Berita

Matthew Miller/Net

Dunia

Eks Jubir Biden Blak-blakan Sebut Israel Penjahat Perang Gaza

SELASA, 03 JUNI 2025 | 11:58 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Mantan juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Matthew Miller, mengejutkan publik internasional dengan pernyataan blak-blakan bahwa Israel telah melakukan kejahatan perang di Gaza. 

Komentar ini disampaikannya dalam podcast Trump 100 milik Sky News, dan menjadi pengakuan paling eksplisit dari pejabat tinggi pemerintahan Biden mengenai dugaan pelanggaran hukum internasional oleh Israel selama konflik yang berkepanjangan di Gaza.

“Tanpa keraguan lagi benar bahwa Israel telah melakukan kejahatan perang,” kata Miller dalam wawancara tersebut, seperti dilihat redaksi pada Selasa, 3 Juni 2025.


Miller mengakui bahwa tindakan militer Israel menunjukkan pola yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang, namun belum ada satupun pelaku yang dimintai pertanggungjawaban.

“Kami tahu tentara Israel melakukan tindakan yang dapat dianggap sebagai kejahatan perang, dan bahwa penyelidikan telah terungkap beberapa bulan yang lalu. Tetapi tidak ada seorang pun yang dimintai pertanggungjawaban hingga hari ini," kata dia. 

Ia juga menjelaskan bahwa kejahatan perang dapat terjadi melalui dua jalur. Pertama adalah apakah suatu negara mengadopsi kebijakan untuk melakukannya dengan sengaja, atau bertindak gegabah dengan cara yang memfasilitasi kejahatan tersebut. 

“Yang lainnya adalah tentang insiden individu, tindakan yang secara jelas memenuhi syarat sebagai kejahatan perang yang dilakukan oleh tentara. Israel membuka penyelidikan, tetapi sejauh ini, belum ada yang dilindungi," jelasnya. 

Miller juga mengungkap adanya perpecahan internal dalam pemerintahan Biden terkait dukungan terhadap Israel, khususnya dalam pengiriman senjata.

“Pada musim semi 2024, kami menangguhkan pengiriman bom seberat 900 pon karena kami tidak yakin bom itu digunakan dengan tepat di Gaza. Ada diskusi tentang izin transfer senjata lainnya, tetapi kami mendapati diri kami dalam posisi yang sangat sulit," paparnya. 

Ia menambahkan bahwa meningkatnya kritik publik terhadap Israel, termasuk protes mahasiswa di AS dan pengakuan negara Palestina oleh Eropa, telah memperkuat keyakinan Hamas untuk tidak menyetujui gencatan senjata.

"Debat publik tentang dihilangkannya senjata dari Israel, protes di universitas-universitas AS, dan langkah-langkah Eropa untuk mengakui negara Palestina membuat para pemimpin Hamas percaya bahwa mereka tidak perlu menyetujui gencatan senjata. Mereka hanya perlu bertahan sedikit lebih lama untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan," ujarnya.

Pernyataan ini mengejutkan banyak pihak, terutama karena selama masa jabatannya dari tahun 2023 hingga awal 2025, Miller secara konsisten membela tindakan Israel dan menolak menyebut serangan di Gaza sebagai kejahatan perang, bahkan ketika jumlah korban sipil meningkat tajam.

Kritik terhadap Miller bukan hal baru. Dalam sebuah konferensi pers pada Juli 2024, ia dikecam karena menyeringai ketika ditanya mengenai lonjakan korban jiwa di Gaza.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Aplikasi Digital Berbasis White Label Dukung Operasional KDKMP

Kamis, 14 Mei 2026 | 05:59

Wamenaker Fasilitasi Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial di Multistrada

Kamis, 14 Mei 2026 | 05:43

DPD Dorong Kemenko Polkam Lahirkan Peta Jalan Keamanan Papua

Kamis, 14 Mei 2026 | 05:28

Mengoptimalkan Potensi Blue Ocean Economy

Kamis, 14 Mei 2026 | 04:53

Wagub Lampung Minta Gapembi Kawal Pemenuhan Standar MBG

Kamis, 14 Mei 2026 | 04:35

Analis Geopolitik: Tiongkok Berpotensi sebagai Global Stabilizer

Kamis, 14 Mei 2026 | 04:23

Prabowo dan Tumpukan Uang

Kamis, 14 Mei 2026 | 03:58

ANTAM Tetap Fokus Jaga Fundamental Bisnis di Tengah Dinamika Global

Kamis, 14 Mei 2026 | 03:46

Sukseskan Program Nuklir, PKS Dorong Pembentukan Kembali BATAN

Kamis, 14 Mei 2026 | 03:23

Paradigma Baru Biaya Logistik

Kamis, 14 Mei 2026 | 02:59

Selengkapnya