Berita

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump/Ist

Bisnis

Ekonom: Amerika Tidak Punya DNA Penganut Pasar Bebas

RABU, 14 MEI 2025 | 20:14 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Penerapan tarif resiprokal oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang kini mulai dikaji ulang dan diturunkan secara selektif, terutama terhadap China bukan sekadar gertakan. 

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, mengingatkan agar negara-negara mitra dagang, termasuk Indonesia, tidak menganggap enteng kebijakan tarif Trump 

"Kalau ada yang mengira Trump hanya menggertak saja, harus pikir dua kali. Harap belajar dari sejarah, agar dapat memperoleh hasil maksimal dalam perundingan tarif dengan AS," kata Anthony dalam keterangan tertulis yang diterima RMOL, Rabu, 14 Mei 2025.


Anthony menyoroti, Trump pada 2 April 2025 yang secara resmi menerapkan tarif impor resiprokal terhadap hampir semua mitra dagang, tak terkecuali negara-negara sekutu seperti Uni Eropa, Inggris, Kanada, Jepang, dan lainnya.

Kebijakan tarif tersebut mengejutkan dunia. Banyak pihak mencemooh Trump dan menilai langkah tersebut hanya sebagai gertakan saja. Namun menurut Anthony, kebijakan tersebut sepenuhnya konsisten dengan sejarah panjang ekonomi protektif negeri Paman Sam itu.

“Amerika Serikat memang tidak pernah mempunyai ‘DNA’ sebagai negara penganut pasar bebas. Sebaliknya, Amerika (itu) negara penganut paham merkantilisme atau sistem ekonomi protektif,” jelas Anthony.

Ia memaparkan, sejak kemerdekaannya, AS telah mengadopsi sistem ekonomi protektif yang dimulai dari Menteri Keuangan pertama Alexander Hamilton pada 1790. Dalam laporan terkenalnya, Report on Manufactures, Hamilton mendorong proteksi terhadap industri dalam negeri dan subsidi sebagai instrumen untuk membangun daya saing nasional.

Selama lebih dari satu setengah abad, tarif impor AS merupakan yang tertinggi di dunia, bahkan mencapai lebih dari 60 persen pada akhir 1820-an. Proteksi ini sempat memicu ketegangan domestik, seperti krisis penolakan tarif di Carolina Selatan pada masa Presiden Andrew Jackson dan menjadi salah satu pemicu perang saudara tahun 1861.

Namun menurut Anthony, proteksionisme tersebut terbukti berhasil mengangkat kekuatan industri AS hingga menjadi negara paling makmur dan kuat secara ekonomi dan militer, terutama setelah Perang Dunia II.

Penurunan tarif yang terjadi pascaperang, menurut Anthony, dilakukan atas dasar solidaritas untuk membangun kembali ekonomi dunia. Namun hal itu juga menyebabkan defisit neraca perdagangan AS sejak 1970-an sampai saat ini. Untuk itu, Trump yang memandang defisit tersebut sebagai ancaman, memilih untuk mengembalikan kebijakan protektif secara menyeluruh di periode keduanya.

“Kalau melihat sejarah tarif AS, tarif resiprokal Trump termasuk biasa-biasa saja dibandingkan tarif era Andrew Jackson, Morril, atau William McKinley,” tambah Anthony.

Ia menekankan bahwa kebijakan Trump mencerminkan garis politik Partai Republik yang konsisten membela kepentingan nasional melalui pendekatan proteksionisme. Langkah penurunan tarif terhadap beberapa negara, termasuk China, yang kini mulai diberlakukan, menjadi bukti bahwa kebijakan ini bukan gertakan, melainkan strategi negosiasi jangka panjang.

“Pemimpin dari partai Republican lebih “militan” dalam membela kepentingan negara dan bangsanya dalam menjalankan sistem ekonomi protektif ini. Donald Trump hanya salah satu dari mereka,” pungkas Anthony.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Wall Street Hijau di Tengah Harapan Meredanya Konflik AS-Iran

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:23

Di Balik Sensor Istana: Diksi Nuklir Prabowo dan Bantahan Kilat Teheran

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:10

Pelatih Vietnam Bongkar Rahasia Usai Permalukan Indonesia 3-0

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:04

Tanggapi MK, Menkeu Pastikan Anggaran MBG Tidak Mengganggu APBN

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:47

Menhaj Lantik 6 Pejabat Kemenhaj untuk Perkuat Pelayanan Haji dan Umrah

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:46

Bunga Pinjaman Turun, Bulog Hemat hingga Rp1,07 Triliun per Tahun

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:35

Pasar Logam Mulia Tertekan, Emas Masih Berkutat di 4.000 Dolar AS

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:18

Bursa Eropa Cetak Rekor, DAX 40 Tembus 26.000 Poin

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:07

Sekolah Nasional Terintegrasi: Tantangan Pendidikan dan Implementasi Rekonstruksi

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:46

BGN Anggap Putusan MK Justru Perkuat Program MBG

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:27

Selengkapnya