Berita

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers virtual, pada Senin malam, 2 Juni 2025/Repro

Politik

BNPB: Gunung Kuda Cirebon Sudah Rawan Longsor, Apalagi Ada Aktivitas Tambang

SELASA, 03 JUNI 2025 | 02:14 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Bencana longsor di Gunung Kuda, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, telah diprediksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebelum adanya aktivitas pertambangan di sana.

Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers virtual, pada Senin malam, 2 Juni 2025.

Sosok yang kerap disapa Aab ini memperlihatkan sebuah peta risiko bencana di wilayah Cirebon. Di mana terdapat area Cipanas yang diberi tanda warna oranye kemerahan sebagai lokasi rawan bencana longsor Gunung Kuda.


"Ini adalah peta bahaya tanah longsor di Provinsi Jawa Barat, dan yang saya indeks ini adalah lokasi longsor di Gunung Kuda. Peta bahaya dan peta risiko ini dibuat tanpa ada asumsi ada aktivitas pertambangan," ujar Aab.

Dia menyatakan, Gunung Kuda dikategorikan rawan longsor karena memiliki kemiringan yang melebihi batas 30 derajat.

"Kita ingat dan kita paham bahwa kemiringan lereng lebih dari 30 derajat saja, kalau tidak ada vegetasi di situ sudah sangat rawan longsor," sambungnya menegaskan.

Namun, akibat aktivitas pertambangan yang ternyata sudah dilakukan sejak 2009, meskipun masuk kategori pertambangan legal, namun aspek kerawanan tidak diperhatikan.

"Ini bukan bencana kategorinya, meskipun pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat bencana, tapi ini lebih masuk faktor keselamatan kerja," tuturnya.

Lebih lanjut, Aab mengungkapkan kesimpulan dari analisis BNPB terhadap kejadian longsor di Gunung Kuda. Yakni, pertambangan yang telah dilakukan sejak lama memperparah risiko longsor yang telah diprediksi tanpa asumsi adanya aktivitas pertambangan.

"Jadi sebenarnya ini tanpa ada aktivitas pertambangan pun, dengan melihat vegetasi yang ada di sana, ini sudah sangat membahayakan pemukiman yang ada di sini. Apalagi kemudian ini kemiringannya kita papas," paparnya.

"Dan kemudian memapasnya dicicil sedikit demi sedikit dari bawah. Jadi di atas sudah curam, kemudian bawah digali, ini sangat rentan untuk jatuh. Ini yang terjadi di hari Jumat, (30 Mei 2025) pukul 10.30," demikian Aab.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

UPDATE

Antam dan Pegadaian Ikut Uji Keaslian 55 Keping Platinum OTT Bupati Langkat

Minggu, 12 Juli 2026 | 20:16

Proses Hukum Febrie Adriansyah Wujud Ketegasan Pemerintahan Prabowo

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:54

Prabowo: Kopdes Merah Putih Akan Ciptakan Perputaran Uang Rp223 Triliun di Desa

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:43

Belajar dari Yunnan, Tobat Ekologi Ditopang Gerakan Koperasi

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:33

Kopdes Merah Putih Siapkan Kredit Super Mikro, Bunga 8 Persen

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:03

Taruna Akmil Pahami Pemikiran Sun Tzu dan Doktrin Pertahanan Negara

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:55

Prabowo Kritik Neoliberalisme, Dorong Kembali Ekonomi Kerakyatan

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:51

Kemensos Evakuasi Bocah Sukabumi yang Suka Cium Tangki Motor Warga

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:34

Prabowo Tetapkan Barang Subsidi Wajib Disalurkan Lewat Kopdes Merah Putih

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:17

Karhutla Mengamuk di Jawa dan Kalimantan, 1 Warga Pingsan

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:03

Selengkapnya