Berita

Hasil budidaya rumput laut di Maluku/Ist

Bisnis

Budidaya Rumput Laut di Maluku Songsong Ekonomi Biru Nasional

SENIN, 02 JUNI 2025 | 23:33 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Sebagai langkah strategis untuk memperkuat ekonomi biru dan mempercepat pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan, Yayasan Samudera Indonesia Timur (YSIT) dan Pemerintahan Provinsi Maluku secara resmi menandatangani Kesepakatan Bersama tentang Pengembangan Budidaya Rumput Laut dan Konservasi Ekosistem Lamun di Provinsi Maluku, beberapa waktu lalu.

Kesepakatan ini bertujuan untuk menjadikan Maluku sebagai pusat budidaya rumput laut berskala global sekaligus model konservasi ekosistem pesisir yang terintegrasi.

Provinsi Maluku memiliki potensi besar dalam sektor kelautan dan perikanan, dengan luas wilayah laut mencapai 92,6 persen dari total wilayahnya. Namun, pemanfaatan sumber daya ini belum optimal. Melalui kesepakatan ini, diharapkan tercipta sinergi antara pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan akademisi untuk mengembangkan budidaya rumput laut serta konservasi ekosistem lamun secara berkelanjutan.


Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menyatakan bahwa kesepakatan ini merupakan langkah konkret dalam mewujudkan Maluku sebagai pusat ekonomi biru nasional. 

Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga swadaya masyarakat untuk menjaga kelestarian ekosistem laut dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

“Meliputi lima wilayah utama di Provinsi Maluku: Kabupaten Maluku Tenggara, Kota Tual, Kabupaten Kepulauan Aru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dan Kabupaten Maluku Barat Daya,” ujar Hendrik dalam keterangan yang diterima redaksi, Senin, 2 Juni 2025.

Sementara itu, Ketua YSIT, Nelly Marinda Situmorang, menambahkan bahwa pihaknya berkomitmen untuk mendukung pengembangan sektor kelautan di Indonesia Timur melalui investasi dan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan. 

Ia juga menekankan pentingnya pelibatan masyarakat lokal dalam setiap tahap pelaksanaan program.

“Pada tahun pertama pelaksanaan kesepakatan ini, direncanakan investasi sebesar Rp2 triliun yang akan difokuskan pada pembangunan infrastruktur pendukung,” jelas Nelly.

Investasi tersebut akan difokuskan pada pembangunan infrastruktur pendukung budidaya rumput laut dan konservasi ekosistem lamun, yang meliputi Pembangunan Balai Latihan Kerja untuk peningkatan kapasitas SDM lokal, Pemenuhan infrastruktur dan properti budidaya, Pembangunan pabrik pengolahan rumput laut, Tempat pengeringan dan gudang bahan baku (raw material), sistem daur ulang air (recycle water system) untuk memenuhi kebutuhan air industri, konservasi ekosistem lamun (seagrass), serta monitoring dan evaluasi yang akan melibatkan akademisi dan pakar lingkungan hidup.

“Ini akan dilakukan secara bertahap. Pada tahun pertama, lahan budidaya ditargetkan seluas 100 hektare. Jumlah ini akan terus ditingkatkan menjadi 1.000 hektare pada tahun kedua, dan terus dikembangkan hingga mencapai target 1 juta hektare lahan budidaya rumput laut,” tambah Nelly.

“Ke depan, kolaborasi juga akan diperluas dengan melibatkan peneliti dari universitas internasional, seperti dari Taiwan, China, Singapura, dan Thailand, untuk melakukan evaluasi teknologi dan inovasi terbaru dalam pengembangan rumput laut,” pungkasnya.

Pemerintah Provinsi Maluku, di bawah kepemimpinan Gubernur Hendrik Lewerissa, menegaskan keterbukaan terhadap investor dari berbagai sektor untuk berinvestasi di wilayahnya, termasuk Kabupaten Maluku Tenggara. 

Hendrik menyatakan bahwa setiap investasi yang masuk harus mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melibatkan tenaga kerja lokal sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas riset dan pengembangan, YSIT akan bekerja sama dengan Universitas Pattimura (Unpatti) dalam pembangunan laboratorium penelitian rumput laut. Laboratorium ini akan menjadi pusat kajian dari hulu ke hilir, termasuk.

"Prinsipnya, pemerintah provinsi tidak menutup diri terhadap setiap investor yang ingin berinvestasi di Maluku. Sekali lagi, sebagai Gubernur saya pastikan, Maluku terbuka untuk semua investasi yang akan masuk," pungkas Hendrik.

Melalui kesepakatan ini, diharapkan tercipta model pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan dan inklusif, yang dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia. Program ini juga diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk kelautan Indonesia di pasar global serta memberikan kontribusi nyata dalam upaya mitigasi perubahan iklim melalui pengembangan ekonomi biru.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Kabakom Sebut Kebijakan Ekonomi Prabowo Makin Inklusif, Upah Buruh Naik

Jumat, 23 Oktober 2026 | 18:20

B50 jadi Andalan Presiden Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:44

Antusiasme Tinggi, Pendaftaran Anugerah Jurnalistik KPU 2026 Diperpanjang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:26

Masuk PSN, Agrinas Palma Siapkan Model Pengelolaan Sawit Rakyat

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:20

IHSG Parkir Zona Hijau, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.100 per Dolar AS

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:54

Kreativitas Jadi Kunci Koperasi Bertahan dan Berkembang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:41

Menkeu Pastikan Gaji ASN Tak Lewat Kopdes

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:34

Bahlil Dikejar Deadline DIM RUU Migas

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:32

Konser Andrea Bocelli dan Peluang Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:23

AsetKu Dukung Literasi Keuangan Bersama AFPI di Jakarta Financial Festival 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:06

Selengkapnya