Berita

Ilustrasi/RMOL

Bisnis

Dolar AS Tersungkur, Euro Menguat setelah Kemenangan Merz di Pemilu Jerman

RABU, 07 MEI 2025 | 09:26 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) tersungkur karena kekhawatiran pasar mengenai kesepakatan perdagangan yang digembar-gemborkan Presiden Donald Trump belum terwujud. 

Indeks Dolar AS (Indeks DXY) turun 0,59 persen ke 99.2380 pada penutupan perdagangan Selasa 6 Mei 2025 atau Rabu pagi WIB.

Investor menunggu rincian tentang kesepakatan perdagangan yang menurut pemerintahan Trump sedang dinegosiasikan dan akan diumumkan segera pekan ini. 


"Pasar mulai gelisah karena kita mulai menggerogoti jadwal sejak penangguhan tarif 90 hari tanpa ada pengumuman yang berarti," kata Eugene Epstein, analis Moneycorp, dikutip dari Reuters.

Dolar AS melemah terhadap Yen, 0,86 persen menjadi 142,445 Yen. 

Dolar AS juga melemah terhadap Franc Swiss, turun tipis 0,09 persen menjadi 0,82145 Franc. 

Chairman Swiss National Bank, Martin Schlegel, mengatakan SNB siap melakukan intervensi di pasar mata uang dan memangkas suku bunga bahkan di bawah nol untuk mencegah inflasi jatuh di bawah target stabilitas harganya.

Dolar AS juga melemah terhadap Dolar Kanada setelah Perdana Menteri Mark Carney secara blak-blakan memberi tahu Trump selama kunjungan ke Gedung Putih, bahwa Kanada tidak akan pernah dijual. 

Dolar Kanada menguat 0,39 persen terhadap Dolar AS menjadi 1,38 per Dolar AS.

Dolar AS juga melemah terhadap Euro di penutupan Selasa.  Euro memperpanjang kenaikan setelah pemilihan umum di Parlemen Jerman menghasilkan suara terbanyak untuk  pemimpin konservatif Friedrich Merz. 

Merz mengamankan suara yang dibutuhkan untuk menjadi kanselir Jerman, pasca kekalahan yang memalukan. Mata uang tunggal tersebut terakhir menguat 0,50 persen menjadi 1,1371 Dolar AS.

Departemen Perdagangan melaporkan bahwa defisit perdagangan AS melebar 14 persen ke rekor 140,5 miliar Dolar AS sepanjang Maret karena bisnis meningkatkan impor menjelang tarif Trump.

Federal Reserve diprediksi mempertahankan suku bunga tetap stabil. Chairman Fed Jerome Powell tidak mungkin memberikan panduan yang jelas tentang bagaimana bank sentral berencana untuk menanggapi tarif impor AS. 

Poundsterling menguat terhadap Dolar AS, 0,61 persen menjadi 1,33780 Dolar AS.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya