Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Hambatan Meningkat, Ekspor Baja China Tersendat

SENIN, 26 MEI 2025 | 14:49 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Peningkatan hambatan perdagangan, seperti tarif, membuat baja China lebih sulit diekspor, sementara penurunan produksi dalam negeri mengurangi jumlah baja yang tersedia untuk diekspor. 

Goldman Sachs, dalam analisisnya, mengatakan, lonjakan ekspor baja China kemungkinan telah mencapai titik tertinggi. Tren ini  menunjukkan bahwa masa kejayaan ekspor baja China telah berakhir. 

Dikutip dari Bloomberg, Senin 26 Mei 2025, Goldman Sachs dalam catatannya mengatakan ekspor meningkat tahun lalu ke level tertinggi dalam sembilan tahun sebesar 111 juta ton, tetapi diperkirakan akan menurun sebesar 3 persen pada 2025 sebelum turun lebih tajam hingga sepertiga pada tahun 2026. 


Hambatan terbesar terhadap penjualan adalah banyaknya investigasi antidumping yang sedang berlangsung di seluruh dunia.

Produksi China diperkirakan turun 2 persen tahun ini dan 3 persen tahun depan. Itu akan membuat produksi pada tahun 2026 mencapai 946 juta ton, lebih dari 10 persen di bawah puncaknya pada tahun 2020, ketika pemerintah mulai mengupayakan pemangkasan.

Pandangan Goldman adalah bahwa pemangkasan produksi yang diwajibkan tidak akan diperlukan tahun ini .karena produksi secara alami akan menurun akibat tekanan pada permintaan domestik dan jalur ekspor baja..

Konsumsi domestik diperkirakan turun 2 persen pada tahun 2025 menjadi 839 juta ton, penurunan tahun kelima berturut-turut, dengan pertumbuhan barang-barang manufaktur tidak cukup untuk mengimbangi penurunan berkelanjutan dalam permintaan dari sektor properti, kata bank tersebut.

Dalam hal dampak pada pasar global, pangsa besar China dalam produksi dunia akan mulai berkurang. Risiko dari pandangan itu adalah bahwa ekspor tidak langsung baja yang terkandung dalam peralatan dan mesin terus meningkat, sehingga mengurangi permintaan baja di negara lain, katanya.

Harga baja tulangan berjangka di Shanghai turun 1,2 persen menjadi 3.010 yuan per ton, level terendah dalam delapan bulan, pada pukul 10.17 pagi. Kontrak acuan bijih besi di Singapura turun 0,8 persen menjadi 97,30 Dolar AS per ton.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Nilai TKA Siswa SD-SMP Jeblok, Program MBG Dipertanyakan

Senin, 01 Juni 2026 | 02:30

UPDATE

13 Langkah Komprehensif Kuatkan Rupiah

Rabu, 03 Juni 2026 | 06:11

Dua Guru Magelang Didakwa Korupsi Modus Pungli Peserta PPG

Rabu, 03 Juni 2026 | 06:00

Bukan Dapur Asal Ngebul

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:26

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

Putusan MK soal Keterwakilan Kuota Perempuan Berikan Keadilan Gender

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:14

Syafrin Liputo Dituntut Bawa Jaksel Lebih Maju, Inklusif, dan Sejahtera

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:01

2.081 Polisi Kawal Ketat Piala AFF U-19 2026

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:22

Korban Kebakaran Kemayoran

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:19

Multipolaritas Harus Jadi Jalan Kerja Sama, Bukan Konfrontasi

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:09

KDM Sikat PKL Usai 30 Tahun Berkuasa di Bandung

Rabu, 03 Juni 2026 | 03:45

Selengkapnya