Berita

Nissan/Carvaganza

Bisnis

Kejatuhan Nissan Berawal dari Ambisi Carlos Ghosn

RABU, 21 MEI 2025 | 08:48 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Perusahaan mobil asal Jepang, Nissan, sedang menghadapi masalah besar. Mereka mencatat kerugian besar, menutup beberapa pabrik, dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan karyawan.

Para analis menelusuri akar masalah ini hingga ke masa kepemimpinan Carlos Ghosn, yang memimpin Nissan selama lebih dari 15 tahun. Menurut mereka, Ghosn mendorong ekspansi global secara agresif, yang akhirnya membuat perusahaan tumbuh terlalu cepat dan tidak terkendali. Kini, mengecilkan skala bisnis agar kembali sehat dan menguntungkan menjadi tantangan besar.

“Selama Ghosn masih di Nissan, perusahaan terus mendorong ekspansi ke seluruh dunia,” kata analis senior dari Aizawa Securities, Yasushi Yokoyama, dikutip dari Japan Times, Rabu 21 Mei 2025.


“Tidak mudah tiba-tiba mengubah arah dan memperkecil skala bisnis,” tambahnya.

CEO Nissan, Ivan Espinosa, sebelumnya juga pernah membahas hal ini. Dalam acara Future of the Car Summit yang diadakan oleh Financial Times, ia mengatakan masalah sebenarnya sudah muncul sejak sekitar sepuluh tahun lalu, ketika Nissan menargetkan penjualan delapan juta mobil per tahun. Target itu ternyata terlalu optimis.

Namun, angka penjualan terbaru jauh dari target itu. Pada tahun fiskal Jepang 2024 (1 April 2024 – 31 Maret 2025), Nissan hanya mengirimkan sekitar 3,3 juta unit.

“Nissan sudah menghabiskan banyak uang untuk memperbesar kapasitas produksi dan menambah jumlah karyawan demi mengejar target yang terlalu ambisius,” kata Espinosa.

“Masalah ini makin memburuk karena tidak ada yang berani mengambil langkah untuk memperbaikinya hingga saat ini," ujarnya.

Menurutnya, krisis ini bukanlah masalah baru.

“Masalah ini sudah ada sejak 2015, saat manajemen yakin bisa menjual delapan juta unit per tahun. Padahal, kenyataannya sekarang kita hanya mencapai setengah dari angka itu. Dan tidak ada yang melakukan apa pun sampai sekarang,” ujarnya.

Saham Nissan anjlok tajam setelah perusahaan melaporkan kerugian bersih sebesar 670,9 miliar Yen (sekitar Rp72 triliun).

Untuk menghemat biaya sebesar 500 miliar Yen, Nissan sebelumnya sudah mengumumkan rencana menutup tujuh pabrik dan memangkas 20.000 pekerja. Tapi langkah ini belum cukup untuk meredakan kekhawatiran investor, terutama soal ketidakpastian akibat kebijakan tarif global.

Sepanjang tahun ini, saham Nissan telah turun lebih dari 25 persen, jauh lebih buruk dibandingkan penurunan 7 persen pada indeks saham otomotif di Topix, Jepang.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Nasib Pengalihan Utang Whoosh Tak Jelas, Ini Penjelasan Wamenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 22:20

Ombudsman Soroti Masa Sanggah Data Rumah Rusak Gempa NTT Terlalu Singkat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:55

KPK Dalami Pengurusan HGB PT Bela Parahiyangan hingga ke Pusat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:36

Rafyq Pandjaitan Terpilih Ketua KWP, Ariawan Titip Pesan Ini

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:50

KBRI Singapura Tak Punya Dokumen Pendidikan Gibran

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:20

Jenderal Sigit jadi Bidak Benteng dalam Catur Pemerintahan Prabowo

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:57

Hatta Rajasa Pastikan Wantimpres Beri Nasihat Berkualitas untuk Presiden

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:44

Kapolri Berganti, Jenderal Sigit Serahkan Panji Tribrata ke Jenderal Suyudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:40

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Bersama UI, Peradi Profesional Bidik Pendidikan Advokat Lebih Berkualitas

Jumat, 02 Oktober 2026 | 18:51

Selengkapnya