Berita

Pedagang di pasar tradisional/RMOL

Bisnis

Ekonomi Tak Bergairah Pasca Lebaran, Pemerintah Harus Segera Turun Tangan

JUMAT, 16 MEI 2025 | 14:30 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Tanda-tanda pelemahan ekonomi nasional kian nyata. Sejumlah indikator utama menunjukkan tren melambat, yang menandakan daya beli masyarakat melemah dan keyakinan konsumen ikut menurun.

Pengamat ekonomi, Ibrahim Asuaibi, menyebut situasi ini sebagai cerminan dari kondisi ekonomi domestik yang tengah lesu. Ia menyoroti dua indikator utama, yakni Indeks Penjualan Riil (IPR) dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang menurun sebagai tanda.

“Perekonomian Indonesia nampak tengah mengalami kelesuan. Ini bisa dilihat dari berbagai data yang ada,” kata Ibrahim dalam keterangannya kepada RMOL, dikutip Jumat 16 Mei 2025.


Data Bank Indonesia (BI) mencatat, IPR pada Maret 2025 hanya tumbuh 5,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan Maret 2024 yang mencatatkan pertumbuhan 9,3 persen.

Lebih lanjut, IPR pada April 2025 diprediksi justru mengalami kontraksi hingga minus 2,2 persen secara tahunan, dengan proyeksi berada di level 231,1.

Di saat yang sama, IKK sebagai indikator optimisme konsumen, juga melemah. IKK Maret 2025 tercatat turun ke level 121,1 dari bulan sebelumnya yang berada di 126,4. Meski sempat menguat tipis ke 121,7 pada April 2025, pemulihan dinilai masih belum cukup signifikan.

“Maka dari itu, tak heran kalau tingkat konsumsi maupun antusiasme masyarakat Indonesia secara ekonomi pada momen Lebaran tahun ini tak sebesar Lebaran di tahun-tahun sebelumnya,” lanjut Ibrahim.

Ia menilai, stagnasi pendapatan menjadi salah satu penyebab utama lesunya konsumsi masyarakat.

Sebagai solusi, Ibrahim menyarankan perlunya kebijakan intervensi pemerintah berupa bantuan sosial (bansos) yang tepat sasaran untuk masyarakat berpendapatan rendah. 

Selain itu ia juga meminta pemerintah untuk mengatasi kelesuan ekonomi yang juga dialami kelas menengah, seperti penciptaan industri baru.

“Sedangkan bagi kelas menengah, penciptaan industri baru menjadi solusinya,” tandasnya.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

Menkeu Baru Angkat Bicara Soal Perombakan Pejabat Bea Cukai dan Dirjen Pajak

Senin, 14 September 2026 | 17:28

UPDATE

Dina Sulaeman: Sikap Prabowo Beri Pesan Diplomatik Kuat untuk Palestina

Minggu, 20 September 2026 | 09:51

Ekonom Ungkap Skema Pendidikan Gratis PTN Tanpa Menguras APBN

Minggu, 20 September 2026 | 09:43

Prabowo Berencana Produksi Bensin dari Batu Bara

Minggu, 20 September 2026 | 08:56

Humanika: Jangan Jatuhkan Prabowo Sebelum Lima Tahun

Minggu, 20 September 2026 | 08:49

Sesuai Ambisi Prabowo, Kampus Negeri Jangan Cari Duit dari Mahasiswa Lagi

Minggu, 20 September 2026 | 08:22

Dubes Palestina Ungkap Momen Emosional Saat Peluk Prabowo di Gontor

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Ekonom: Prabowo Tinggal Lanjutkan Pendidikan Gratis dari SBY

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Keretakan Peradaban

Minggu, 20 September 2026 | 07:38

Wadanyon OPM Kodap 35 Bintang Timur Yahukimo Diringkus TNI

Minggu, 20 September 2026 | 06:46

DPD Tawarkan Solusi Netral Fiskal Demi Ekonomi Berlari Kencang

Minggu, 20 September 2026 | 06:19

Selengkapnya