Berita

Serikat Pengemudi Daring (SPEED) menyerukan boikot produk terafiliasi Israel di Jakarta/Ist

Nusantara

Survei: Publik Sadar Ada Pihak Diuntungkan di Balik Boikot Produk Terafiliasi Israel

KAMIS, 15 MEI 2025 | 20:33 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Mayoritas publik percaya gerakan boikot produk terafiliasi Israel yang belakangan ini berkembang lebih menguntungkan pihak tertentu.

Hal tersebut didapati dalam survei Pusat Kajian dan Analisis Ekonomi Nusantara (PKAEN) terkait gerakan boikot produk terafiliasi Israel di Indonesia.

"Sebesar 73,1 persen masyarakat setuju atau sangat setuju bahwa ada pihak yang diuntungkan oleh boikot," kata Direktur PKAEN, Edo Segara Gustanto dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 15 Mei 2025.


Dugaan ada pihak tertentu mengambil keuntungan cukup terbuka lantara lembaga otoritas seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) belum mengeluarkan daftar resmi produk yang harus diboikot.

Edo berujar, masyarakat hanya bergantung pada daftar liar yang tersebar di media sosial tanpa tahu sumber aslinya. Daftar yang tersebar luas itu pun sarat bermuatan persaingan usaha, bukan alasan kemanusiaan sebagaimana diperjuangkan untuk Palestina.

Gerakan boikot juga berpotensi menyebabkan kerugian bagi perusahaan sama sekali tidak berkaitan dengan agresi militer Israel ke Palestina. Lebih mengkhawatirkan, gerakan tersebut bisa berujung pada PHK massal tenaga kerja di dalam negeri.

"Artinya, ketika kita memboikot itu apakah sudah tepat atau belum? Apakah produk yang kita boikot itu terafiliasi Israel dan mendapat klarifikasi? Jangan-jangan ini cuma persaingan bisnis saja," jelasnya.

Sementara Dewan Pakar Pusat Studi Siyasah dan Pemberdayaan Masyarakat (PS2PM), Muslich KS berujar, publikasi hasil survei sangat penting sebagai dasar pertimbangan masyarakat dalam mengambil sikap terhadap boikot.

Saat ini, publik membutuhkan kejelasan produk-produk mana yang benar-benar memiliki keterkaitan dengan Israel agar tidak salah sasaran.

"Butuh kajian lanjutan dan tindakan dari ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah untuk memberikan pemahaman yang tepat," katanya.

Survei ini dilakukan dengan menggandeng PS2PM Yogyakarta dengan melibatkan 810 responden. Survei dilakukan di kota-kota yang dianggap memiliki sensitivitas tinggi terhadap isu boikot di tanah air, seperti Yogyakarta, Lombok, Pekanbaru, Aceh, dan Bandung.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya