Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Formappi: Parlemen Semakin Mirip Kopi

JUMAT, 16 MEI 2025 | 09:29 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Kinerja parlemen atau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terpilih dari hasil pemilihan umum (Pemilu) Serentak 2024, dinilai tidak memiliki keberpihakan kepada masyarakat.

Hal tersebut disampaikan peneliti senior Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus, dalam podcast bersama Koordinator Komite Pemilih (TePI) Indonesia Jeirry Sumampow, di kanal Youtube Vinus Forum.

"Parlemen yang sekarang ini sebetulnya semakin ke sini semakin seperti kopi. Makin gelap," kata Lucius dikutip Jumat, 16 Mei 2025.


Dia menjelaskan, DPR sebagai wakil rakyat seharusnya menjadi penyeimbang dalam setiap kebijakan yang dibuat atau dikeluarkan oleh pemerintah.

"Karena yang kita harapkan dari parlemen sebuah situasi di mana pemerintahan atau kekuasaan itu harus berjalan dalam sistem check and balance, dan DPR ini diharapkan menjadi lembaga penyeimbang pemerintah. Nah ini yang makin ke sini tidak kita rasakan," tuturnya.

Lucius mengatakan, DPR pada dasarnya memiliki tiga fungsi utama dalam semangat kelembagaannya berdasarkan amanat konstitusi yaitu legislasi, anggaran, dan pengawasan.

"Yang banyak diharapkan orang itu fungsi pengawasannya. Bagaimana DPR bisa hadir di saat pemerintah membuat kebijakan," sambungnya menjelaskan.

Lucius menyatakan, pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sekarang ini, DPR yang tidak melakukan fungsi check and balance terbilang sebagai dampak dari yang dilakukan presiden sebelumnya.

"Ini sudah dirasakan ketika Presiden Jokowi di tahun 2014. Ketika Presiden Jokowi berhasil melakukan konsolidasi politik dengan membangun kekuatan besar pendukung pemerintah di parlemen, itu kita lihat hampir sama warna DPR dengan pemerintah," urai Lucius.

"Kalau misalnya kita lihat di era SBY 2009-2014, kita justru melihat era di mana oposisi di parlemen itu begitu kuat mempengaruhi proses pengambilan kebijakan, itu berbanding terbalik dengan apa yang kita lihat di era 2014-2019," tambahnya memaparkan.

Oleh karena itu, Lucius justru berharap parlemen di era Presiden Prabowo dapat memberikan ruang seluas-luasnya kepada seluruh unsur masyarakat terlibat dalam penyusunan kebijakan.

"Sekarang pemerintahan baru, Presiden Prabowo dan Wapres Gibran. Sekarang lebih banyak kritik beredar di Ruang publik," demikian Lucius menegaskan.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya