Berita

Ilustrasi/Ist

Nusantara

Petani Sawit Sumsel Kena Imbas Kenaikan Pungutan Ekspor

MINGGU, 25 MEI 2025 | 03:36 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Petani kelapa sawit di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) tengah menghadapi situasi yang semakin sulit. Penurunan harga tandan buah segar (TBS) dan meningkatnya biaya produksi menjadi tantangan utama mereka.

Wakil Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumsel, M. Yunus menjelaskan, kondisi cuaca ekstrem turut memperburuk keadaan. Curah hujan yang tinggi menyebabkan beberapa kebun sawit di daerah rendah terendam banjir, sehingga produksi menurun drastis.

“Banyak buah sawit yang tidak bisa dipanen. Kalaupun bisa, biaya pemanenannya jauh lebih besar,” ungkap Yunus, diwartakan RMOLSumsel, Sabtu 24 Mei 2025.


Selain itu, para petani juga dihadapkan pada tingginya biaya operasional, seperti perawatan kebun dan pembelian pupuk. Yunus menambahkan bahwa harga pupuk kini mencapai Rp7.000 hingga Rp10.000 per kilogram, jauh lebih mahal dibandingkan yang didapatkan oleh perusahaan besar yang memiliki akses langsung ke distributor.

Petani semakin tertekan dengan kebijakan kenaikan tarif pungutan ekspor (PE) minyak sawit menjadi 10 persen. Dampak kebijakan tersebut sudah dirasakan dalam penetapan harga TBS di Sumsel. Harga TBS yang sebelumnya berada di angka Rp3.526 per kilogram pada periode awal Mei 2025, turun menjadi Rp3.374 per kilogram pada periode berikutnya.

“Kenaikan pungutan ekspor ini memberikan pukulan berat, terutama kepada petani. Berbeda dengan perusahaan besar yang masih memiliki keuntungan dari proses hilir seperti produksi CPO,” jelas Yunus.

Yunus mendesak pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan tersebut. Ia berharap pemerintah tidak menggunakan langkah cepat seperti menaikkan pungutan ekspor untuk mengatasi defisit anggaran. Menurutnya, kebijakan ini sangat berdampak pada sektor hulu industri kelapa sawit yang melibatkan banyak petani.

“Kami berharap pemerintah lebih mempertimbangkan dampak yang dirasakan oleh para petani, karena mereka adalah ujung tombak industri sawit di negeri ini,” tegasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya