Berita

Wakil Ketua Majelis Kehormatan Etika Kedokteran, Mayjen (Purn), dr Budiman/Repro

Politik

Menkes Budi Jadikan Layanan Kesehatan sebagai Bisnis

SENIN, 02 JUNI 2025 | 06:59 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Pernyataan dan kebijakan dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin terus menjadi polemik di masyarakat. Bahkan tak sedikit yang menilai kalau Menkes Budi merupakan perpanjangan tangan dari para oligarki.

"Opini tersebut mungkin timbul oleh karena, yang pertama kan memang beliau itu Menkes dua periode. Yang kedua, yang menarik kaum akademisi dan masyarakat adalah pernyataan beliau di depan salah satu forum kesehatan yang menyatakan bahwa 'Selamat menikmati bersama saya lima tahun lagi'," ujar Wakil Ketua Majelis Kehormatan Etika Kedokteran, Mayjen (Purn), dr Budiman, dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Senin, 2 Juni 2025.

Menurut Budiman, hal itu disampaikan Budi sebelum Presiden Prabowo Subianto mengumumkan Kabinet Merah Putih pada Oktober 2024. Tepatnya dalam suatu pertemuan di Bali. 


"Kemudian dianggap pro oligarki karena sering muncul kebijakan-kebijakan beliau yang kontroversial, menimbulkan juga persepsi bahwa beliau dekat dengan kelompok elit korporasi tertentu. Sehingga suatu program-kebijakan yang sebetulnya belum diterima atau belum yakin bisa terlaksana dengan baik," kata mantan Kepala Pusat Kesehatan TNI ini.

Lanjut Budiman, anggapan Menkes Budi erat dengan oligarki adalah karena latar belakang yang bukan kedokteran, melainkan perbankan, yang tentu saja erat dengan korporasi.

"Kemudian, beliau membuat program saat mulai menjadi Menkes, membuka Rumah Sakit asing seluas-luasnya untuk membuka bisnis kesehatan di Indonesia. Dalam arti kata, pelayanan kesehatan dijadikan bisnis bisnis baru yang cukup menarik (bagi oligarki)," tuturnya. 

Kontroversi lainnya, sebut Budiman, adalah mendatangkan dokter asing ke Indonesia yang disebut untuk mencegah orang-orang Indonesia yang jumlahnya 2 juta untuk berobat keluar negeri.

"Kalau kita melihat dan kebanyakan pernyataan beliau di media sosial, kita bisa melihat bagaimana beliau memframing dokter Indonesia, memframing pendidikan dokter Indonesia, kedokteran, yang bisa dengan begitu negatifnya, yang mungkin akan mempengaruhi masyarakat," ujar Budiman.  

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya