Berita

Ilustrasi/RMOL

Bisnis

Isu Kesepakatan Nuklir Iran-AS Bikin Harga Minyak Anjlok

JUMAT, 16 MEI 2025 | 09:31 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak turun tajam yang dipicu oleh harapan tercapainya kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang bisa membuat sanksi ekonomi terhadap Iran dilonggarkan dan pasokan minyak dunia meningkat.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent turun 1,56 Dolar AS (sekitar 2,36 persen) menjadi 64,53 Dolar AS per barel pada penutupan perdagangan Kamis, 15 Mei 2025, atau Jumat pagi WIB.

Sedangkan minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) turun 1,53 Dolar AS (sekitar 2,42 persen) ke level 61,62 Dolar AS per barel.


Penurunan harga terjadi setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran mengenai kesepakatan nuklir semakin mendekati kata sepakat. Iran disebut hampir menyetujui syarat-syarat yang diajukan AS.

Seorang pejabat Iran kepada NBC News mengatakan bahwa Teheran bersedia menyetujui kesepakatan itu jika sanksi ekonomi terhadap negara tersebut dicabut.

Menurut analis dari SEB, Ole Hvalbye, pencabutan sanksi ini bisa membuat Iran menambah pasokan sekitar 800 ribu barel minyak per hari ke pasar global, yang tentu saja akan menekan harga minyak.

"(Setiap) pencabutan sanksi langsung yang berasal dari perjanjian nuklir dapat membuka tambahan 0,8 juta barel minyak mentah Iran per hari untuk pasar global – suatu perkembangan yang tidak dapat disangkal berdampak buruk pada harga," kata Hvalbye.

John Kilduff, analis dari Again Capital di New York, mengatakan pasar bergejolak karena ketidakpastian soal kesepakatan Iran-AS.

"Kita masih belum tahu apakah Presiden Trump akan tetap menjatuhkan sanksi pada Iran atau justru membuka pintu kerja sama. Ketidakpastian ini membuat pasar minyak terus bergejolak," ujarnya.

Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) meningkatkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global di tahun 2025 menjadi 740 ribu barel per hari - naik 20 ribu barel dari perkiraan sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan harga minyak yang lebih murah, yang mendorong konsumsi.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

UPDATE

Tumbuhkan Mimpi Puluhan Anak Nelayan Cilincing Lewat Nobar Film

Senin, 14 September 2026 | 03:18

Sejumlah Alutsista TNI Gercep Sisir Korban KM Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 02:55

Kesehatan di Tepi Republik

Senin, 14 September 2026 | 02:29

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen Bukti Kepercayaan Dunia Usaha Terus Menguat

Senin, 14 September 2026 | 01:54

Terpilih jadi Ketum HPK Kosgoro 1957, Eric Hermawan Langsung Tancap Gas Konsolidasi

Senin, 14 September 2026 | 01:24

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Air dan Ikan, Begini Penjelasannya

Senin, 14 September 2026 | 00:55

KDM Dinilai Lebih Utamakan Pencitraan Ketimbang Solusi Defisit APBD Jabar

Senin, 14 September 2026 | 00:33

Menuju HUT ke-81, Panglima TNI Buka Rangkaian 72 Lomba Open Turnamen

Senin, 14 September 2026 | 00:11

SOKSI Siap Tempuh Jalur Hukum Gugat 'Bocor Alus Tempo'

Minggu, 13 September 2026 | 23:48

Asta Cita, Zakat, dan Jalan Baru Mengentaskan Kemiskinan

Minggu, 13 September 2026 | 23:24

Selengkapnya