Berita

Geert Wilders/Net

Dunia

Pemerintah Belanda Tumbang usai Geert Wilders Tinggalkan Koalisi

RABU, 04 JUNI 2025 | 10:16 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Pemerintah Belanda resmi runtuh pada Selasa, 3 Juni 2025 setelah politisi sayap kanan Geert Wilders menarik dukungan partainya, Partai untuk Kebebasan (PVV), dari koalisi yang berkuasa. 

Keputusan mendadak ini memicu krisis politik baru di tengah meningkatnya ketegangan seputar isu imigrasi dan menyulut spekulasi kuat akan diadakannya pemilihan umum lebih awal, kemungkinan pada Oktober atau November.

Wilders, yang dikenal dengan sikap kerasnya terhadap imigrasi, menyatakan bahwa ia terpaksa meninggalkan pemerintahan setelah proposal kebijakan imigrasinya tidak mendapatkan dukungan yang ia harapkan dari mitra koalisinya.


"Saya mengusulkan rencana untuk menutup perbatasan bagi pencari suaka, mengirim mereka pergi, menutup tempat penampungan suaka. Saya menuntut mitra koalisi untuk menandatanganinya, yang tidak mereka lakukan. Itu membuat saya tidak punya pilihan selain menarik dukungan saya untuk pemerintah ini," ujar Wilders kepada wartawan, seperti dimuat Reuters

Namun, Perdana Menteri Dick Schoof, yang bukan berasal dari partai politik dan menjabat sebagai kepala pemerintahan teknokratik, mengecam langkah Wilders sebagai tindakan yang sembrono.

"Saya telah berulang kali mengatakan kepada para pemimpin partai dalam beberapa hari terakhir bahwa runtuhnya kabinet tidak perlu dan tidak bertanggung jawab," kata Schoof dalam pernyataan resminya usai rapat darurat kabinet. 

Schoof menyerahkan pengunduran dirinya kepada Raja Willem-Alexander dan kini Belanda akan diperintah oleh kabinet sementara hingga terbentuk pemerintahan baru pasca pemilu.

Langkah Wilders memicu reaksi beragam di kalangan masyarakat. Di Amsterdam, warga Michelle ten Berge mengungkapkan harapannya agar pemilu nanti menghasilkan pemerintahan yang lebih moderat. 

Sementara di Den Haag, Ron van den Hoogenband, seorang penjual bunga, menyatakan dukungannya pada Wilders.

"Saya berharap Wilders akan muncul sebagai pemenang dan mengambil alih parlemen, sehingga ia dapat melakukan apa yang dilakukan Trump dan negara-negara Eropa lainnya yang dikuasai oleh sayap kanan ekstrem," ujarnya.

Wilders kini bersiap memimpin PVV kembali ke gelanggang politik, berharap mengukuhkan kekuasaan dan mungkin menjadi perdana menteri untuk pertama kalinya.

Simon Otjes, asisten profesor politik Belanda di Universitas Leiden, menilai bahwa PVV secara strategis memperhitungkan pemilu ini sebagai referendum soal kebijakan imigrasi.

"Karena mereka tahu mereka akan memenangkannya," kata Otjes.

Namun, analis politik Joep van Lit dari Universitas Radboud memperingatkan bahwa lanskap politik yang terfragmentasi bisa memperpanjang proses pembentukan pemerintahan baru. Ia memprediksi pemilu akan digelar antara akhir Oktober atau awal November.

"Masih harus dilihat apakah pemilih sayap kanan akan melihat perubahan peristiwa ini sebagai kegagalan Wilders untuk mewujudkan usulannya, atau justru memutuskan bahwa ia membutuhkan mandat yang lebih besar," ujarnya.

Kejatuhan pemerintah ini juga dikhawatirkan akan menunda keputusan penting, termasuk peningkatan anggaran pertahanan. Belanda dijadwalkan menjadi tuan rumah KTT NATO bulan ini, namun kini akan melakukannya dalam status pemerintahan transisi.

Isu migrasi yang memicu runtuhnya kabinet ini bukan hal baru bagi politik Belanda. Pemerintahan sebelumnya di bawah Mark Rutte, kini Sekretaris Jenderal NATO, juga tumbang karena perbedaan tajam dalam mengatur imigrasi.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya