Berita

Ilustrasi/Antara Foto

Publika

Potret Dunia dan Inovasi Indonesia

Oleh: Muchamad Andi Sofiyan*
KAMIS, 01 MEI 2025 | 14:25 WIB

DI tengah perubahan global yang serba cepat, setiap kawasan dunia membawa keunikan pendekatannya dalam menghadapi tantangan zaman. Eropa tampil sebagai kawasan yang menjunjung stabilitas dan tradisi, Amerika dengan dinamika dan semangat kebebasannya, sementara Indonesia dan banyak negara berkembang lainnya menunjukkan daya inovasi yang tumbuh dari keterbatasan.

Masing-masing jalur ini mencerminkan karakter historis, budaya, dan sosial yang berbeda. Namun menariknya, di era digital ini, negara-negara seperti Indonesia justru tampil sebagai sumber inspirasi baru. Karena kemajuan hari ini tidak semata ditentukan oleh siapa yang lebih kaya atau lebih mapan, tetapi oleh siapa yang lebih siap, lincah, dan kreatif dalam menanggapi perubahan.

Eropa: Stabilitas yang Terjaga


Sebagai benua dengan warisan sejarah yang sangat panjang, Eropa telah lama menjadi contoh dalam tata kelola pemerintahan, sistem sosial, dan kualitas hidup masyarakat. Nilai-nilai seperti inklusivitas, keberlanjutan, dan perlindungan terhadap hak asasi manusia menjadi pilar utama dalam kebijakan publik mereka.

Namun, kestabilan yang kuat juga menghadirkan tantangan baru: bagaimana menyeimbangkan antara mempertahankan sistem yang ada dan merespons perubahan zaman dengan cepat. Dalam bidang teknologi, beberapa negara Eropa berusaha keras mengejar ketertinggalan dari kawasan lain yang lebih agresif berinovasi. Meski demikian, Eropa tetap menjadi panutan dalam hal ketahanan sosial dan tata nilai masyarakat yang humanistik.

Amerika: Dinamika di Tengah Kebebasan

Amerika Serikat tetap menjadi magnet, global baik dalam ekonomi, budaya, maupun teknologi. Semangat kebebasan individu dan pasar terbuka menjadi fondasi yang memungkinkan lahirnya banyak inovasi besar. Kawasan seperti Silicon Valley, misalnya, telah mengubah wajah dunia digital dalam dua dekade terakhir.
Namun dinamika sosial-politik Amerika juga menghadirkan kompleksitas. Polarisasi ideologis dan tantangan ketimpangan sosial menjadi isu yang terus bergulir. Namun hal ini juga memperlihatkan bahwa kebebasan berpendapat dan sistem demokrasi memungkinkan diskusi publik terus hidup dan berkembang, bahkan di tengah perbedaan yang tajam.

Indonesia: Inovasi yang Tumbuh dari Akar Rumput

Indonesia, sebagai negara berpenduduk besar dengan keragaman luar biasa, memiliki cerita tersendiri. Berbagai keterbatasan infrastruktur dan tantangan ekonomi tidak menyurutkan semangat masyarakatnya untuk terus maju. Justru dari sanalah lahir banyak inovasi khas Indonesia yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat.

Platform transportasi daring, sistem pembayaran digital, layanan edukasi berbasis komunitas, hingga gerakan wirausaha sosial menjadi bukti bahwa inovasi tidak hanya milik negara maju. Indonesia menunjukkan bahwa semangat kolaborasi, gotong-royong, dan kreativitas bisa menjadi sumber kekuatan luar biasa.

Yang menarik, banyak inovasi di Indonesia tidak selalu bersandar pada teknologi tinggi, melainkan pada pendekatan yang praktis dan relevan dengan konteks lokal. Ini menunjukkan bahwa inovasi bukan hanya soal kecanggihan, tapi soal kepedulian terhadap masalah riil dan kemampuan menciptakan solusi yang inklusif.

Dunia Baru Butuh Pendekatan Baru

Dalam dunia yang semakin terkoneksi dan berubah cepat, tidak ada satu model yang bisa dianggap paling benar atau unggul. Setiap kawasan membawa keunggulan dan tantangan masing-masing. Justru dengan memahami keunikan pendekatan setiap bangsa, kita bisa belajar saling melengkapi.

Negara seperti Indonesia bisa menjadi contoh bagaimana kreativitas dapat tumbuh tanpa menunggu segala hal sempurna. Dan Eropa maupun Amerika tetap memiliki peran penting sebagai pusat pengalaman, nilai demokrasi, dan kekuatan institusi.

Ke depan, dunia butuh pendekatan yang lebih kolaboratif, bukan kompetitif. Inovasi tidak lagi monopoli segelintir negara, melainkan lahir dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari kawasan yang dulu sering dianggap “tertinggal”.

Membangun masa depan tidak bisa dilakukan sendiri. Dengan saling belajar, menghargai perbedaan, dan membuka ruang kerja sama, kita bisa menghadirkan dunia yang lebih adil, kreatif, dan berkelanjutan.


*Penulis adalah penggiat literasi dari Republikein StudieClub

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Nama Elon Musk hingga Eks Pangeran Inggris Muncul dalam Dokumen Epstein

Minggu, 01 Februari 2026 | 14:00

Said Didu Ungkap Isu Sensitif yang Dibahas Prabowo di K4

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:46

Pengoperasian RDF Plant Rorotan Prioritaskan Keselamatan Warga

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:18

Presiden Harus Pastikan Kader Masuk Pemerintahan untuk Perbaikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:03

Danantara Bantah Isu Rombak Direksi Himbara

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:45

Ada Kecemasan di Balik Pidato Jokowi

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:25

PLN Catat Penjualan Listrik 317,69 TWh, Naik 3,75 Persen Sepanjang 2025

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:07

Proses Hukum Berlanjut Meski Uang Pemerasan Perangkat Desa di Pati Dikembalikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:03

Presiden Sementara Venezuela Janjikan Amnesti untuk Ratusan Tahanan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:27

Kelola 1,7 Juta Hektare, Agrinas Palma Fokus Bangun Fondasi Sawit Berkelanjutan

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:13

Selengkapnya