Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Kurangi Ketergantungan pada AS, Indonesia Harus Perkuat Ekonomi Digital

MINGGU, 27 APRIL 2025 | 08:16 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pemerintah Indonesia perlu segera mengurangi ketergantungan terhadap pasar Amerika Serikat (AS) dan memperluas akses ekspor ke kawasan lain.

Hal ini disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Didik Mukrianto, menanggapi kritik AS yang mengeluhkan sistem Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) yang dinilai menghambat akses perusahaan Amerika ke ekosistem pembayaran digital Indonesia. 

Didik menjelaskan, kritik AS terhadap QRIS dan GPN muncul di tengah negosiasi tarif resiprokal. Hal ini menunjukkan adanya tekanan perdagangan.


"Maka dengan mengurangi ketergantungan pada pasar AS, Indonesia dapat memperkuat posisi tawar dalam negosiasi," kata Didik lewat akun X miliknya, Minggu 27 April 2025.

Di tengah memanasnya negosiasi tarif resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS), kritik Washington terhadap sistem pembayaran QRIS dan GPN dinilai sebagai bentuk tekanan perdagangan. Anggota Komisi III DPR RI, Didik Mukrianto, menilai kondisi ini sebagai momentum bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian ekonomi digitalnya.

"Kritik AS terhadap QRIS dan GPN muncul di tengah negosiasi tarif resiprokal. Ini menunjukkan ada tekanan perdagangan yang tidak bisa diabaikan," tegas Didik, Minggu (27/4).

Ia menyarankan pemerintah membuka lebih banyak pasar alternatif di Asia, seperti China, India, ASEAN, hingga Timur Tengah. Dengan demikian, tekanan tarif dari AS tidak akan berdampak besar terhadap stabilitas ekonomi nasional.

"Ketergantungan berlebih pada AS membuat Indonesia rentan terhadap tekanan politik," tegasnya.

Lebih lanjut, Didik mendorong optimalisasi kerja sama regional seperti ASEAN dan RCEP untuk memperluas interoperabilitas sistem pembayaran digital. Ia mencontohkan kerja sama QRIS dengan Singapura dan Thailand yang sudah mulai berjalan.

"Dengan memperkuat ekosistem domestik, mendiversifikasi pasar ekspor dan menggalang dukungan publik serta regional, Indonesia dapat menegaskan posisinya sebagai pemain utama dalam ekonomi digital global," pungkasnya.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya