Berita

Ilustrasi/Ist

Publika

Pilar Kedaulatan yang Tidak Bisa Ditawar

Oleh: Muchamad Andi Sofiyan*
KAMIS, 29 MEI 2025 | 05:40 WIB

DALAM diskursus publik yang semakin riuh hari ini, kita perlu kembali menegaskan satu prinsip dasar: negara yang berdaulat hanya bisa berdiri tegak jika memiliki pemerintahan yang sah dan dijalankan dengan baik. Pemerintahan bukan sekadar instrumen birokrasi, tetapi pilar yang menopang eksistensi negara itu sendiri.

Sejak zaman komunitas kecil berbasis suku, manusia telah membentuk pemerintahan sebagai mekanisme pengambilan keputusan bersama, pemelihara hukum, dan pelindung kelompok. Sejarah mencatat bagaimana pemerintahan berkembang dari bentuk primitif ke kerajaan-kerajaan besar, kemudian melebur ke dalam kekaisaran, dan kini bertransformasi menjadi negara-bangsa yang modern. Namun fungsinya tetap: mengelola, melindungi, dan mempersatukan.

Di era modern, bentuk negara bisa beragam—republik, monarki konstitusional, federasi, tetapi semua memiliki misi yang sama: melindungi seluruh warga negaranya. Perlindungan bukan hanya dari ancaman fisik, tetapi juga dari kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, dan kehancuran moral. Ketika negara gagal menjalankan fungsi ini, kekacauan akan segera mengambil alih, dan kehancuran akan datang dari dalam maupun luar.


Namun, di zaman pencetakan uang fiat, dinamika kekuasaan berubah secara drastis. Negara-negara kuat dapat menciptakan kekuatan ekonomi dan militer semata karena mereka memiliki hak eksklusif untuk mencetak mata uang yang dipercaya. Uang fiat bukan sekadar alat tukar, tapi senjata geopolitik. Negara yang tidak memperkuat fondasinya akan mudah dijadikan mangsa oleh negara lain yang lebih dahulu membangun kekuatan melalui uang.

Inilah mengapa negara harus dibentuk dan dijaga, bukan sekadar dirayakan. Tanpa pemerintahan yang kuat dan legitimate, suatu wilayah akan kehilangan kedaulatannya, tidak karena kalah perang, tetapi karena dirongrong dari dalam oleh kelemahan sistemik.

Yang tak kalah penting, negara modern membuka ruang bagi partisipasi rakyat dalam pengambilan keputusan. Kebijakan publik bukan milik elit, tetapi harus lahir dari aspirasi rakyat. Namun partisipasi ini harus dilakukan dengan akal sehat, tanggung jawab, dan semangat membangun. Kritik diperlukan, tetapi tidak cukup hanya bersuara. Perlu ada solusi, tindakan, dan kerja nyata.

Sayangnya, hari ini kita menyaksikan gelombang narasi yang tidak lagi bertujuan untuk membangun, tetapi untuk melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Provokasi intelektual yang dibungkus riset, disinformasi yang menyamar sebagai berita, serta pemberitaan media yang hanya menonjolkan konflik tanpa esensi solusi, semua ini mengikis legitimasi negara sedikit demi sedikit.

Lebih berbahaya lagi adalah sikap netral yang dibungkus sebagai “objektivitas”. Di saat negara menghadapi ancaman internal dan eksternal, bersikap netral bukanlah kebijaksanaan—melainkan bentuk pembiaran terhadap keruntuhan. Netralitas dalam situasi genting justru memihak ketidakadilan dan membuka ruang bagi kekuatan destruktif merajalela. Setiap warga negara harus berpihak dan keberpihakan itu harus jelas: kepada negaranya. Kepada kedaulatan, hukum, konstitusi, dan masa depan bersama.

Kita juga perlu mewaspadai para intelektual yang tampaknya berbicara atas nama ilmu dan kebebasan berpikir, tetapi sebenarnya sedang membangun reputasi pribadi untuk meraih kekuasaan. Bahkan lebih jauh, ada yang dengan sadar memainkan peran dalam mendorong disintegrasi, memecah negara besar menjadi kecil-kecil agar lebih mudah dikendalikan kekuatan luar. Di sinilah pentingnya literasi politik dan sejarah agar rakyat tidak mudah tertipu oleh topeng intelektual yang mengusung agenda tersembunyi.

Kehancuran sebuah negara tidak selalu datang dari senjata dan perang. Kadang ia datang dari ketidakpercayaan yang terus dipupuk tanpa dasar, dari narasi-narasi pesimis yang dilontarkan tanpa tanggung jawab, dan dari warganya sendiri yang memilih untuk diam saat negara dirongrong.

Sebagai warga negara, kita punya dua kewajiban besar: menjaga pemerintahan agar tetap berada di jalur yang benar, dan melindungi kepercayaan publik terhadap institusi-institusi negara dari serangan yang tidak bertanggung jawab.

Negara bukan sempurna, dan tidak akan pernah menjadi sempurna. Tapi itu bukan alasan untuk menghancurkannya. Karena tanpa negara, yang tersisa hanyalah kekacauan. Dan dari kekacauan, tak akan lahir keadilan.


*Penulis adalah penggiat literasi dari Republikein StudieClub

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

UPDATE

Dana Asing Banjiri RI Rp2,43 Triliun di Akhir 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 10:09

Pelaku Pasar Minyak Khawatirkan Pasokan Berlebih

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:48

Polisi Selidiki Kematian Tiga Orang di Rumah Kontrakan Warakas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:41

Kilau Emas Dunia Siap Tembus Level Psikologis Baru

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:19

Legislator Gerindra Dukung Pemanfaatan Kayu Hanyut Pascabanjir Sumatera

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:02

Korban Tewas Kecelakaan Lalu Lintas Tahun Baru di Thailand Tembus 145 Orang

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:51

Rekor Baru! BP Tapera Salurkan FLPP Tertinggi Sepanjang Sejarah di 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:40

Wall Street Variatif di Awal 2026

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:23

Dolar AS Bangkit di Awal 2026, Akhiri Tren Pelemahan Beruntun

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:12

Iran Ancam Akan Targetkan Pangkalan AS di Timur Tengah Jika Ikut Campur Soal Demo

Sabtu, 03 Januari 2026 | 07:59

Selengkapnya