Berita

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi/Ist

Publika

KDM Korban Ilusi Politik Panggung

Oleh: Budiana Irmawan*
SENIN, 26 MEI 2025 | 09:19 WIB

ROCKY GERUNG (RG) mengkritisi Gubernur Jawa Barat KDM (Kang Dedi Mulyadi). Netizen langsung bereaksi keras, bahkan tidak sedikit pesohor ikut mengecam RG. Baru tiga bulan menjabat KDM menghipnotis publik. Ia dianggap prototipe pemimpin ideal. Jangan coba-coba menentangnya, jika tidak ingin dihujat jutaan netizen.

RG mengerti realitas itu, namun tetap lantang bersuara mengajak publik berpikir lebih dalam. Bahwa kemudian mayoritas kontra justru membuktikan pemahaman dangkal awam. RG ketika mengucapkan argumen selalu punya pendasaran teoritis kuat, tidak sekadar mencari sensasi. Kendati gayanya cenderung nyeleneh dan kerap kali menimbulkan kontroversi.

Tulisan ini hendak melihat relevansi buah pikiran Guy Debord seorang filsuf Prancis tentang The Society of the Spectacle atau masyarakat tontonan yang disitir RG ketika mengomentari KDM dalam satu acara talkshow


Fenomena masyarakat tontonan didasari kritik kiri terhadap kapitalisme. Kapitalisme menggiring masyarakat sekadar konsumen dari pasar. Kompleksitas hubungan antar warga dikerdilkan oleh citra yang sengaja dibangun. 

Citra seolah-olah representasi keinginan kolektif. Melalui iklan produk di media televisi, misalnya, membuat kita terobsesi untuk memiliki sebuah produk atas dasar keinginan bukan kebutuhan riil.

Itulah kapitalisme bekerja memanipulasi kesadaran kognitif masyarakat menurut Guy Debord. Masyarakat tontonan lalu melahirkan mentalitas kerumunan yang menihilkan otonomi individu.

Bisa dibayangkan masyarakat tontonan yang dicemaskan Guy Debord pada masa tahun 1960-an dibandingkan era sekarang. Media YouTube, Tiktok, dan Instagram jauh berdampak dahsyat membentuk citra dan persepsi publik.

Di titik ini, relevansi analisis masyarakat tontonan dalam konteks politik kontemporer. Politik bermakna luhur urusan kebaikan bersama (common good) dicerabut oleh permainan kekuasaan para elite semata. Kita terseret ilusi politik panggung yang sebetulnya cuma urusan res-privata bukan res-publica.

KDM sebagai Gubernur Jawa Barat semestinya menyadari melekat pada dirinya predikat seorang pejabat publik. Hak dan kewajiban pejabat publik berbeda dengan rakyat biasa (common people). 

Pejabat publik memiliki hak keistimewaan (privilege), seperti tunjangan jabatan, rumah dinas, dan biaya operasional selama bertugas. Pada sisi lain, pejabat publik juga dibatasi perilakunya, ia wajib menjungjung tinggi  etika publik.

Tidak salah menunjukan sikap egaliter dengan mendobrak kekakuan protokoler kedinasan. Termasuk menggunakan sosial media sepanjang untuk mempromosikan program pemerintah. Tetapi, kalau tujuan publikasi di sosial media mengejar monetisasi menjadi problematis. Kendati uang yang diperoleh sebagian dibagikan kepada orang miskin.

Memang belum ada regulasi yang mengatur detail pejabat publik melakukan monetisasi. Di sini akal sehat bicara, rasanya aspek kepatutan tidak etis pejabat publik memperoleh pendapatan di luar kewenangan posisi jabatannya. 

Penting dipahami, jabatan merupakan fungsi yang harus dijalankan sistematis dan terstruktur sesuai peraturan perundangan. Perasaan belas kasihan bukan alasan menyantuni orang miskin. Tanggung jawab pemerintah secara institusional adalah intensi melakukan tindakan afirmasi. Karena itu diatur terkait pengamanan sosial (social security) bagi kelompok masyarakat bawah.

Tentu, gempuran modernitas lewat perkembangan teknologi sesuatu yang sulit dihindari. Hanya saja di tengah situasi itu, apakah kita menyerah cukup sebagai konsumen peradaban?

Fenomena masyarakat tontonan  yang diungkap Guy Debord pisau analisis membongkar kekeliruan kita memandang realitas. Dan hal ini dimungkinkan ketika tumbuh kesadaran kritis. Dengan cara ini lalu kita tidak mudah terhipnotis keadaan.

Jadi, tanpa disadari kalau KDM arogan mengabaikan kritisisme malah larut dengan euforia mentalitas kerumunan, sebetulnya korban ilusi politik panggung.

Ingat, tamparan keras purnawiran TNI/Polri menuntut kembali ke UUD 1945 karena demokrasi yang diperjuangkan kaum reformasi dinilai melahirkan pemimpin-pemimpin karbitan bermodal popularitas.

Kritik yang pantas direnungkan agar kita tidak termasuk kategori masyarakat tontonan.

*Penulis adalah pemerhati kebijakan publik

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

8.620 Hektare Lahan Kalsel Terbakar, Pemadaman Terganjal Krisis Air

Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:24

BRImo Taiwan Manjakan Diaspora dan PMI Kelola Keuangan

Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:15

Temuan Bibit Sawit Bongkar Motif Karhutla Bukan Semata karena El Nino

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:52

ISPA dan Rabies Mulai Mengancam Ribuan Pengungsi Gempa NTT

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:39

Tolak Demo Berbau Provokasi di DPR, Jaga Jakarta!

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:23

Magang Pengurus KDKMP Replikasi Model Bisnis Berbasis Potensi Desa

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:12

Masa Iddah Politik Calon Ketum PBNU: Bolehkah Perkum Menambah Syarat?

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:06

Menuju Muktamar NU, Nahdliyin Berharap Sejarah 2015 Tak Terulang

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:31

Gebu Minang-Hanura Terbangkan 3,6 Ton Rendang Buat Korban Gempa NTT

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:28

Obligasi Sosial Berkelanjutan BRI Raih IDX Channel Anugerah ESG 2026

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:16

Selengkapnya