Berita

Ilustrasi/Anadolu Agency

Bisnis

Dipicu Kebijakan Trump, ECB Bakal Potong Suku Bunga

SENIN, 28 APRIL 2025 | 10:54 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Bank Sentral Eropa (ECB) sedang mempertimbangkan untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut, setelah memperkirakan adanya dampak jangka panjang terhadap perekonomian akibat kebijakan tarif dari Amerika Serikat (AS).

Keputusan ini muncul setelah pertemuan di Dana Moneter Internasional (IMF), di mana banyak pembuat kebijakan yang kecewa.

Mereka khawatir sikap Presiden AS Donald Trump yang tidak terduga akan terus menciptakan ketidakpastian, yang akan mengurangi pengeluaran dan investasi, serta menekan inflasi dalam waktu dekat.


Penguatan Euro, pembiayaan yang lebih ketat akibat pengeluaran fiskal yang meningkat, dan penurunan harga energi juga akan memberi tekanan pada harga, sehingga memperkuat alasan untuk menurunkan suku bunga sebesar seperempat poin pada bulan Juni. Keputusan selanjutnya akan bergantung pada proyeksi inflasi tahun depan.

Ekonom dari Bank of America, Deutsche Bank, dan Morgan Stanley memperkirakan suku bunga deposito, yang saat ini 2,25 persen, akan turun menjadi sekitar 1,5 persen tahun ini untuk merangsang permintaan.

Namun, beberapa anggota Dewan Pengurus, seperti Olli Rehn dan Gediminas Simkus, terbuka untuk penurunan lebih lanjut, sementara yang lain seperti Klaas Knot dan Martins Kazaks lebih berhati-hati, mengingat dampak jangka menengah dari situasi saat ini masih belum jelas.

Presiden ECB, Christine Lagarde, tetap pada kebijakan resmi ECB.

"Karena guncangan yang tidak pasti, kami tidak bisa memberikan kepastian dengan menentukan jalur suku bunga," dikutip dari Business Times, Senin, 28 April 2025. 

Ia juga menambahkan bahwa ECB harus sangat bergantung pada data yang ada.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi akan lebih lambat. Survei terhadap manajer pembelian menunjukkan penurunan kepercayaan dan permintaan yang lesu, sementara proyeksi IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi 20 negara hanya akan mencapai 0,8 persen tahun ini, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yang 1 persen. 

Pertumbuhan yang melambat ini juga diikuti dengan inflasi yang lebih rendah, dengan IMF memprediksi tekanan harga akan mencapai 2 persen pada paruh kedua tahun ini.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Konversi LPG Ke CNG Jangan Sampai Jadi "Luka Baru" Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:11

Apa Itu Love Scamming? Waspada Ciri-Cirinya

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:04

Rano Karno Ingin JIS Sekelas San Siro

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Geram Devisa Hasil Ekspor Sawit-Batu Bara Tak Disimpan di Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:42

KPK Didesak Tetapkan Tersangka Baru Kasus Korupsi DJKA

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:38

Ini Strategi OJK Jaga Bursa usai 18 Saham RI Dicoret MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:35

Cot Girek dan Ujian Menjaga Kepastian Hukum

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:27

Prabowo Bakal Renovasi 5 Ribu Puskesmas dari Duit Sitaan Satgas PKH

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:25

Prabowo Siapkan Satgas Deregulasi demi Pangkas Keruwetan Izin Usaha

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:11

Kementerian PU Bangun Akses Tol, Maksimalkan Konektivitas Kota Salatiga

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:02

Selengkapnya