena arus keluar modal yang terus-menerus didorong ketidakpastian kebijakan global dan domestik," pungkasnya.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Korban Jiwa Gempa NTT Bertambah jadi 53 Orang, 135 Warga Luka-Luka

Minggu, 16 Agustus 2026 | 20:27

Rusak Berat Diguncang Gempa, Hotel Jayakarta Suites Komodo Flores Tutup Sementara

Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:43

SBY Minta Maaf

Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:15

Tembus Jalur Laut, Bantuan Gempa M 7,7 Disalurkan ke Pulau Palue Sikka

Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:47

Polri Terbangkan 10 Anjing K9 untuk Cari Korban Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:12

3,4 Ton Logistik untuk NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:50

Reza Aulia Diberhentikan, Kursi Direktur Niaga Garuda Kosong

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:40

Kemendikdasmen Jangan Lamban Merespons Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:04

Retorika Janji Kemerdekaan

Minggu, 16 Agustus 2026 | 16:35

Jalur Alternatif Darat Penghubung Ende-Nagekeo Masih Terputus

Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:33

Selengkapnya